Management Tools

Dulu waktu masih aktif kuliah S2, saya sering bertanya-tanya apa sih gunanya analisis dan identifikasi suatu objek dengan tools manajemen yang banyak? Sebut saja SWOT (Strength Weakness, Opportunity, and Threat) yang paling populer. Di kelas, dosen saya pernah mencela SWOT sebagai tool yang sudah usang, karena sejak 1960-an dipakainya. SWOT memiliki banyak kelemahan — meskipun, memang mudah dipakai.

Ada segudang tools lain lagi yang saya dulu sampai tidak tahu apa gunanya. Ada Porter Five Forces, PESTEL, Diamond Strategy Analysis, dll. Karena saya ini orang teknik, saya selalu bertanya-tanya apa fungsi sebenarnya dari alat-alat ini selain untuk menjelaskan suatu objek yang diamati, misalnya perusahaan.

Sekarang saya baru mengerti, setelah lulus setahun yang lalu. Selalu begitu ya, kalau pas jadi mahasiswa selalu tidak menganggap penting materi-materi yang sedang dipelajari, karena ternyata memang otaknya belum sampai hahaha…

Fungsinya, ya, memang untuk menjelaskan, memotret, dan menganalisis suatu objek seperti perusahaan. Lha, kalau itu setiap orang juga udah tahu. Hehe, tapi memang begitu, bayangkan jika kita tidak memiliki alat dan panduan untuk mengamati suatu perusahaan. Analisis kita tidak akan pernah fokus dan tidak bisa diambil kesimpulan. Para pakar-pakar manajemen itu telah membuatkan panduan yang enak yang bisa langsung dipakai, sehingga pada akhirnya, kita bisa langsung menarik kesimpulan tentang apa yang telah kita amati.

Beberapa waktu yang lalu saya diminta untuk mengamati dan mengaudit sebuah sistem IT. Saya bingung juga waktu dimintai seperti itu. Apa yang bisa saya amati, apa saya cukup menjalankan Network Security Scanner untuk memeriksa keamanannya? Bisa juga, tapi yang saya amati hanya sisi keamanannya saja. Apa saya harus cek benarkah kode programnya? Akses ke databasenya dengan cara yang betul? Bisa juga, tapi masak iya sampai sedetail itu, toh programnya juga berjalan dengan benar. Rasanya kok tidak terlalu bermanfaat jika rekomendasi yang keluar nanti semacam: “Seharusnya fungsi A dipecah jadi A dan B – seharusnya memakai while bukan for” — itu kan lebih ke gaya pemrograman.

Karena yang meminta saya adalah seorang yang ada di level manajemen, saya pikir informasi-informasi semacam itu tidak terlalu bermanfaat untuk perkembangan sistem IT ke depannya. Makanya saya berpikir kira-kira tools apa yang bisa dipakai untuk memotret sistem itu.

Akhirnya saya memakai framework CobIT, alat audit IT dari ICASA. Sebuah framework yang dipakai sebagai pedoman menangani sistem IT (IT Governance). Setelah baca buku tentang framework ini, saya menyusun dan menyederhanakannya agar lebih sesuai dengan sistem IT yang mau saya potret. Pada saat saya mengerjakannya, saya baru merasa manfaatnya dulu waktu kuliah alat-alat manajemen yang telah saya sebutkan di atas.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 thoughts

  1. proses menyederhanakan framework supaya fit dengan kebutuhan itu tadi, bisa jadi jurnal internasional yg keren bro! 🙂

    [ndak ada salahnya kan, profesional IT bikin jurnal layaknya akademisi IT hehe]

  2. hmm kalau ini saya setuju 1000%, musti punya tools yang kita pegang supaya analisa dan kesimpulan kita bisa jelas, tepat dan terarah, yang pasti kita gak perlu bingung harus mulai dari mana dan apa saja yang harus kita siapkan. Selamat berjuang kawan. 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *