Tentang BUMI

Sepertinya akhir-akhir ini pelaku pasar pada heboh tentang BUMI (PT. Bumi Resources, Tbk) ya? Saham ini sebenarnya tidak pernah saya lihat sejak saya belum masuk pasar modal. Waktu itu, teman kantor yang seorang swing trader, Agung, acapkali menceritakan keanehan-keanehan saham ini.

Ada ungkapan umum yang saya patuhi: jauhi saham-saham keluarga Bakrie apapun yang terjadi, kecuali jika ARB jadi presiden, hehehe. Analisis fundamental saya di awal tahun 2013 ini juga mengindikasikan bahwa BUMI bukanlah perusahaan yang sehat. Indikator ROE yang rendah, cash flow negatif, cukup menakut-nakuti saya. Saya mungkin trader yang penakut karena tidak pernah mau keluar dari daftar LQ45 untuk trading, itupun juga setelah diseleksi khusus untuk saham-saham yang fundamentalnya sehat.

BUMI memang fenomena. Saham ini bergerak dalam rentang yang sangat lebar. Awal tahun 2011, awal-awal saya belajar saham, BUMI ada di titik tertingginya di 3600. Awal tahun 2012, BUMI bergerak di sekitar harga 2600. Investor apes yang masuk di harga 3600 akan merugi 30% (uang sejuta tinggal 700 ribu). Tapi okelah, trader akan menunggu support terkuat untuk masuk. Support itu ada di 1600 di sekitar bulan Mei 2012. Tapi lagi-lagi BUMI longsor ke 1200. Puncaknya, bulan puasa 2012 kemarin saya masih ingat, harga BUMI jatuh ke titik terendah di harga sekitar 600 dan kemudian bergerak sideways.

Saya tidak bisa membayangkan seorang investor sejati yang menyisihkan gajinya untuk dollar cost averaging setiap bulan. Atau trader yang masuk di 3600. Ia sudah merugi 80% (uang 100 juta tinggal 20 juta).

Hari Selasa pagi yang lalu (kalau tidak salah), saya diberi tahu teman untuk membeli saham BUMI. Saham BUMI bergerak naik dan nampaknya orang-orang juga ramai-ramai membelinya. Tapi saya ini orangnya penakut. Saya takut saya sudah terlambat masuk. Saya tidak sempat melakukan analisis teknikal karena minggu ini saya disibukkan oleh pekerjaan. Tapi saya lihat sekilas, indikator-indikator yang biasa saya pakai untuk masuk (saya belum punya indikator buat keluar hahaha), tidak menunjukkan konfirmasi. Ya sudah, saya harus mematuhi aturan yang saya buat sendiri. Saya tidak menyesal kalau BUMI meloncat naik karena kegiatan trading sebenarnya adalah membuat sebuah sistem, kapan masuk, hold, dan kapan keluar.

Harga penutupan minggu ini ada di 910, saya akan ada di posisi merugi jika saya masuk hari Selasa lalu. Apakah analisis saya benar? Tidak ada yang bisa menebak arah pasar selanjutnya. Bisa saja ini hanya sebuah koreksi untuk melanjutkan kenaikan. Tetapi harap diingat, disana Stochastic sudah ada di area jenuh beli (overbought). Dan kalau melihat berita, nampaknya tidak akan ada perubahan secara fundamental dalam waktu dekat ini. Jadi saya memilih tetap jauhi saham BUMI. Masih ada beberapa saham yang ada dalam tren naik dan berfundamental bagus. Atau beli reksadana saja yang aman dan nyaman, hehehe…

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 thoughts

    1. Pemain di pasar uang atau pasar modal sering menunjukkan perilaku yang tidak rasional. kalau diperhatikan mereka terjangkit oleh gejala “harapan yang berlebih atau panik yang berlebih” yang kedua2nya baik harapan maupun kepanikan yang ditunjukkan tidak rasional -alan greenspan masbro-

  1. Bumi?

    Perusahaannya Bakrie pakai strategi ekspansi pakai hutang besar2an. Bumi juga gonjang-ganjing diperebutkan sama Rotschild. Banyak ketidakpastian di Bakrie.

    Tunggu ARB jadi presiden baru beli saham2 Bakrie. Etapi, kalau Bakrie jadi presiden saya berharap tidak tinggal di Indo. :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *