Besar Sebagai Negara Konsumen

Saya baru baca ulasan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan di majalah The Jakarta Post yang merilis edisi khusus bertajuk Outlook 2013. Bukannya sok keren atau gimana ya, tapi emang jadi inpestor galau di pasar modal itu musti tahu sedikit paling tidak Indonesia ini mau dibawa kemana (ceileeh…).

Banyak hal positif dari perekonomian Indonesia saat ini, beberapa di antaranya adalah:

  1. Indonesia adalah salah satu negara tujuan investor. Runtuhnya Amerika dan krisis Eropa membuat aliran uang menuju ke negara-negara timur seperti Cina dan India, dan tentu saja Indonesia. IHSG yang baru saja mencatat rekor tertingginya sepanjang masa di awal tahun 2013 menandakan hal itu.
  2. Indonesia adalah negara anggota G-20, atau 20 negara yang memiliki angka pertumbuhan terbesar. Saat ini Indonesia ada di urutan ke-15. Diproyeksikan tahun 2020 Indonesia akan masuk ke sepuluh besar negara G-20.
  3. Secara demografi, Indonesia saat ini didominasi oleh usia-usia produktif, dan semakin meningkatnya golongan ekonomi kelas menengah. Ini adalah saat-saat emas untuk bertumbuh pesat bagi sebuah negara.

20130112-131932.jpg

20130112-131949.jpg

Negara kita memang bertumbuh pesat luar biasa di saat Amerika dan Eropa berjuang menyelesaikan krisis. Seperti ditunjukkan di grafik, di tahun 2011, Indonesia adalah negara importir terbesar ke-28 dunia. Sekaligus, Indonesia adalah negara eksportir terbesar ke-26 dunia. Tetapi seperti yang dikutip Pak Menteri, komponen utama faktor pertumbuhan ini adalah faktor konsumsi. Saya pernah membahas tentang cara menghitung Growth di artikel ini.

Indonesia adalah pasar yang sangat menggiurkan bagi produsen-produsen dunia karena jumlah penduduknya yang besar dan kemampuan konsumsinya yang terus meningkat. Baru-baru ini Lion Air dicatatkan sebagai pembeli terbesar pesawat-pesawat Boeing. Atau contoh yang lebih dekat, dua ribu keping iPhone 5 yang dijual Telkomsel, XL, dan Indosat secara bundling ludes bak kacang goreng saja. Ini adalah barang tersier yang bahkan teknologi LTE-nya belum ada provider yang bisa menyediakan. Hehehe, saya tulis ini soalnya saya termasuk yang nggak kebagian :mrgreen:

Dan kita membelinya dengan masih saja menjual sumber daya alam yang melimpah ruah…

Research and Development memang tidak pernah diperhatikan dan dihargai oleh bangsa ini. Bagi yang nonton film Habibie & Ainun, tentu sangat trenyuh melihat adegan Pak Habibie dengan putus asa memutar baling-baling pesawat N-250 Gatotkaca yang mangkrak berdebu di hangar PT. DI. Dan berapa banyak murid-murid beliau yang sekarang menjadi manajer di Boeing dan perusahaan-perusahaan pesawat di dunia.

Saya, lebih tertarik bekerja di perusahaan multinasional daripada meneruskan riset S1 saya dulu di bidang information retrieval. Membantu para investor asing ini mengeruk kekayaan minyak dan gas. Saya orang yang realistis, saya tidak idealis.

Di bidang teknologi informasi pun, Indonesia adalah pasar. Waktu saya kuliah, tahun 2002 hingga 2006 adalah masa-masa dimana software house lokal berkembang. Mereka mengembangkan framework sendiri, dan memiliki produk lokal yang bisa dibanggakan. Saya dulu pernah bercita-cita bekerja di software house sebagai programmer, dan meniti karier hingga menjadi senior specialist layaknya James Gosling si pembuat Java. Senior technicalist yang bergaji lebih besar daripada manajer.

Sayang teknologi lokal ini kalah bersaing dengan produk luar. Tentu saja, karena memang tidak ada kesempatan untuk melakukan R & D. Sementara gap antara kampus yang diharapkan menjadi pusat R & D dengan industri terlalu lebar. Seorang fresh graduate tidak akan bisa langsung dipakai di industri. Bahkan sekarang para lulusan S1 itu pengennya langsung menjadi sistem analis atau bahkan project manager. Tidak ada yang ingin jadi programmer handal.

Industri IT mungkin adalah industri yang kompetisinya global tanpa proteksi sedikit pun dari pemerintah (jangankan proteksi, HaKI aja masih gagap). Solusi lokal untuk ERP buatan software house lokal kalah bersaing dengan Oracle eBusiness Suites dan SAP. Satu per satu software house itu rontok. Ada joke terkenal di kalangan kami para programmer, kalau kerja di software house itu gajinya kecil kerjanya kayak kerja rodi. Mungkin ada benarnya karena kompetisi antar software house pun juga berdarah-darah. Mereka yang bertahan biasanya beralih menjadi implementor software-software paket dari Oracle dan Microsoft. Daripada bikin software sendiri, lebih enak memakai software terkenal yang sudah ada, lalu mengimplementasikannya ke user sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Sayang sekali. Indonesia adalah negara besar dengan potensi alamnya yang luar biasa. Kita sebenarnya bisa hidup sendiri tanpa harus tergantung dengan negara lain. Entahlah.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 thoughts

  1. Sekolah bisa mendidik ribuan programmer handal, tapi sekolah tidak akan pernah bisa mencetak mental “tidak takut gagal” atau mental “jadi boss untuk diri sendiri”.

    Itu menjelaskan kenapa lebih banyak lulusan Indonesia yang sudi menjual produk-produk bikinan Microsoft ketimbang menjual software bikinannya sendiri. Tuntutan keluarga dan lingkungan memaksa mereka untuk cepat dapet gaji banyak (bukan menghasilkan penghasilan pasif yang banyak). Lebih baik hari ini kaya karena digaji orang lain daripada nunggu kaya 10 tahun lagi setelah 10 tahun bikin usaha sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *