Hay Day: Belajar Manajemen Resource

20130124-033537.jpg

Gara-gara diperkenalkan oleh @princessendah, saya sedang keranjingan game yang bernama Hay Day. Game berkebun mirip Farmville yang dulu pernah populer di Facebook. Bedanya game ini berjalan di atas platform iOS, meskipun nampaknya juga tersedia di Google Play untuk Android. Saya memang menyukai game yang santai, tidak perlu terburu-buru, dan tidak banyak mikir. Astika sampai terheran-heran ketika saya sehari dan semalaman menekuni game ini. Well, saya juga bisa suka nge-game kok hehehe…

Tapi lambat laun, pikiran usil saya tidak bisa dibohongi kalau game simulasi semacam ini bukan hanya sekedar game. Menyenangkan memang melihat padi jagung yang siap dipanen, memeriksa apakah pakan untuk hewan peliharaan cukup, mengambil telur dan memerah susu, dan menjualnya ke pasar. Tapi mau tidak mau ini mengingatkan saya tentang resource management.

Apa itu? Yaitu tentang bagaimana mengoptimalisasi produksi sehingga bisa melayani permintaan pasar. Saya memiliki sawah yang terbatas, gudang yang terbatas, hewan-hewan yang juga terbatas. Sementara permintaan pasar bermacam-macam mulai dari bahan mentah hasil kebun dan ternak hingga makanan olahan yang dihasilkan oleh pabrik kecil saya. Bagaimana mengatur semuanya supaya efisien? Bagaimana melayani pesanan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya?

Tentu saja saya bisa saja membuat semua produk sebelum ada pesanan dan menyimpannya di gudang (barn). Masalahnya kapasitas gudang saya juga terbatas sehingga bisa-bisa saya menyetok produk yang salah yang tidak pernah dipesan sehingga membusuk di gudang. Sementara saya juga tidak bisa memproduksi barang yang benar-benar dipesan. Nah, bermain-main dengan berbagai macam variabel ini yang membuat game ini menjadi menyenangkan. Saya jadi ingat konsep-konsep manajemen operasi — just in time inventory, bullwhip effect, dan sebagainya. Banyak strategi yang bisa diterapkan, apalagi dalam hal ini saya benar-benar tidak bisa memprediksi permintaan pasar — atau tidak sempat menganalisanya, sehingga diasumsikan demand benar-benar acak.

Buset…. Nge-game gitu aja dibikin serius betul… Hahahaha….

Maafkan saya yang emang aneh dan ga normal ini. Sekali lagi, Kamas Muhammad benar, saya itu aneh dan ga normal.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 thoughts

  1. wah, kebetulan ane ndak suka segala macam game, kecuali “manuk nesu” dan itupun cuman sebulanan

    tapi kalo game seperti ini bisa mengasah kepekaan dalam resources management, tentunya bagus buat dimainkan anak-anak Teknik Industri 🙂

  2. Hihi aku gak maen game2an, kecuali jaman dulu waktu lagi nge-hits game house macam Zuma, dinner dash, bejewelled, dsb. Pokoknya yang gampang2 dan cupu lah 😀

    Tapi cowok hobi games juga keren kok mas, asal gak berlebihan aja. Semua yg berlebihan kan gak baik, hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *