Menyikapi Kenaikan Pendapatan

Saya terinspirasi dari postingan Daniel tentang efek berantai kenaikan upah buruh. Saya ingin menyoroti dari sisi keuangannya. Saya adalah orang yang termasuk tidak percaya bahwa kenaikan pendapatan adalah satu-satunya cara untuk menaikkan taraf hidup. Makanya saya santai saja walaupun saya sering dicela bahwa gaji saya yang paling rendah di satu tim. Nope, gaji lebih besar bukan berarti hasil akhir jadi lebih kaya.

Kembali ke kasus buruh. Ambil contoh upah awal buruh pabrik adalah 1,5 juta. Dengan upah segini ia cukup berat menghidupi keluarga, bahkan tidak cukup. Kemudian, ia dan teman-temannya menuntut kenaikan upah menjadi 2,2 juta. Kenaikan ini sebesar 46%. Secara persentase sangat tinggi.

Apa yang akan terjadi? Si buruh bersuka cita karena kenaikan itu akan menutupi defisitnya selama ini. Faktor 46% akan memberikan dampak psikologis berupa delusi bahwa si buruh telah naik taraf hidupnya, so ia berhak menempati strata yang sedikit lebih tinggi. Ada saat itu mungkin ia sudah mengambil kredit ini itu karena ada margin 700 ribu…

Padahal tak lama kemudian roda ekonomi mulai bergerak mencari titik ekuilibrium. Harga-harga kebutuhan naik, inflasi bertambah, insentif dari pabrik dikurangi. Ujung-ujungnya, 2,2 juta tidak cukup lagi. Dan begitu seterusnya…

Delusi setelah kenaikan gaji ini saya yakini pasti ada di setiap pekerja. Tergoda untuk hidup dengan lifestyle yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Bagi pekerja kelas menengah, margin pendapatan pasca kenaikan gaji tentu sangat menggoda. Kalau saya selalu berpikir gadget apa yang akan saya beli? Mall selalu memanggil-manggil. Film terbaru, makan di restoran mahal, fashion, jalan-jalan, dan seterusnya. Sikap permisif untuk menaikkan lifestyle selama sebulan dua bulan pertama rawan untuk jadi keterusan. Pokoknya, margin kenaikan itu sangat menggoda dan sayang kalau mau dimasukkan ke komponen surplus dan ditabung. Dimana penghargaan atas kerja keras selama ini?

Mengejar lifestyle tidak akan ada batasnya. Pendapatan berapapun akan kurang. Dua juta, sepuluh juta, dua puluh juta. Habis. Perlu kedewasaan dan kematangan dalam pengelolaan keuangan sehingga kenaikan gaji bisa disikapi dengan positif. Apa sikap yang positif itu?

Selesaikan dulu hutang-hutang konsumtif. Hutang konsumtif itu tanda seseorang hidup di atas batas kemampuan gajinya. Selesaikan juga hutang ke teman. Jangan sampai dicap sebagai pengemplang hutang dan mencederai kepercayaannya. Kepercayaan itu ibarat nila dan susu sebelanga. Setelah itu, restrukturisasi hutang jangka panjang. Cukupi dana darurat. Kapan saja kita bisa dipecat lho, contoh yang paling baru adalah kasus dibubarkannya BPMIGAS, tempat bekerja yang menurut saya tingkat kepastian masa depannya (job security) sangat terjamin.

Setelah itu bergeraklah ke pengeluaran rutin bulanan. Adakah pos yang membuat gaji selalu rawan defisit? Perbesar anggaran di titik itu. Tetap pertahankan efisiensi anggaran bulanan. Perbesar tabungan dan investasi jangka panjang. Apa itu, bisa investasi duniawi, bisa juga investasi akhirat dalam bentuk bantuan sosial. Porsinya sesuaikan dengan kepantasan diri masing-masing. Kata banyak motivator sih, sedekah itu memancing datangnya rezeki yang lebih besar dari Allah SWT. Saya percaya meskipun belum bisa ekstrim. Yang saya tahu sih, Allah selalu mengganti dengan balasan yang berlipat ganda. Kontan. Cash. Kadang-kadang jumlahnya pas betul. Keajaiban sedekah, kata ustadz Yusuf Mansur.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

7 comments

  1. Bener banget nih. Jd inget pernah baca buku apa gitu: Siapa bilang org yg punya rumah n mobil mewah,kemana2 mentereng,itu bebas hutang? Justru hutangnya makin besar drpd orang yg hidup biasa saja”.
    Not all of them,tp bener juga aku rasa. Lifestyle.

  2. Mengejar lifestyle tidak akan ada batasnya. Pendapatan berapapun akan kurang. Dua juta, sepuluh juta, dua puluh juta. Habis. Perlu kedewasaan dan kematangan dalam pengelolaan keuangan sehingga kenaikan gaji bisa disikapi dengan positif.

    >> BENER BANGET…. +100 deh! Andai bs hidup dengan lifestyle as if gaji 1 juta, disaat gaji benernya udah naik menjadi 2 juta…. Pasti rekening tabungan kita bs bersorak-sorai riang gembira menerima lbh banyak nominal rupiah yg bs ditabung. Kelebihan 1 juta bs untuk bayar hutang or ngelunasi cicilan instead of buat nambah cicilan baru (sementara yg lain blom lunas). Naik gaji bukannya bs nabung dan sedekah makin banyak, eh tetep aja living from paycheck to paycheck tryin to make ends meet. #curcol

  3. Kenaikan pendapatan, buat saya, adalah kesempatan dari Tuhan untuk menabung untuk naik haji..kesempatan untuk mempercepat waktunya punya rumah sendiri..kesempatan untuk menambah kas buat menyekolahkan anak.
    Bukan untuk foya-foya. Kecuali jika dengan membeli gadget paling anyar itu bisa memberi kita jalan untuk cari info mengenai paket naik haji, paket kredit beli rumah, atau info mengenai sekolah yang paling pas buat anak-anak..

  4. Bahasanya bahasa birokrat banget: Menyikapi. :))

    Paling mudah sih nabung/invest autodebet dan diset presentase dari gaji.

    Kalau gaji naik 10% otomatis tabungan naik 10%.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *