Dialog antara Forum Kiai Muda NU dengan Jamaah Islam Liberal (JIL)

Saya akhirnya bisa menonton dan mendengarkan tentang konsep liberal yang dibawa oleh Ulil Abshar Abdalla di dialog berbobot antara Forum Kiai Muda NU dengan JIL di Youtube ini:

Saya memang sekian lama penasaran ingin mendengarkan langsung dari Ulil sendiri tentang konsep liberalismenya, sejak saya tahu apa itu JIL. Sejak itu saya mencari-cari dan kebanyakan saya dapat konsep yang sepotong-potong, dan sisanya adalah hujatan dari yang anti JIL.

Pada akhirnya, saya memang tidak bisa menerima konsep pemikiran Ulil yang disebutkan dalam dialog itu, antara lain:

Satu: Ulil mengatakan, “Saya tidak bilang bahwa semua agama itu sama, tetapi semua agama itu benar.” Ia membenarkan khususnya untuk tiga agama semit Yahudi, Kristen, dan Islam. Ia juga mengatakan pada dasarnya Trinitas itu adalah monotheisme. Tetapi ia menolak untuk dibilang jika demikian agama itu seperti ganti baju saja. Hari ini pakai merah, besok biru. Secara akidah ia muslim, dan baginya tidak gampang bagi seseorang untuk ganti agama meski diyakini semua agama itu benar. Ia juga tidak menjawab tentang bebasnya konsekuensi ketika orang keluar agama Islam.

Kalaulah ini sebuah ide, saya menganggap ide itu terlalu rumit bagi saya. Tidak sesederhana konsep yang dibawa NU bahwa satu-satunya jalan keselamatan itu Islam, dan tetap menghormati pemeluk agama yang lain untuk menjalankan ibadahnya tanpa ikut menyetujui bahwa apa yang dianutnya adalah benar.

Analogi saya terhadap hal ini juga sederhana. Ketika saya berusaha menyelesaikan sebuah persamaan Matematika, semakin rumit jalan yang saya tempuh, maka itu bukan penyelesaian yang benar. Sesuatu yang berakhir dengan benar itu selalu memiliki jalan yang sederhana dan logis. Ketika saya tersesat di dunia penurunan rumus yang semakin ruwet, saya tahu saya harus segera berhenti.

Dua: Dalam pembahasan sakralitas Al-Qur’an, Ulil berpendapat bahwa cerita-cerita umat terdahulu di Al-Qur’an tidak terlalu memperdulikan faktualitasnya, yang penting adalah hikmahnya. Apakah cerita itu benar atau tidak perlu dibuktikan lagi secara historis. Di lain pihak, ia secara akidah mengimani cerita itu. Ia memisahkan antara keimanan akidah dengan kebenaran cerita itu secara faktual.

Ini menurut saya lagi-lagi juga rumit untuk dipahami. Bagaimana bisa mengimani suatu cerita secara terpisah begitu. Hal yang berbahaya tentang pemisahan ini adalah bahwa lama-lama kita bisa saja juga tidak mempercayai cerita di dalam Al-Qur’an karena secara faktual bisa saja tidak benar. Karena faktanya tidak dipercaya, hikmahnya pun seharusnya juga tidak bisa dipercaya. Bagaimana bisa belajar hikmahnya umat Nabi Luth yang homoseksual jika kita tidak terlalu peduli dengan kebenaran fakta sejarah yang diceritakan Qur’an. Ah, pusing saya memikirkannya. Tentu saja lebih mudah mengatakan bahwa cerita-cerita sejarah dalam Al-Qur’an adalah benar-benar terjadi sehingga kita bisa belajar hikmah sejarah tersebut. Ilmu manusia yang harus mengejar untuk membuktikan bahwa fakta sejarah itu memang benar-benar terjadi.

Pemikiran Ulil Abshar terlalu prematur untuk dijadikan konsep. Ia mencoba mengawinkan berbagai macam pemikiran, ulama-ulama modern, termasuk konsepsi Kristen dan Yahudi, untuk membuat sebuah pemikiran baru Islam yang segar dan modern. Bahayanya ketika konsep prematur ini diajarkan semakin jauh dari sumber pemikirnya, terjadi distorsi yang di luar kendali sumber pemikirnya sendiri. Mungkin Ulil sendiri, dalam konsepnya yang rumit, tidak setuju orang berpindah agama, tetapi bisa jadi pengikutnya – dengan berbagai macam motivasi – hanya mengambil konsep kulitnya saja, toh kan semua agama itu benar.

Di penutup sesi diskusi ini, ada nasihat yang sangat menarik dari ustadz Ahmad Baso tentang bagaimana sebaiknya mempelajari modernitas. Hal yang harus dipunyai dahulu sebelum mengembangkan konsep dan menyerap konsep dari luar adalah, bahwa seseorang harus alim dulu. Baik shalatnya, akhlaknya, tahajud-nya, amal-nya, dsb. Setelah itu barulah modern. Saya pikir itu merupakan petunjuk yang sederhana dalam menyikapi setiap konsep teologi dalam arus badai informasi ini.

Published
Categorized as Islam

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

6 comments

  1. bagaimanapun sesatnya JIL, saya malah jijik sama gerakan anti JIL yang mengaku paling islam tapi menghujat JIL melebihi cara orang kafir menghujat!

    ck ck ck..

    1. Itulah. Tuduhan-tuduhan kafir, sesat, menjual iman demi dolar itu tuduhan yang berat. Dulu Islam berkembang pesat di bidang filsafat dan sains karena menghargai pemikiran-pemikiran filusuf dan ilmuwan muslim yang nyleneh. Bukan malah saling menghujat dan menganggap diri yang paling benar.

  2. nice post 🙂
    Maaf saya ikut nimbrung juga ya.
    Setuju sama mas Galih dan mas Budiono.
    Saya tidak pro atau anti, tapi kalau coba menyoroti, saya lebih suka mencoba berpikir kenapa gerakan/pemikiran seperti JIL sampai bisa mencuat.
    Maksudnya, mungkin kita juga harus introspeksi, dan seperti kutipan mas galih “seseorang harus alim dulu. Baik shalatnya, akhlaknya, tahajud-nya, amal-nya, dsb. Setelah itu barulah modern.”.
    Terima kasih ^^

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *