#nextchapter

Alhamdulillah, pada tanggal 23 Desember 2012, hari Minggu kemarin, saya dan keluarga secara resmi melamar calon isteri saya, Astika. Ayah, ibu, pakde, bude, om, dan tante datang dari Tulungagung naik kereta api Malabar. Kereta yang dijadwalkan tiba di Stasiun Bandung pukul 06:49 itu datang terlambat hingga nyaris dua jam. Kakak kandung saya, Mas Dennis, malah datang sekeluarga dari Madiun dengan bermobil. Sementara Om Khairul naik mobil dari Cibubur.

Acaranya sendiri berjalan dengan suasana santai, sederhana, namun khidmat. Kang Uje yang saya kenal sejak ia masih bekerja di Vico (siapa sangka ia akan jadi sepupu saya?) yang menjadi MC. Pakde saya mewakili Ayah dan keluarga besar dari Tulungagung yang secara resmi mengutarakan maksud kedatangan dan tentu saja melamarkan keponakannya.

Alhamdulillah, lamaran saya diterima dengan baik, hehehe…

Alhamdulillah juga, ayah dan ibu yang selama ini hanya melihat profil calon mantu dari Facebook bisa berkenalan langsung dan secara eksplisit menyatakan restunya ke saya secara pribadi. It’s such a gift. Secara keseluruhan, kami dari keluarga Tulungagung sangat berterima kasih atas sambutan yang begitu ramah dari pihak keluarga Bandung. Hal-hal yang awalnya saya khawatirkan (seperti misalnya kesalahpahaman begitu) tidak terjadi dan semua berjalan dengan lancar.

Terlalu Cepat?

Beberapa teman menganggap acara lamaran ini terlalu cepat karena memang saya dan Astika masih pacaran sekitar empat bulan saja. Beneran sudah yakin? Masih euforia pacaran jadi belum ketahuan gimana-gimananya, dsb. Begitu kurang lebih pertanyaan para komentator sepakbola.

Kalau saya sendiri berpikirnya buat apa berlama-lama pacaran? Masya Allah godaannya banyak sekali kalau boleh jujur. Saya memang berniat untuk mencari isteri, bukan pacar. Kebetulan kok yang diajak cepet-cepet juga bervisi sama, jadi tunggu apalagi, masing-masing sudah siap, restu orang tua pun didapat.

Saya adalah orang yang menganut paham bahwa pacaran tidak bisa membuka kepribadian asli pasangan. Pacaran lama pun tidak menjamin akan berlanjut ke jenjang pernikahan. Lima atau enam pacaran dan berujung ke putus, what a such wasting time. Bahkan menurut ustadz, tiga bulan adalah masa terlama untuk taaruf, selanjutnya menikah atau stop sampai di situ. Tentu saja saya tidak sebaik itu.

Semoga ini adalah selangkah maju untuk menuju hari yang kami idam-idamkan. Insya Allah. Amin…

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

11 thoughts

  1. Alhamdulillah… Rasanya turut bahagia sekali mendengar kabar ini, walau saya belum pernah ketemu/ mengenal langsung mas Galih secara offline, walau pernah sama2 kuliah di Surabaya πŸ™‚
    Semoga langkah selanjutnya dimudahkan, dilancarkan, niat baiknya tercapai tahun ini. ???????? ??? ????? ?????????????? ???????? ?

  2. alhamdulillahirobbil’alamin..

    saya termasuk yang gembira mendapat kabar ini. semoga selanjut-selanjutnya lancar jaya bro..

    keputusan yang sangat tepat, kalo bisa dipercepat kenapa diperlambat, ya kan?

    dan memang benar, saya juga begitu, yang saya nikahi pada akhirnya yang paling cepat pacarannya. yang pacaran 5 tahun, 4 tahun, 3 tahun justru berakhir tragis hahaha…

  3. Selamat mas, akhirnya sang melankolis ini mendapatkan cintanya.

    Tapi tetap bikin puisi ya mas..hahaha. satu lagi yang terpenting tetap bikin tulisan mas.

    Salam’

    Sukses selalu,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *