Peraturan Lalu Lintas yang Tidak Konsisten

Saya pikir salah satu biang kerok penyumbang ruwetnya lalu lintas Jakarta adalah ke-tidak-konsisten-an peraturan lalu lintas. Maksudnya pelaksanaannya itu, kadang iya kadang nggak, pak polisi tidak tegas dan punya standar ganda.

Misalnya tanda dilarang putar balik nih. Di perempatan 7-Eleven Mampang, kalau kita dari arah Rasuna Said, di situ terpampang jelas tanda dilarang putar balik. Tapi sepertinya jadi konvensi umum kalau di perempatan ini boleh putar balik. Mobil-mobil biasa melenggang putar balik dengan tenang meskipun ada pak polisi yang sedang jaga di perempatan itu. Lhawong dibiarin saja. Kalau motor sih triknya beda lagi. Kita belok dulu di pom bensin, lalu keluar pintu samping pom yang tembus di jalan satunya lagi. Di situ tunggu lampu hijau untuk belok kanan.

Di perempatan Kuningan beda lagi. Ini khusus berlaku bagi kami para pengendara sepeda motor. Dari jalan Rasuna Said kalau kita mau belok kanan ke jalan Gatot Subroto, cara yang halal adalah sebelum sampai perempatan, kita harus masuk jalur cepat untuk putar balik, kemudian masuk ke jalan Denpasar. Di situ tembus jalan Gatot Subroto lalu putar balik di bawah kolong perempatan Kuningan. Tapi cara ini ribet dan biasanya di jalan Denpasar macet gila.

Maka cara yang praktis adalah, lanjutin sampai perempatan kuningan, sok-sok mau jalan lurus, tapi pas sampai ruas jalan yang menuju jalan Gatot Subroto berhenti. Mundurin motor sedikit dan atur sedemikian rupa hingga jadi barisan terdepan di lampu merah yang menuju Gatot Subroto. Ini adalah cara belok kanan yang praktis dan sederhana, hehehe…

Di jam-jam sibuk, biasanya pak polisi akan mendiamkan saja, apalagi jika peserta dan pengikut cara ini banyak. Tapi ada juga yang strict yang mengusir pemotor untuk terus jalan lurus, apalagi buat belok kiri buat antri lampu merah di belakang. Dan yang paling kejam adalah pak polisi yang memberhentikan pemotor yang pakai cara ini dan menilangnya — biasanya si pemotor ini sendirian. Saya pernah diberhentikan begitu karena tidak ada temannya.

Jadi sekarang saya kalau melalui rambu-rambu yang tidak konsisten begini, atau lewat di tempat yang saya belum tahu kebiasaannya, saya nunggu teman dulu. Kalau ada yang melakukan, saya ngikut di belakangnya. Jangan sekali-sekali melanggar rambu-rambu sendirian karena kalau pas apes bisa benar-benar ditilang.

Sekian tips and trik bermotor di Jakarta, hehehe… ^_^

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 thoughts

  1. Weh.. Pas itu aku ditilang krn ngikut “teman” mas, kan di bekasi banyak tuh perempatan yg lampu ijo-nya bareng2, jd kendaraan yg berlawanan arah berani2an lewatnya..
    Nah, biasanya sih aku ambil jalan lain yg lbh civilized yah, tp krn bukan rush hour sekali2 lwt situ.. Pas mobil2 dpnku lanjut aku ngikut, sama2 menerjang keruwetan dr arah berlawanan, eh lha kok aku tok sing apes..
    Jd mungkin bisa ditambahkan tipsnya, carilah teman yg baik dlm hidup ini, jaman skrng banyak teman menjerumuskan 😀

  2. bhuakakaka… saya kalo ke mbungur naik motor, juga suka nyelonong potong kanan, padahal aslinya ndak bole. tapi karena banyak jamaahnya akhirnya slamet semua meski di depan ada polisi nyegat.

  3. Hahaha sama kayak mas Budiono, cara paling cepat ke Bungur adalah motong jalan ke kanan. Tp aku sekarang lebih suka puter balik dikit, langsung ambil belok kiri, nanti tembus di dalem Bungurnya.
    Di perempatan Kebun Bibit (Ngagel) juga kalo mau belok kanan, pura2 ke kiri dulu, trus cari posisi yg pas utk langsung lurus.
    Kelakuan pengendara ini yaaa… #ngomongsamakaca :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *