Tidak untuk BSD

Setelah menghadapi berbagai macam variabel yang harus disinkronisasi, saya menyadari bahwa kita tidak bisa mendapatkan semua yang kita inginkan (hmm… serasa dejavu dengan kalimat ini). Harus ada salah satu faktor yang dikalahkan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Teori ekonomi klasik Adam Smith itu benar-benar tidak berlaku karena saya hanya punya sumber daya yang sangat terbatas.

Maka faktor pertama yang saya pertimbangkan adalah faktor lokasi dan akses ke kantor, karena kami berdua sama-sama bekerja.

Bumi Serpong Damai dan sekitarnya adalah faktor yang mendapat perhatian pertama. Lokasi ini populer gila di kalangan teman-teman kantor melihat semakin banyak teman-teman yang membeli rumah di sini. Kenaikan harga properti di sana juga melonjak dengan cepat meninggalkan lokasi-lokasi lainnya. Kepala Seksi saya sering dengan bangga bercerita kalau rumah yang ia beli lima tahun yang lalu di sekitar 400 jutaan sekarang bernilai 900 juta. Naik dua kali lipat lebih.

BSD memang telah berkembang menjadi kota mandiri. Selain dikembangkan oleh developer besar (BSDE — sahamnya termasuk watch list saya), semua fasilitas telah ada di sana. Fasilitas ekonomi (pasar, hypermarket), kesehatan, pendidikan, semuanya lengkap. Rumah di sana dijual laku seperti kacang goreng saja. Bagus buat investasi sekaligus tempat tinggal.

Kami akhirnya berdiskusi tentang biaya transportasi yang harus kami keluarkan kalau tinggal di sana. Biar bagaimanapun juga, secara jarak BSD itu jauh dari kantor. Moda sepeda motor tidak mungkin dipakai karena terlalu jauh dan jalan utamanya tidak lebar — pasti macet. Moda yang tersedia hanya KRL dan tol (mobil, feeder bus). Dihitung-hitung sehari bisa habis 50-70 ribu. It quite hurts for us. Sebulan bisa sejuta setengah sendiri buat transportasi. Bandingannya, saya sekarang cuma habis 120 ribu sebulan, hehehe…

Belum lagi KRL-nya yang sekarang sangat penuh. Kami berdua sama-sama tidak terlalu menyukai kondisi angkutan massal sekarang yang sangat-sangat padat. Lalu juga pertimbangan hidup jadi sangat tergantung dengan KRL. Harus pulang jam 4 sore. Naik mobil pribadi juga harus menghitung biaya tol dan bensinnya.

Bubble

Bukan Michael Buble ya, tapi gelembung. Sesungguhnya saya mengkhawatirkan akan terjadi bubble di BSD kalau melihat orang-orang Jakarta sekarang. Ini hanya kekhawatiran awam saja sih, gak ilmiah dan mungkin sekali saya salah. Sekarang orang cenderung melihat BSD sebagai lahan spekulasi (emang saham doang buat spekulasi?). Beli properti bukan untuk ditinggali tetapi didiamkan sambil berharap tahun depan harganya naik untuk dijual.

Menurut apa yang saya pelajari, kondisi bubble adalah ketika sebuah komoditas tidak digunakan sisi primer-nya, tetapi turunannya. Kasus subprime mortgage di Amerika adalah gelembung yang meletus karena orang tidak hutang properti untuk didiami tetapi untuk spekulasi.

Semua orang prinsipnya harga properti tidak mungkin turun. Saya setuju. Tetapi harga properti yang naik terlalu cepat dan tidak wajar akan menyebabkan bubble. Seperti gelembung sabun yang ditiup dan akhirnya pecah. Saya melihat ciri-ciri itu di BSD. Teman-teman saya sedang berencana patungan untuk beli tanah di BSD, dibangun rumah, lalu dijual. Kalkulasi mereka sangat optimistis sampai saya merasa bahwa saya ini investor yang benar-benar penakut tidak mau ambil risiko.

Gelembung ini tentu saja tidak akan terjadi kalau didukung infrastruktur dan fasilitas. Fundamentalnya akan kuat dan orang-orang semakin tertarik tinggal di sana. Harga yang tadinya terlalu mahal dan naik terlalu cepat akan menjadi sesuai — dan hukum ekonomi berlaku, dia akan melonjak naik lagi. Jadi saya pikir gelembung tidak akan terjadi di BSD. Hanya saja ciri-cirinya sudah mulai nampak.

Jadi dengan pertimbangan itu, dan apalagi kemudian si eneng juga sependapat bahwa sebaiknya kami tidak memilih BSD sebagai tempat tinggal, rasanya saya kok jadi mantep untuk mencoret BSD dari daftar lokasi, menyusul Bogor dan Bekasi.

*) nanti saya pasti merujuk ke sini kalau sudah pasti akan tinggal dimana, bisa jadi BSD hehehe…

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

10 thoughts

  1. Ayo mas galih…. Pindah ke bsd. Nggak usah khawatir krl padat. Percaya saja sama kai yg sedang berbenah. InsyaAllah akan semakin nyaman.

  2. Iya pak Galih, jangan ambil BSD. Nti menuh2in kereta yg aku tumpangi 😀 Becanda… 😀

    Kalo BSD terlalu jauh, udah nyoba cari di Bintaro?

    Kalo Bogor dan Bekasi sih sama aja, tergantung ma KRL juga. Malah lintas Bogor/Depok KRL-nya masih memegang rekor terpadat.

  3. iya yah, seru kalo denger cerita orang lagi cari rumah :p
    sininya seru, sononya pusing 😀
    semoga cepet dapet yang cucok dari berbagai hal yang dipertimbangkan, mas Galih. Ganbatte! 🙂

  4. bismillah semoga lekas dapat yang terbaik bro.

    tapi kalo menurutku, jelang pernikahan gini sebaiknya minimalisir pemicu stress (pengalaman pribadi, hunting rumah dan proses transaksinya itu sangat menguras emosi). kalo memang nyari rumah masih susah untuk saat ini, gimana kalo ngontrak dulu aja setahun dua tahun 🙂

  5. coba di depok sinih, masi bisa terjangkau pake angkot ataupun kendaraan pribadi kalo jam kantor bener2 diikutin dari jam 7-4 xD naek kereta juga cuman sejam kok dan kereta jam 6 dan 4:30 ga gitu padat kecuali kalo gangguan sinyal, hahaha..

    ato coba daerahnya mas aby deh, kebagusan – tj.barat dan sekitarnya. udara dan airnya masih bersiiihh dan harga juga gak gitu mahal..

  6. Main ke rumah deh, dearah tanah baru, nanti dianter keliling cari rumah. Masih banyak pohoin loh. Air bagus :). Akses ke kantor motor, angkot, busway, krl semuanya bisa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *