Saham Melonjak, LM Stagnan, What Should We Do?

Per pagi ini, IHSG telah ada di posisi 4870, dimana posisi tertingginya sepanjang masa adalah 4900. IHSG mulai mendaki pada pertengahan Januari dan nyaris tidak pernah koreksi. Kata berita, yang menyebabkan indeks bertingkah seperti itu adalah derasnya dana asing yang masuk. Lagi-lagi asing.

Trader galau seperti saya ini, kalau turun panik, kalau naiknya drastis seperti ini juga bingung, hehehe. Soalnya kehabisan barang. Mau entri lagi sudah takut ketinggian dan tiba-tiba sudah di puncak, eeeh… jadi nyangkut deh walhasil. Untung saya masih hold satu saham yang naiknya mengikuti IHSG, baru saya jual tadi pagi karena dia kena trailling stop saya.

Paling tidak, saya sudah memutuskan untuk mengikuti sistem trading yang telah saya buat. Saya hanya memakai Moving Average, MACD, dan Stochastic. Yang masih saya pelajari gerak-geriknya adalah pemanfaatan garis support dan resistance, karena di sistem saya sekarang, saya belum punya strategi untuk exit untuk melindungi profit dan membatasi kerugian. Juga, menunggu sinyal crossing dari MACD itu perlu berminggu-minggu.

Intinya, kalau memutuskan trading, harus berani stop loss alias jual rugi.

Sampai hari ini, modal saya masih bertumbuh meskipun pelan-pelan. Saya belum berani menambah porsi modal setiap kali saya entri posisi. Belum berani lihat kerugian yang berlipat ganda.

Jadinya, modal saya sebagian besar dalam bentuk cash. Dengan sistem baru sekarang ini, saya tidak pernah memakai modal saya 100%. Saya tidak bisa menambah modal karena dengan modal yang sekarang ini saja, saya belum pernah kehabisan dana cash.

Jadi tabungan perencanaan keuangannya mau diarahkan kemana?

Sementara itu, LM alias emas batangan, performanya stagnan cenderung turun. Wajar, karena memang pasar modalnya sedang naik. Biasanya kalau pasar modalnya jelek, baru LM naik. Sempat kemarin LM menanjak ke harga yang sangat bagus sehingga saya sempat berpikir untuk menambah porsi investasi di LM, tetapi eh, ternyata turun lagi. Bahkan sekarang ke titik saya dulu beli LM ini. Ingat yah, harga beli dan harga jual LM itu berbeda. Begitu kita keluar dari toko emas, nilai LM kita sudah turun 10% sampai 15% (buy back price).

Jadi, what should we do? Tetap fokus ke tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing. Kalau biasa nabung LM ya diterusin koleksinya. Reksadananya juga diterusin. Meskipun saya trading, saya masih beli reksadana Panin Dana Maksima saya. Karena fund manager reksadana itu pasti lebih hebat daripada saya, performa saya sekarang sudah tidak bisa mengejar imbal hasil IHSG, kalah separuhnya. Cuma akhir-akhir ini saya lebih suka nabung dalam bentuk tabungan, karena sebentar lagi saya akan eksekusi banyak sekali tujuan keuangan, hehehe…

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

One thought

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *