Mengurus Paspor di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan

Saya tahu judul ini sudah banyak yang nulis karena saya juga mendapatkan informasi dari blog sebelum berangkat mengurus paspor sendiri. Tapi saya rasa apa yang akan saya share ini sedikit banyak akan bermanfaat untuk tambahan informasi di dunia belantara teks ini.

Well, latar belakangnya salah satunya adalah ketidaksiapan saya berangkat kalau ada kesempatan training di luar negeri. Atasan saya sudah mendorong-dorong untuk segera bikin paspor. Saya minta ke teman saya kontak orang yang bisa menguruskan paspor dengan tinggal datang dan foto saja, dan saya dikasih harga Rp. 700 ribu. Saya bertanya ke biro perjalanan, mereka memberi harga Rp. 1,250 ribu. Terlalu mahal buat saya. Saya baca-baca informasi di Google memang riuh rendah dan simpang siur, ada yang menulis keluhan, ada yang ketidakpuasan, ada yang ngomel-ngomel, ada yang bilang cepat, dan sebagainya. Namanya juga belantara teks. Saya berpikir usil kenapa tidak mencoba mengurus sendiri saja? Seribet apapun nanti saya ingin dapat pengalamannya. Seperti dulu waktu saya ngurus surat tilang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Saya mulai dengan menyiapkan dokumentasi yang diperlukan. Dokumen yang diperlukan adalah KTP. Alamat KTP saya masih di Tulungagung karena belum punya KTP Jakarta. Kemudian Kartu Keluarga asli. Saya minta Ayah mengirimkan kartu KK asli melalui pos. Lalu berikutnya adalah ijazah asli. Saya menggunakan ijazah S2 saya karena ijazah-ijazah pendidikan sebelumnya yang asli ada di rumah semua. Ada tulisan yang bilang kalau ijazah yang harus dibawa adalah ijazah sejak SD, tapi saya nekat saja hanya memasukkan berkas ijazah terakhir — dan ternyata bisa. Terakhir adalah surat sponsor. Saya meminta HRD untuk membuatkan surat sponsor yang ditandatangani oleh HR Manager yang menerangkan bahwa yang bersangkutan akan berpergian ke luar negeri.

Langkah berikutnya adalah menuju ke web imigrasi di http://www.imigrasi.go.id. Di situ ada menu aplikasi permohonan paspor. Secara teknis, aplikasi ini kurang ramah pengguna karena berada di port 8080, port standar web server Java. Seharusnya webmaster mengubahnya dulu ke port 80. Akibatnya saya tidak bisa mengaksesnya dengan internet kantor. Aplikasinya sendiri cukup jelas, ada petunjuk penggunaan yang sangat jelas. Semua berkas saya scan dalam file hitam putih dan diresize sehingga ukurannya dibawah 300 KB. Pilih tanggal kapan datang ke kantor Imigrasi yang mana. Setelah selesai, kita akan mendapatkan nomor tanda terima permohonan paspor dalam bentuk PDF. Cetak file ini untuk dibawa pada hari yang telah kita pilih.

Tips: Pada hari yang ditentukan, datanglah sepagi mungkin, bila perlu jam 6 pagi sudah sampai sana. Lokasi pelayanan permohonan paspor di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan ada di lantai dua. Di sini, sudah memakai sistem antrian elektronik yang sudah bagus. Jadi sepagi mungkin, berdirilah di depan mesin pencetak nomor antrian meskipun komputer itu belum menyala dan belum ada orangnya.

Saya datang terlambat sebenarnya, sampai di sana sudah pukul 07:10 di hari Jumat. Orang yang mengantri sudah mengekor dan suasananya sudah ramai. Saya mendapatkan antrian nomor A010 setelah menunjukkan cetakan PDF tanda terima itu.

Setelah itu datang ke koperasi untuk membeli map. Saya tidak tahu apakah map ini aslinya bayar atau tidak. Kemudian fotokopi semua berkas dokumen, lalu isi formulir pendaftarannya. Sebenarnya ini adalah untuk permohonan manual. Tapi supaya mengantisipasi keanehan-keanehan birokrasi, saya isi saja dengan tinta hitam (kalau selain hitam akan ditolak, entah kenapa).  Setelah semua beres, duduk manis di depan loket untuk menunggu antrian.

Pukul delapan layanan dibuka dengan pembukaan yang cukup dramatis. Antrian saya sampai sekitar pukul 08:30 di loket 4. Di sana semua berkas diperiksa, termasuk berkas asli dan fotokopinya. Sampai di sini tidak ada masalah, semua lolos. Kemudian saya diminta mbaknya untuk melanjutkan ke proses ke pembayaran. Ini keuntungan menggunakan jalur online, proses bisa dilakukan pada hari itu juga.

Nah di sini saya pikir ada gap dalam hal operasi (atau saya yang tidak mengantisipasi) yang bisa dijadikan bahan perbaikan. Sampai di sini saya harus ambil nomor antrian lagi untuk membayar. Ketika saya datang ke mesin antrian, saya mendapatkan nomor C147. Kalau mungkin bisa mengakali, mungkin bisa pas pagi-pagi ambil nomor antrian dua sekaligus, nomor A dan nomor C. Sehingga bisa langsung membayar dan diproses untuk foto dan wawancara. Hari itu laju pelayanan loket C sangat lambat. Pukul 09:15, nomor antrian masih ada di C033. Saya memutuskan untuk kembali ke kantor. Perkiraan saya saya dilayani sekitar pukul tiga sore sehingga rencananya saya setengah tiga akan kembali ke Imigrasi lagi.

Masalahnya sore harinya hujan, hehehe…

Saya baru bisa melanjutkan proses hari ini. Hari Senin kemarin cuti bersama, dan kemarin ada meeting sejak pagi. Saya sebenarnya agak khawatir apakah saya bisa lanjut apa tidak karena saya di loket A kemarin tidak mendapat tanda terima. Jangan-jangan hilang, hehe…

Saya datang mruput jam 06:25 sudah sampai di sana. Ajaib, mesin antrian yang masih mati dan belum ada penjaganya itu sudah ditunggui sekitar lima orang. Bapak yang ada di depan sendiri katanya datang jam enam pagi. Setelah berdiri sampai sekitar jam tujuh, mesin antrian dihidupkan. Saya mendapatkan nomor C009. Yang bikin saya tambah was-was, oleh bapak yang di situ saya disuruh datang lagi ke loket A karena berkasnya dimasukkan kemarin (saya bilang kemarin, tidak bilang sepekan yang lalu, hehe). Untung pas datang ke loket A, tidak ada hal khusus yang perlu dilakukan, saya diminta langsung ke loket C waktu nomor antrian tiba.

Sekitar pukul 08:15 saya dilayani. Saya dimintai KTP dan alhamdulillah ga lama kemudian si mbaknya minta duit sebesar Rp. 260 ribu. Dia tidak harus cari-cari berkas lagi. Artinya sistem online nya memang sudah dipakai. Great job. Di situ saya diberi tanda terima kuitansi dan PMI. Oh iya, selain dari depan secara resmi, si mbak kasir juga melayani pembayaran dari pintu belakang yang diantar langsung oleh orang dalam. Saya lihat di situ ada nomor antrian puluhan yang sudah dilayani, padahal resminya masih di angka 10-an.

Setelah itu saya datang ke tempat foto dan wawancara. Nah, di sini yang saya rasa sengaja tetap diberikan ruang untuk calo tetap bisa bermain. Panggilan masuk ke ruang foto masih menggunakan nomor antrian. Di dalam ada cukup banyak bilik-bilik foto dan wawancara. Setelah kita masuk ke dalam ruangan itu, ada antrian lagi. Nah, di sini dipanggil manual langsung satu per satu, tidak memakai nomor antrian lagi. Jadi tidak kelihatan siapa yang lewat depan atau lewat belakang. Sementara layar monitor yang menunjukkan nomor antrian yang sedang dilayani tidak dijalankan.

Bukan hal yang terlalu mengganggu sebenarnya karena proses foto dan wawancara pun juga cepat. Sekitar pukul 08:30 saya dipanggil untuk foto dan cap sepuluh jari. Semuanya melalui komputer. Kemudian sekitar pukul 08:40 saya dipanggil untuk wawancara. Saya ditanya sudah berapa tahun di Jakarta dan kenapa tidak punya KTP Jakarta. Saya jawab karena saya di Jakarta belum menetap (lha belum punya rumah begini). Setelah itu saya diminta tanda tangan buku paspor dan semua proses selesai. Saya diminta mengambil paspor tanggal 4 Januari 2013 (mungkin karena ada kegiatan tutup buku sehingga agak lebih lama).

Pukul 08:55 saya keluar kantor imigrasi dengan lega dan puas telah mendapatkan pengalaman baru. Saya pikir ini sudah lompatan luar biasa bagi Kanim yang berkultur birokrasi dan sedang berusaha mengubah ke model kantor pelayanan. Dan saya rasa sudah tidak relevan lagi buat kita untuk menggunakan jasa calo karena proses permohonan bisa dilakukan sehari penuh. Kecuali kalau ada calo yang menawarkan hari itu juga paspor bisa dibawa pulang.

Pukul 09:30 saya sudah di kantor kembali untuk mengikuti rapat yang sudah berjalan setengah jam. Saya mringis saja ketika disindir atasan saya karena bolos sebentar pagi hari ini, hehehe…

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

17 thoughts

  1. Terima kasih sudah share pengalaman, bisa buat acuan mengurus paspor. o, ya, sudah pakai e-ktp kah? saya juga ingin buat paspor, tapi belum punya e-ktp (kendala jumlah cuti), jadinya takut ditolak gara-gara masih pakai ktp biasa walau masih berlaku.

    1. Mbak Maya, KTP daerah saya masih belum e-ktp dan ternyata juga diproses dengan lancar. Cuma hambatannya kemarin Kartu Keluarga ternyata tidak ditandatangani dan itu disuruh untuk ditandatangani dulu sebelum mengambil paspor.

  2. Mas Galih, numpang tanya.
    Untuk nomor antrian C, apakah satu lantai dengan nomor antrian A?
    Apakah keduanya di lantai dasar?
    Terima kasih sebelumnya.

  3. Mas, pas ngambil paspornya mash pk nomer antrian ga? Klo ga pk, males jg dtng pagi2 hihihi soal ane kebagian nomer c134. Thanks advance.

    1. Mba Vie, kalau ngambil paspor antrinya manual, berkasnya ditaruh dan ditumpuk di kotak kecil di loket pengambilan paspor. Tapi lumayan cepet kalau mau ambil. Bisa juga pakai kurir dengan surat kuasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *