Tools Ada, Implementasi Nanti Dulu

Tadi sore kami kedatangan tamu dari Microsoft dalam rangka technology update mengenai Microsoft Sharepoint 2013. Kami memang sedang melakukan riset dan evaluasi untuk melakukan upgrade sistem yang saat ini menggunakan MS Sharepoint 2007. Saat ini yang sudah hadir ke kantor adalah Microsoft, Alfresco, dan Liferay.

Melihat perkembangan teknologi Sharepoint, saya antara terkesan dan tidak terkesan. Terkesan karena rupanya telah terjadi lompatan yang sangat berarti jika dibandingkan dengan Sharepoint 2007 (sebenarnya lompatannya terjadi di teknologi Sharepoint 2007 ke 2010). Tidak terkesan karena Sharepoint hanya mengumpulkan apa yang sedang tren di internet dan membungkusnya dalam satu platform.

Apa saja jualan Microsoft tentang Sharepoint 2013 ini? Kolaborasi dalam lingkungan kerja. Sharepoint mengadopsi gaya Facebook (bahkan tampilannya selain kotak khas Windows 8 juga sangat mirip dengan Facebook). Ada follow-follow-an seperti Twitter, juga ada content sharing. Ada berbagi tugas (tasks), project, dan kolaborasi dokumen Office yang terintegrasi dengan Cloud. Nah nah, bukankah apa yang saya sebutkan adalah buzzword internet jaman sekarang?

Tentu saja sangat menyenangkan jika memiliki portal yang bisa memfasilitasi kolaborasi semacam itu dimana portal menjadi sebuah Knowledge Management. Saya yakin teknologi portal semacam Sharepoint ini bisa mewujudkan sebuah sistem yang baik. Sayangnya ada pekerjaan yang jauh lebih berat daripada sekadar memasang software: yaitu membuat kultur!

Saya pikir budaya kolaborasi, apalagi melalui sebuah sistem portal digital, masih jauh panggang dari api. Pada dasarnya kita orang kan tidak memiliki budaya membaca apalagi budaya menulis. Berbagi di portal, mengajukan pertanyaan, membantu menjawab sesuai dengan kompetensi, menulis pengetahuan di blog korporat, bukanlah kebiasaan kita. Menyimpan pengetahuan untuk diri sendiri masih dijadikan sebagai alat untuk meningkatkan posisi tawar di mata perusahaan. Ada kekhawatiran yang umum berkembang, ketika pengetahuan itu dishare sehingga banyak orang yang tahu, kekhususan dari orang tersebut menjadi hilang sehingga ia mudah diganti — sama dengan job security yang berkurang.

Ini menjadi tantangan klasik bagi setiap perusahaan yang berusaha mengembangkan sistem manajemen pengetahuan. Mengubah tacit knowledge menjadi explicit knowledge bukan pekerjaan yang gampang. Ini adalah usaha memindahkan pengetahuan yang tersembunyi di setiap otak-otak para karyawan yang ahli di bidangnya menjadi pengetahuan yang dimiliki oleh perusahaan.

Kembali ke Sharepoint, mungkin jika saya tidak pernah mendapatkan kuliah Knowledge Management, saya sudah langsung tertarik untuk mengimplementasikan semua fitur-fitur Sharepoint 2013 yang sangat “ngehits” ini di project portal upgrade nanti. Dan seperti project-project yang hanya meng-upgrade teknologi tanpa upgrade proses bisnis dan budaya penggunanya, teknologi yang bagus itu hanya akan ditinggalkan dan semakin dibenci karena sama sekali dirasa tidak memberikan nilai tambah bagi para penggunanya.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *