Perburuan Rumah Dimulai

Kemarin saya mengunjungi pameran properti di Jakarta Convention Center. Ini dalam rangka mempersiapkan keluarga baru nanti, insya Allah. Punya rumah adalah hal yang paling saya tunda-tunda karena meskipun secara finansial ini adalah hutang yang sehat, tapi pada dasarnya saya tidak suka punya hutang, apalagi long term debt begini, hehehe… But I know a new day will soon come, jadi saya harus mempersiapkan diri lahir batin untuk next step in my life ini (kenapa jadi keminggris gini yak?)

Kami berdua sepakat bahwa kami mencoret apartemen dari daftar dengan berbagai pertimbangan. Secara feng shui kurang bagus (halah — suwasana imlek). Rumah kecil yang nyaman adalah impian kami.

Baiklah, dari sekian banyak brosur yang ada (berat sekali pokoknya), belum ada yang nyanthol di hati. Andai ini soal multiple linear regression analysis, ada banyak sekali variabel yang harus disinkronisasi. Jenis hunian, lokasi, harga, akses, luas tanah-bangunan, cluster atau tidak, dan masih banyak lagi.

Kebanyakan perumahan sekarang sistemnya cluster ya? Alias ga punya pagar. Ini sebenarnya saya kurang suka karena privasinya agak kurang. Bukan apa-apa, kalau misalnya tetangga punya gukguk dia kan bisa loncat-loncat. Atau kalau saya lagi pengen ote-ote di depan rumah, hehehe…

Masalah akses ke kantor juga. Memilih rumah berarti harus mau tinggal di pinggiran kota karena di DKI Jakarta harganya sudah eM-eM-an. Juga pertimbangan udara yang relatif sedikit lebih segar kalau tinggal di pinggiran kota. Masalahnya pergi ke kantornya mau jam berapa, pulang juga jam berapa. Mulai memusingkan.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

11 thoughts

  1. Kirain bakal panjang postingannya. Terakhirnya masih nggantung, HARUS to be continue ini #lho

    Aku juga suka liat pameran2 perumahan, walau belum ada wacana beli, hihihi. Suamiku mana suamiku?!?!

    Ps: ote-ote di belakang aja mas, di ruang jemuran :p

  2. Yang selalu mahal adalah rumah tapi harus dimulai. Kadang dengan berdarah-darah. Mayoritas orang begitu. Ada sih yang beruntung, misalnya teman saya. Waktu dia nikah, seorang konglomerat raja properti waktu itu cuma ngasih kunci. Ternyata bukan cuma kunci karena ada rumahnya beneran.
    Tapi biarpun duit cukup, saya percaya bahwa rumah itu soal jodoh. Bahkan nyari indekos aja juga menyangkut jodoh.

  3. waduh bener bro, beli rumah itu termasuk pembelian terbesar sepanjang hidup, harus dipikir masak-masak. dan bener bagi kebanyakan orang bisa ‘berdarah-darah’ alias habis-habisan, seperti kata om tyo itu

    orang yang jual rumah yang akhirnya saya beli ini aja duitnya cuman cukup buat DP beli rumah di jakarta situ, dan cicilannya aja masih 7,5jt per bulan selama 10 tahun. wowowo..

    semoga lekas nemu bro. pengalaman saya keliling saban hari di perumahan-perumahan selama 3 bulan lebih baru nemu yang cocok. kalo jalan-jalan ke pameran sih sudah berkali2 selama beberapa tahun dan ndak nemu yang cocok.

    saran saya: tentukan orientasi lokasinya. habis gitu jalan-jalan langsung ke perumahan-perumahan yang ada, kadang ada yang dijual, meski gak via developer tetap bisa KPR kok kalo nilai appraisalnya pantas (eh maap, bukan menganggap bro galsat ndak kuat beli cash, tapi lihat keywordnya long term debt sepertinya mengarah ke KPR)

    good luck!

    *nulis komen sambil ote-ote di depan rumah, ditemani dogi tetangga -dari luar pagar- yang suka ‘patroli’ malam*

  4. Hahaha dados pengusaha tho mas nduth..khn saget fully time for sweety wife hihihihi….
    Selamat berjuang mas…klo sdh pnya awas kalap renovasi
    Btw…foto mbaknya manaaaa????? *penasaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *