Mengenal Cloud Computing

Saya pertama kali mendengar kata “computing” waktu di kampus dimana ada empat laboratorium bidang minat, yaitu Lab Rekayasa Perangkat Lunak (Software Engineering), Lab Arsitektur dan Jaringan Komputer, dan Lab Sistem Bisnis Cerdas (Intelligence Business System), dan Lab Komputing. Kebanyakan mahasiswa akan mengambil bidang minat perangkat lunak dan sistem bisnis cerdas. Sementara lab yang agak mendapatkan peminat adalah lab komputing dan jaringan komputer. Belakangan ketika saya mau lulus, Lab Komputing mengubah namanya menjadi Cloud Computing Lab.

Apa yang ada di benak saya tentang cloud computing adalah hal yang canggih-canggih seperti parallel computing. Contohnya, sebuah operasi komputasi yang memerlukan tenaga super komputer seperti operasi memecah enkripsi password. Ingat buku Dan Brown yang berjudul Digital Fortress? Mereka mempunyai super komputer yang sanggup memecah enkripsi password dengan metode tebak-tebak manggis (brute force). Parallel computing adalah metode untuk membagi tugas komputasi itu ke setiap komputer yang bergabung dalam satu jaringan, atau cloud. Jadi jika setiap komputer di Jakarta saja bergabung dalam sebuah cloud dan mengerjakan tugas komputasi bersama-sama, kita bisa memiliki super komputer yang setara dengan milik NSA dibukunya Dan Brown.

Dalam perkembangannya, teknologi cloud hadir dengan lebih tepat guna ke khalayak ramai, yaitu cloud service. Ini adalah layanan berbasis cloud (halah). Maksudnya, pengguna mendapatkan apa yang dibutuhkan tanpa harus menyiapkan infrastruktur hardware dan software. Hanya koneksi internet dan aplikasi client sederhana semacam browser sudah cukup.

Contoh satu. Layanan penyimpanan awan (cloud storage). Contoh yang populer adalah DropBox dan iCloud. Dengan layanan ini, kita tidak perlu menyewa hosting sendiri, cukup register dan bayar sewanya (kebanyakan provider memberikan gratis untuk ukuran di bawah 2 GB). Dengan cloud storage, setiap alat yang terhubung entah laptop, tablet, handphone akan mensinkronisasi secara otomatis melalui sambungan internet. Lebih praktis.

Contoh dua. Layanan software cloud. Contohnya Google Documents, Google Apps, Office 360, dan beberapa software yang dilisensikan dengan model begini. Jadi berbeda dengan software kebanyakan yang beli lisensi (atau bajakan) lalu di-install di PC lokal, metode ini software nya ada di tempat si penyedia layanan dan kita menggunakannya melalui browser dan internet. Dalam beberapa kondisi skema ini lebih murah dan kita lagi-lagi tidak perlu menyediakan hardware dan harus membeli software-nya untuk diinstall di laptop.

Contoh tiga. Server farm cloud. Ini mungkin mirip layanan Virtual Private Server (VPS). Saya pernah melihat layanan ini kalau ga salah VMWare. Jadi kita menyewa satu space virtual machine, kemudian kita konfigurasi, install sistem operasi, dan semacamnya. Keuntungannya, infrastruktur hardware server yang mahal tidak perlu dimiliki. Lagi-lagi cukup koneksi internet yang kencang.

Beberapa vendor lokal seperti Telkom sudah mulai mengimplementasikan layanan cloud ini. Beberapa waktu yang lalu saya juga didatangi sales dari Google untuk memperkenalkan Google Appliances. Tapi saya rasa, perkembangan cloud di Indonesia akan seiring dengan berkembangnya kecepatan internet kita. Tanpa komponen yang satu ini, sulit rasanya cloud akan berkembang di sini. Orang masih akan lebih memilih membangun infrastruktur sendiri yang lebih stabil dan mudah diakses. Untuk kebutuhan personal apalagi, selama software bajakan masih mudah didapat, layanan cloud akan sulit tumbuh.

Layanan cloud yang paling dekat dan sudah berkembang sepertinya adalah cloud storage. Saya semakin sering menemui kawan-kawan yang memiliki folder bernama DropBox di folder mereka. Apalagi bagi pengguna device Apple, mereka mau tidak mau suka tidak suka harus menggunakan layanan iCloud sebagai sarana penyimpanan file yang paling praktis.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

4 thoughts

  1. “Saya semakin sering menemui kawan-kawan yang memiliki folder bernama DropBox di folder mereka”

    wowowow… jadi bro galsat punya akses ke folder kawan-kawannya?

    bicara cloud computing, kadang sering terjadi salah persepsi, kan ada tuh linux komersial bernama cloudlinux, ndak dianggapnya dengan pake cloudlinux maka sudah punya cloud computing :d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *