Bye-Bye BlackBerry

Saya tidak sempat berpamitan kepada kawan-kawan BlackBerry Messenger saya, hanya saja di status terakhir BBM saya sebutkan nomor WhatsApp saya. Saya juga masih available di Yahoo! Messenger. Saya akhirnya memang undur diri dari BB setelah sekian lama kecewa dengan handset ini (bahwa BB 10 yang dijanjikan itu terlalu lama untuk datang), dan bahwa layanan BIS juga semakin menurun. Meskipun ada beberapa kontak penting yang ada di BBM, tapi kebanyakan itu urusan kerjaan. Nomor kantor kan tidak memfasilitasi saya dengan BBM (even dengan paketnya pun, even itu saya bilang biarlah itu dipotongkan ke gaji saya saja).

Kembali ke dua atau tiga tahun yang lalu, waktu saya merasa sudah saatnya upgrade dari Nokia N95. Nokia N95 ini adalah hadiah dari acara lomba blog yang spesialnya diberikan oleh begawan blog Indonesia, inspirasi saya juga, yaitu Paman Tyo (Antyo Rentjoko). Sayang sekali N95 itu kemudian hilang dicuri.

Hasil diskusi dengan teman-teman dekat, Stenly dan Kevin (hai bro!), saya memutuskan bahwa BB sebenarnya bukanlah smartphone yang bagus. Saat itu pun sudah kalah jauh dengan Android dan HTC. Saya mengesampingkan iPhone karena terlalu mahal buat kantong saya. Tetapi satu hal yang menjadi kekuatan BlackBerry adalah komunitasnya. Waktu itu BB sudah menjadi smartphone sejuta umat metropolitan. Saya malah menjadi anti sosial. Saya sedang memulai perkuliahan S2 dan merasa nggak nyambung dengan mayoritas teman-teman baru yang bercanda sendiri melalui BB Group.

Pada akhirnya, saya memutuskan membeli BlackBerry Bold 9700 (Onyx) yang waktu itu harganya 4,6 juta.

BB memang mengambil momentum yang tepat. Ketika koneksi internet mobile belum terlalu memadai untuk smartphone Android dan iPhone yang haus koneksi, BB adalah pilihan yang masuk akal, apalagi melalui BIS yang lebih kencang dari paket internet biasa (Telkomsel BIS jauh lebih cepat daripada Telkomsel Flash).

Sayang, perkembangan koneksi internet sangat pesat, harga paket internet semakin masuk akal. Sementara RIM di luar negeri sono sudah mulai ditinggalkan karena lambat berinovasi. Harga sahamnya meluncur turun. Satu-satunya pasar yang setia adalah pasar Indonesia. Eh, sudah setia begitu, RIM malah bikin pabriknya di Malaysia. Indonesia hanya dianggap sebagai pasar yang menggiurkan. Bukan untuk investasi. Suka tidak suka begitulah adanya.

Akhirnya BB saya bentuk fisiknya sudah menyedihkan, bocel-bocel sana sini karena sering jatuh. Intinya sih sudah saatnya upgrade. Saya kembali berpikir untuk membeli gadget apa sambil menabung. Di saat krusial, RIM malah mengumumkan pengunduran jadwal rilis BlackBerry 10 itu. Saya berpikir mungkin saya akan memilih BlackBerry Dakota.

Lagi-lagi, masak mahal-mahal cuma bisa BBM sama Twitter doang? Dibeliin Samsung Galaxy juga sudah oke punya itu. Hal yang lucu waktu saya di ATM, saya lupa nomor rekening yang mau saya transfer. Adanya di web. Jadi saya buka browser untuk melihatnya. Lamaaa sekali muter-muter. Kebetulan saya bawa tablet juga, jadi saya buka web itu pake tablet. Tiga detik sudah keluar. Lucu sekaligus ironis, karena saya pakai paket BIS Telkomsel dan Telkomsel Flash untuk tablet-nya.

Satu-satunya hal yang masih menahan saya adalah karena saya berkomunikasi dengan calon isteri pakai BBM. Eh lhakok, pada suatu kesempatan dia bilang mau pindah dari BlackBerry juga — pucuk dicinta ulam tiba. Dengan semangat saya mendukung, soalnya saya juga punya kepentingan, hehehe…

Jadi demikianlah, waktu hari rilis BlackBerry 10, saya membaca beritanya dengan smartphone yang lain sambil tersenyum. It’s too late RIM, paling tidak buat saya. Saya tahu BB saat ini masih populer dan susah untuk move-on dari BBM karena kebanyakan orang beli paket BB Gaul yang cuma bisa BBM (Whatsapp tidak termasuk). Tapi semakin sering saya lihat orang kini punya dua smartphone, satunya BB yang khusus hanya untuk BBM-an, dan satunya lagi yang benar-benar smartphone, entah Android, iPhone, Samsung Galaxy, Nokia Lumia, atau smartphone yang lain. Saya sih memilih untuk undur diri dari BBM, nanti kalau ada anggaran lebih, mungkin nanti sesekali menghidupkan BB.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

7 thoughts

  1. Februari 2012 aku akhirnya menjatuhkah talak 1 kod BB yg sdh lbh dr sering membuatku kesal dgn BM-BMnya dan sgala drama di BBM. aku sdh sempet berpamitan dgn teman2 di BBM sejak sebulan sbelumnya krn emg sdh direncanakan mau beli Android. eh sebulan setelah BB kutinggalkan (tp blom sempet dijual & transfer data) mati pulak dia….ga mau nyala lagi.

  2. trus sekarang gantinya pake apa mas?

    sebagai orang awam dan pake Telkomsel Flash untuk modem (dicolok ke laptop), kenapa sih harga paketnya terus merangkak naik? yang lain masih sekitar 45-50rb an/bulan, Flash sudah 60rb/bln untuk bulan pertama, selanjutnya 100rb/bulan untuk bulan2 berikutnya.
    kalo lagi untung ada promo, nih saya pake yang paket 100rb/3bulan (itupun gak selalu ada).

    lha, kok malah tanyanya ke mas Galih? haha piss

  3. Saya sepakat, BB muncul pada saat yang tepat. Dulu, awal 2008, untuk memakai BB saya dipinjami oleh seorang kawan untuk memcobanya. Saat itu saya masih pakai SE Symbian yang menyedot pulsa. Ternyata BB lebih sakti, kompresi bagus, dan… nyaman buat texting. Maka esoknya saya menerima telepon, silakan mengambil BB di alamat anu. Saya tak perlu membayar, bahkan langganan bulanan yang saat itu masih Rp 300.000 juga bukan saya yang membayar.

    Pada 2010 saya mendapatkan BB Onyx 9700, gratis, dari seorang teman. Saya disuruh memilih, menolak pemberian atau putus pertemanan. 🙂 Pada April 2012, MacBook Pro 15″ saya (memori sudah saya upgrade), BB, dan ponsel diambil maling. Saya gak pake BB lagi. Tapi sekarang saya masih menganggap untuk email dan texting BB itu unggul. Dari sisi konsumsi baterai juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *