Kenapa Harus Propietary?

Saya bukan orang yang suka mendikotomikan sebuah solusi IT, khususnya apakah itu propietary ataukah open source. Saya cukup heran dengan orang-orang yang fanatik terhadap suatu produk, apakah itu open source, Microsoft, ataukah Apple. Saya lebih suka membandingkan mana yang lebih sesuai dengan kebutuhan.

Dari komentar Cak Dion di sini, saya baru tahu kalau ITS mengadopsi Google Appliances dan memigrasi layanan email dari yang awalnya menggunakan infrastruktur sendiri menjadi berbasis GMail. Meskipun kemudian saya mengetahui bahwa orang yang memasang aplikasi ini adalah orang yang sama dengan yang merintis infrastruktur internet di bawah bendera ITSnet (noc.its.ac.id).

Saya menulis ini karena rasa sense of belonging saya dengan ITS. Saya dibesarkan di sana dan mendapat kesempatan belajar sebentar di ITSnet kepada orang yang saya ceritakan di paragraf sebelumnya. Jadi saya merasa perlu mengutarakan pendapat saya.

Saya agak menyesalkan dan tidak mengerti keputusan ITS mengadopsi Google Appliances. Ini teknologi propietary. Ini bukan masalah gratis atau membayar. Ini adalah tentang kebebasan bereksplorasi dan bereksperimen.

Dalam pemikiran saya, sebuah lembaga pendidikan seharusnya memberikan ruang seluas-luasnya untuk bereksplorasi teknologi karena memang disitulah tempat belajar. Dan saya melihat itu hanya bisa ditawarkan oleh teknologi yang open source. Terbuka. Tidak tergantung suatu vendor.

Dengan Linux yang open, kita bisa belajar bagaimana sebuah sistem operasi bekerja, bagaimana cara sistem operasi berkomunikasi dengan hardware, menyemaikan proses, membuat thread, dsb. Ini tidak mungkin terlihat di Windows dan Mac. Dengan Squid kita bisa belajar cara kerja proxy server. Bagaimana pengaturan koneksi dan manajemen bandwidth. Ini lagi-lagi tidak akan terlihat di Microsoft ISA server. Dengan Zimbra (atau Postfix atau Qmail) kita bisa belajar bagaimana cara email bekerja dengan protokol SMTP, IMAP, dan POP3. Kita bisa mengkonfigurasi sambil berkeringat untuk membuatnya bekerja dengan baik. Ini tak bisa terlihat di Microsoft Exchange Server, atau bahkan yang berbasis layanan seperti GMail.

ITSnet adalah divisi di bawah Puskom ITS yang bertanggung jawab terhadap semua infrastruktur teknologi informasi di ITS. Mulai memasang kabel jaringan sampai aplikasi-aplikasi di atasnya — termasuk website, email server, internet service, dll. Saya bisa mengerti bahwa memberikan layanan terbaik adalah sebuah keharusan. Tapi tetap saja ini bukan perusahaan, ini adalah lembaga pendidikan yang sebaiknya tetap memberikan ruang bagi mahasiswa-mahasiswanya untuk magang dan belajar praktik di sini. Apa yang bisa dipelajari kalau teknologinya propietary semua? Sedikit kembut-kembut dan kadang-kadang putus masih bisa ditolerir lah. Cincai lah…

Saya tidak tahu apakah mahasiswa sekarang sudah sedemikian malasnya bereksperimen di lab ataukah memang kurikulum yang telah berubah. Mungkin anak-anak S1 sekarang diarahkan langsung untuk menjadi sistem analis kali ya?

Tetapi memang di zaman sekarang susah sekali mencari lulusan IT yang benar-benar jago teknologi — entah programming ataupun infrastruktur. Sertifikasi-sertifikasi yang ada sekarang sudah gampang dicurangi sehingga sekarang tidak terjamin orang yang certified adalah orang yang mumpuni di bidangnya. Saya, di industri IT, kebanjiran sarjana-sarjana komputer, tetapi kita sangat kekurangan tenaga-tenaga yang benar-benar mengerti apa yang dimaksud oleh bidang keilmuannya.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 thoughts

  1. Kapan ya ITS bisa menghasilkan sistem yang diadopsi seluruh dunia, seperti BIND (dan sistem DNS yang lain) itu? :d

    Rasanya makin jauh ketika hal ‘mudah’ seperti layanan webmail ini saya dialihkan ke pihak lain 🙂

  2. Pak Galih,

    Sepertinya memang anak2 lulusan S1 pengen segera petantang-petenteng menyandang titel System Analyst. Semula saya nggak ngeh juga dengan fenomena ini. Saya baru tahu dari rekan sampeyan, pak Glenn, yang bercerita sulitnya cari programmer baru karena semua pengen jadi SA 😀

    SA tanpa kemampuan coding? Hmm… ibaratnya jenderal yang nggak bisa nembak.

  3. Dulu cuma bisa membayangkan gimana rasanya melakukan suatu kerjaan yang sangat tidak kusuka tapi harus kulakukan. Kerjaan yang ini cukup ngasih wawasan baru. Bukan sekedar enggak suka, tapi setiap kali aku ngerancang + koding, rasanya sakit hati. Selalu terasa bahwa setiap kode yang saya ketik adalah kaki-kaki yang menginjak kepalaku (mau nulis harga diri kok ya ndak tega).

    Pelajaran ini buatku cukup berharga. Jadi ngerti gimana rasanya melawan idealisme yang dulu kubangun sekuat tenaga. Jadi bener-bener paham gimana rasanya bermusuhan dengan diri sendiri.

  4. Kalo orang kita itu maunya “yang enak” dampak banyak. Ya itu sistem analis, dosen dosen pengajar dan lainya “mungkin” ngasih tau analis itu paling enak, ngebossy dan lainya.

    Karna aku bukan orang ITS, jadi ga tau soal gmail gmailan, tapi kalo ngeliat dari situasinya, mungkin:

    1. Gak punya resource siapa yang mau urus, kalo dipaksa ke opensos juga malah berantakan
    2. Gada ada yang mau take ownershit 🙂 (karna kerja opensos bikin puyeng)

    Soo, bener, Malas dan mau Enak udah mengakar di dalam budaya…. Gak cuman di Indonesia aja kok, disini juga gitu hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *