Horas Medan!

Minggu lalu (3-4 November 2012), saya pergi ke Medan ikut rombongan komunitas Geotrek Indonesia, sebuah komunitas travelling yang membawa tema-tema Geologi dalam setiap kegiatannya. Saya diajak kak Nunung, seorang Petroleum Engineer-nya Conoco Phillips. Saya cukup tertarik melihat bidang saya yang sangat jauh dari Geologi, sehingga saya anggap perjalanan ini semacam kuliah Geology for non Geologist.

Tema yang dibawa pada sesi ini adalah Melacak Letusan Mega Kolosal 74.000 Tahun yang Lalu yang membentuk Danau Toba, kaldera atau danau vulkanis terbesar di dunia. Selain peserta mayoritas adalah para Geologist beberapa perusahaan minyak di Indonesia, ada seorang Geologist senior dari BP Migas yang berperan sebagai interpreter, yaitu Bapak Awang H. Satyana.

Saya berangkat dari Jakarta dengan pesawat Citilink pukul 17:20. Selepas menyelesaikan ujian sertifikasi CEH, saya langsung cabut ke bandara. Sampai di bandara Polonia Medan sekitar pukul delapan malam, di sana kami langsung dijemput oleh bus 3/4 yang langsung mengantarkan kami ke hotel di Berastagi. Nama hotelnya apa ya, kalau nggak salah Sibayak International Cottage. Di sana saya sekamar dan berkenalan dengan Pak Dodi, seorang pegawai perusahaan minyak Thailand.

Pagi hari setelah sarapan, maka kuliah Geologi pun dimulai. Ditemani pagi yang basah karena hujan semalam, halaman hotel memperlihatkan pemandangan Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak. Di sana Pak Awang menjelaskan sejarah Sinabung dan Sibayak (dari kacamata Geologi tentunya), dan memaparkan bahwa potensi energi panas bumi Indonesia adalah tiga kali lipat potensi energi migas kita. Gunung Sibayak adalah salah satu gunung yang hasil energi panas buminya telah diproduksi menjadi pembangkit listrik.

Tujuan berikutnya adalah air terjun tertinggi di Indonesia, air terjun Sipiso Piso. Di sini selain menikmati air terjun, kita disajikan pemandangan danau toba dari atas. Sekilas seperti mangkok raksasa yang menyilaukan mata. Di sini kuliah kedua dimulai, yaitu mengenai sejarah terbentuknya danau Toba. Beberapa istilah tidak saya pahami, tapi para Geologist itu nampaknya sangat antusias. Baiklah, saya lebih berkonsentrasi dengan kamera saya saja.

Di Sipiso Piso hanya sebentar, paling hanya 20 menit saja, rombongan melanjutkan perjalanan ke Sumbul menyusuri patahan (sesar) Bukit Barisan yang merupakan controller dari gunung api di sepanjang pulau Sumatera. Menyaksikan patahan geologi dari dekat begini mengingatkan saya pada ayat-ayat Al-Qur’an, bahwa proses penciptaan bumi itu dihamparkan dan digelar. Subhanallah.

Kami makan siang di dasar lembah patahan ini. Judul warungnya adalah “Rumah Makan Islam/Muslim” begitu. Di sini memang sejauh mata memandang adalah menara gereja, dan yang paling banyak saya lihat adalah HKBP (Huria Kristen Batak Protestan). Kami terus menyusuri sesar Sumatera ini dan masuk ke Pulau Samosir melalui sisi Pangururan, sisi yang memiliki batas paling dekat antara Samosir dan Sumatera. Shalat Dzuhur jama’ ta’khir dengan Ashar di musholla kecil di tepi Danau Toba ditemani oleh acara pernikahan orang lokal yang sepertinya sangat seru memakai bahasa setempat.

Menyusuri tepi pulau Samosir dari sisi ini menjelang Maghrib adalah seperti ada di dunia lain. Di sini menara kubur batu yang mewah dengan salib besar berdiri bersebelahan dengan rumah penduduk yang dari papan. Pating tlecekan sejauh mata memandang. Di puncak bukit, di tepi jalan, di tepi hutan. Bagi saya ini agak menakutkan. Saya baru merasa lega ketika bus sampai di sisi yang berhadapan dengan pelabuhan karena di sini perkampungannya sudah modern. Syukurlah tidak menginap di tempat seperti tadi. Kami tiba di Samosir Villa Resort dan langsung disambut hujan deras.

Sesi terakhir kuliah Geologi yang menjadi sesi terpanjang tidak saya ikuti karena selain kemungkinan besar tidak nyambung, badan juga sudah legrek. Saya golar goler saja di kamar hotel sambil menikmati bunyi hujan sampai tertidur.

Minggu pagi yang mendung di tepi Danau Toba! What a vacation! Acara hari Minggu adalah acara piknik tanpa balutan Geologi. Kami menuju ke kampung Tomok, tempat marga Sidabutar berasal. Di sini kami menikmati pertunjukan patung menari Sigale-gale, dan mendengarkan cerita tentang Raja Sidabutar di makam raja-raja Sidabutar. Di pasarnya saya membeli kenang-kenangan berupa kaos bertulisan Lake Toba dan selembar Ulos untuk calon isteri saya.

Pukul 10 pagi kami meninggalkan Tomok dan berperahu ke Parapat untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Medan melalui Pematang Siantar dan Tebing Tinggi. Sampai kota Medan pukul empat sore dan saya masih sempat memotret Istana Maimun dan Masjid Raya Medan. Pukul lima sore sudah di bandara menunggu pesawat Citilink pukul 20:00 yang membawa saya kembali ke Jakarta. Di bandara ternyata sempat sebentar bertemu dengan teman yang dulu sempat tinggal di Jakarta.

I hope I can go back there someday!

Biaya-biaya:
– Pesawat Citilink Jakarta-Medan PP: Rp. 950 ribu
– Biaya travelling all-in ke EO-nya Geotrek Indonesia: Rp. 2 juta
– Kunjungi Facebook Group mereka di Geotrek Indonesia, perjalanan selanjutnya adalah ke Pacitan. Entah batu macam bagimana lagi yang mau diteliti, hehehe…

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 comments

  1. Horas bahhh, piknik sambil sedikit mengerti bisa fun khan ;), next pacitan menyusuri sungai dalam goa bagaimana prosesnya itu yg bkin serrrrrr2an 😉

  2. postingan ini kayaknya masih ngutang foto yang belum di-attach nih :p

    btw, nggosip dikit, mas Galih udah lamaran yah, nyebutnya bukan pacar, tapi calon istri 😀

Leave a Reply to nungs Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *