Tentang Employment History dan Job Experience

Saya baru saja mengunjungi akun Linked-in saya dan sempat melihat-lihat profil karier dari beberapa teman. Linked-in mungkin adalah social media yang paling valid datanya dibandingkan dengan social media lain seperti Facebook dan Twitter karena ini adalah media untuk jualan para profesional. Saya sendiri begitu, saya memasukkan background pendidikan dengan lengkap, kompetensi saya, dan sejarah saya dipekerjakan (employment history).

Soal rekam jejak pekerjaan ini sebenarnya bagus mana ya, loncat-loncat dari satu perusahaan ke perusahaan lain atau diam di satu tempat saja? Saya adalah pekerja yang diam di satu tempat. Sejak lulus sampai sekarang, saya menetap di satu tempat kerja dan membangun karir dengan cermat: junior programmer hingga sampai posisi sekarang. Akibat buruk dari model ini adalah saya dianggap tidak dinamis dan tidak memiliki ambisi, cepat puas, tidak mempunyai keinginan untuk maju. Waktu saya wawancara di HESS, perusahaan minyak yang punya blok di lepas pantai Gresik, saya ditanya dengan cukup sinis, “Five years?? What were you doing there for so long time??”

Sebaliknya, punya terlalu banyak rekam jejak di banyak perusahaan akan mengesankan kita adalah kutu loncat yang oportunis. Saya pikir tidak ada orang yang suka dengan tipe pekerja kutu loncat. Membuat seseorang nge-blend dengan lingkungan pekerjaan itu memerlukan waktu dan tenaga. Siapa yang tidak jengkel ketika sudah capek-capek mentransfer pengetahuan lalu dengan gampangnya loncat ke perusahaan lain ketika ada tawaran yang lebih baik.

Waktu saya ke Medan kemarin, saya bertemu dan berkenalan dengan kang Aris, seorang Geologist dari Conoco Phillips. Dia angkatan 1991, jauh lebih senior dari saya. Dia bercerita sudah hampir semua model bisnis migas pernah dialami: minyak, gas, panas bumi, oil and gas services, onshore, offshore, dan beberapa model reservoar yang tidak saya pahami.

Ada quote yang menarik dari beliau waktu kami mau berpisah di bandara Polonia, Medan. Pekerja yang menetap sama pekerja yang loncat-loncat itu hasil akhirnya sama — beda tipis. Pekerja yang menetap secara gaji bulanan tidak akan terlalu cepat naiknya, tetapi ia bisa mendapatkan pesangon yang besar. Sedangkan pekerja yang loncat cenderung sulit punya tabungan, tetapi ia dapat dari kenaikan gaji yang cepat karena loncat-loncat-nya itu.

Mana yang lebih disukai tentu masing-masing orang berbeda. Saya lebih mengutamakan passion dan lingkungan dalam menimbang-nimbang menetap atau memutuskan untuk mencari peluang baru. Ketika saya selalu mendapatkan tantangan dan passion dalam pekerjaan saya, dan lingkungan teman-teman yang hangat: saya akan cenderung menetap. Dan minggu depan di tanggal 1 Desember, saya akan merayakan enam tahun saya menjadi karyawan, dengan catatan masih di perusahaan yang sama.

What the hell i was doing here??? It’s not about money. It’s all about passion and challenge.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 comments

  1. alhamdulillah, 6 tahun bukan waktu yang sedikit, artinya sudah mencapai karir yang jauh lebih tinggi secara posisi sekaligus pendapatan, dibandingkan awal masuk dulu

    bekerja 6 tahun di perusahaan energi, sudah waktunya membangun kesenangan bersama istri dan anak-anak 🙂

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *