Sejauh Mana Kita Bisa Bergantung Pada Layanan Gratis?

Saat ini kita banyak sekali menggunakan layanan gratis di internet. Paling tidak saya sendiri menggunakan GMail sebagai email pribadi saya. Saya memakai Facebook menyimpan foto-foto baik dari yang saya upload sendiri maupun yang ditag oleh teman-teman. Twitter untuk berkicau dan membaca berita. Flickr untuk sharing (baca: pamer) foto.

Tetapi saat ini bisnis dotcom sudah berdarah-darah. Saling mencaplok untuk dimatikan adalah hal yang lumrah. Kita tentu ingat layanan lokal Koprol yang begitu populer yang kemudian diakuisisi Yahoo! untuk dimatikan. Kemudian Multiply yang menutup layanan blog-nya agar fokus ke e-commerce. SalingSilang dan semua jaringan layanannya tak mampu bertahan lama. Blog yang saya suka, Dagdigdug juga ikut ditutup. Dan yang terbaru tentu saja adalah layanan blog Posterous, yang saya pernah upload beberapa foto di sana dan lalu menyukai cara memposting artikel, yaitu melalui email dan attachment-nya.

Jadi, seberapa jauh kita bisa bergantung dengan layanan-layanan gratis ini? How long can we rely on?

Friendster adalah kejadian pertama yang berakibat langsung ke saya. Tahun 2003 ketika layanan ini sangat populer, siapa yang mengira kalau dia akan mati begitu cepat waktu Facebook muncul? Saya masih ingat kami di lab berebut komputer untuk membuka Friendster dan saling menulis testimonial (atau puja puji ke teman dan berharap dia menulis balik testimonial yang bagus juga).

Ketika muncul kabar Friendster akan ditutup (atau dihapus datanya dan diganti model game yang menggelikan), saya kira itu hanya hoax. Kabar serupa sudah sering muncul melalui pesan-pesan berantai waktu Friendster masih menjadi Top 100 Private Company. Ketika muncul kabar yang sesungguhnya, saya masih berpikir itu hoax dan mengabaikannya. Waktu saya iseng membuka web itu, semua data sudah hilang dan saya tidak sempat memindahkannya.

Kita tidak akan pernah tahu sampai berapa lama Facebook dan GMail akan bertahan. Layanan lokal ternyata lebih tidak reliable daripada raksasa-raksasa yang sudah eksis bertahun-tahun. Jadi saya memilih untuk dicap tidak nasionalis daripada tak ada jaminan layanan itu akan bertahan.

Karena itu saya memilih untuk meng-host sendiri blog saya, dan menyimpan foto di fotoblog saya daripada melakukan hot link ke Flickr. Mungkin secara eksposure akan lebih rendah karena saya harus merintis dari awal — belum banyak orang yang datang berkunjung. Tapi saya merasa ini lebih aman selama saya masih punya sumber daya untuk menghidupi dan merawat website ini.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

7 thoughts

  1. wah iya ternyata, malah baru tahu kalo dagdigdug ditutup, eman-eman sak jane, tapi kalo dari itung2an bisnis gak menguntungkan ya mau gimana lagi..

    nah kekhawatiran gmail kukut itu kayaknya masih jauh bro, tapi jika itu terjadi maka kampus kita ITS tecinta yang baru saja pindah ke gmail.its.ac.id tentu akan nangis gerung-gerung..

  2. Belajar dari pengalaman sih sebenernya ya kalo blog baiknya pake hosting sendiri biar kesimpen rapi dan terarsip dengan baik. Lumayan untuk mengingat banyak kenangan manis dan pahit *uhuk*.

    Tapi, biasanya kalo udah mau tutup mereka pake woro-woro agar bisa diimport gitu deh kan ya 😀

  3. Pingback: Jurnalnya Nike

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *