Peringatan Gerakan 30 September

30 September 1997, siang hari, saya masih ingat saya sibuk mengatur perwakilan kelas saya yang akan ikut serta dalam acara nonton bareng film Pengkhianatan G30S/PKI di aula sekolah SMP 2 Tulungagung. Saya sendiri lolos dari daftar karena rumah saya ada di luar kota — lagipula saya tidak suka film G30S/PKI sejak masih aktif diputar setiap tahunnya. Adegan horor-nya itu traumatis. Saya pikir film itu secara sinematografi sangat sukses. Saya benci setengah mati dengan PKI, selalu waspada terhadap bahanya komunisme, pahlawan revolusi yang berjasa berkorban menjadi martir, dan tentu saja terima kasih kepada Jenderal Soeharto.

Orde Baru memang secara efektif menggunakan jalur pendidikan sebagai salah satu sarana propaganda dan doktrinasi untuk otak-otak yang masih segar dan polos. Waktu SD saya hobi membaca cerita sejarah Serangan Umum 1 Maret, Enam Jam di Jogja, novel dan komik sekaligus! Entah siapa penulisnya, tapi dua buku itu sukses membuat saya mengidolakan tokoh Letkol Soeharto yang heroik.

Kembali ke sejarah Gerakan 30 September, tentu saja setelah tulisan-tulisan alternatif muncul pasca runtuhnya rezim Orba, film itu disadari adalah bagian dari propaganda politik. Sejarah memang ditulis oleh sang pemenang. Jadi apakah cerita alternatif yang benar? Belum tentu juga. Banyak sekali teori-teori konspirasi yang didasarkan fakta yang hanya tersedia sepotong-sepotong, sehingga untuk menyusun puzzle yang lengkap, diperlukan asumsi-asumsi subjektif dari si penulis teori. Tidak mungkin saat ini membuka cerita yang sebenarnya dari tragedi politik 30 September 1965 dan rangkaian peristiwa yang mengikutinya, karena tokoh-tokohnya — termasuk tokoh sentral Soeharto — sudah almarhum.

Saya menyusun artikel saya sendiri ini berdasarkan literatur buku “Dalih Pembunuhan Massal” karangan John Roosa, liputan utama Majalah Tempo edisi 1-7 Oktober 2012, dan novel Ken Arok karya Pramoedya Ananta Toer, yang konon merupakan sindiran halus terhadap peristiwa G30S itu.

Politik bukanlah seperti cerita kepahlawanan klasik, tidak ada istilah superhero yang hebat dan benar, sekaligus tak ada istilah si antagonis yang jahat. Saya melihat G30S adalah efek dari percaturan politik kelas tinggi. Demikian pula, saya cenderung tidak melabeli setiap tokoh G30S dengan warna tertentu, entah hitam entah putih, termasuk Soeharto yang sedang dibenci banyak orang itu. Semuanya sama, sebagai pemain catur politik. Setiap pemain bertindak berdasarkan reaksi lawan, dan berusaha memprediksi tiga empat langkah ke depan efek manuver politiknya.

Tahun 1965, kondisi politik memang sedang carut marut. Paling tidak ada tiga pihak yang berkepentingan dalam perebutan kekuasaan: Presiden Soekarno sebagai pemegang kekuasaan, militer — lebih khususnya Angkatan Darat, dan PKI. Setiap pihak berusaha membaca peta kekuatan, saling menghembuskan isu, dan menunggu momentum. Di Angkatan Darat sendiri ada pertikaian internal antara Jenderal Ahmad Yani dengan Jenderal Nasution. Namun cepat atau lambat, Angkatan Darat akan melakukan kudeta. Menggulingkan kekuasaan Soekarno itu masalah gampang, permasalahan yang sangat rumit adalah bagaimana melanggengkan kekuasaan pasca kudeta melihat Bung Karno adalah pujaan seluruh rakyat Indonesia.

Petinggi PKI yang merancang gerakan ini, DN. Aidit dan Sjam, merasakan hal yang sama. PKI merasa jika AD melakukan kudeta, mereka akan kehilangan momentum karena tidak adanya penyokong gerakan komunisme mereka yang selama ini dilindungi Bung Karno dalam paham Nasakom: Nasionalis Agama dan Komunis. Mereka memutuskan untuk mendahului AD, menculik petinggi AD lalu menghadapkannya ke depan Bung Karno. Jadi, G30S adalah gerakan yang dimaksudkan sebagai gerakan mulia: untuk kesetiaan kepada Bung Karno. Bung Karno akan segera mengganti para petinggi Angkatan Darat dan jika itu yang terjadi, wajah Indonesia tentu akan menjadi sangat lain hari ini.

Sayangnya operasi itu gagal total karena sebagian besar perwira ABRI terbunuh, termasuk Yani sendiri. Tentu saja Bung Karno tidak mungkin mendukung operasi seperti itu. Makanya kemudian gerakan G30S sendiri jadi kacau balau sehingga mudah dipatahkan oleh Kostrad dan RPKAD di sore harinya.

Lalu dimana posisi Mayor Jenderal Soeharto? Soeharto jelas adalah tokoh yang paling diuntungkan dalam kekacauan operasi G30S. Tidak cukup bukti bahwa ia adalah dalang yang sangat lihai mengatur G30S. Tetapi pastinya ia juga bukanlah jenderal yang terkaget-kaget yang beruntung menerima durian runtuh.

Sebagai perwira yang diremehkan, ia juga berhitung membaca peta politik. Ia jelas tahu posisi bidak-bidak catur ada dimana. Ia sendiri tentu memiliki perhitungan sendiri. Dan ia memutuskan untuk tetap berada di lapis kedua, bertindak sebagai penyerang lubang dari pihak Angkatan Darat yang sedang dikendalikan oleh Yani. Tetap berada di area yang tidak terlihat adalah keuntungan utama Mayjend Soeharto. Dan lawan politik yang paling berbahaya adalah lawan yang kelihatan lugu, polos, innocent, yang sebenarnya siap melakukan manuver ketika momentum berada di tangannya.

Saya menduga setiap pihak, termasuk Soeharto, sudah menduga akan terjadi kejadian semacam G30S itu, entah dari pihak PKI atau AD sendiri. Ketika PKI berinisiatif membuka serangan, seperti yang ditunggu-tunggu AD, saat itulah saat yang tepat untuk dalih mengambil alih kekuasaan atas nama darurat militer. Ketika mayoritas petinggi AD terbunuh, dan melihat situasinya saat itu, jelas momentum ada di tangan Soeharto.

Kekacauan operasi G30S memudahkan Kostrad menyelesaikannya. Sore hari kantor RRI sudah direbut kembali. Tentara Batalyon yang “nganggur” di lapangan Merdeka mudah saja dibujuk menyerah masuk ke markas Kostrad karena mereka kelaparan sejak semalam belum makan. Koordinasi dapur umum yang buruk menyebabkan itu. Momentum yang ada di tangan terlalu besar untuk dilewatkan. Sudah saatnya Soeharto tampil sebagai pemain utama setelah sekian lama diremehkan. Itu menjelaskan penolakan dirinya mengikuti protokol perintah dari Bung Karno.

Urusan menjinakkan G30S itu urusan remeh karena memang gerakan itu kacau sendiri. Permasalahan peliknya, dengan modal awal momentum tersebut, bagaimana mengkudeta kekuasaan Presiden Soekarno sendiri. Sejarah telah menulis bahwa Soeharto telah menggunakan strategi kudeta merangkak yang world class. Rezim Orba bertahan selama 32 tahun dengan langkah-langkah awal yang disiapkannya ketika itu.

Tentu saja G30S harus dibesarkan dari keadaan sesungguhnya. Seperti Serangan Umum 1 Maret yang dibesarkan, lebih besar dari peran Sultan HB IX sendiri. Dan itulah yang terjadi. Segala propaganda, kampanye, perang urat syaraf dilancarkan. G30S adalah penjahat terkutuk. PKI adalah bahaya laten komunis! Komunisme, dengan lambangnya palu dan clurit, dicitrakan sebagai hantu yang sangat mengerikan. Korban pembunuhan massal adalah ekses politik yang harus disadari sebagai biaya untuk itu.

Menyedihkan memang. Tetapi setiap revolusi selalu meminta tumbal. Seperti perang militer, perang politik selalu mengakibatkan korban dari yang tak bersalah. Sekian ratus ribu nyawa melayang. Jutaan keluarga kehilangan masa depan selamanya hingga sekian keturunan karena kadung dicap sebagai PKI. Bukankah Reformasi 1998 juga sama saja? Penggulingan rezim Orde Baru juga meminta tumbal korban yang sama jumlahnya. Berapa banyak korban mati sia-sia dalam demo kerusuhan mahasiswa? Berapa banyak wanita yang diperkosa dalam kerusuhan Mei 1998?

Tadi pagi waktu lewat depan TMP Kalibata, para tentara nampaknya bersiap-siap mengadakan upacara peringatan. Mengenang Pahlawan Revolusi yang patungnya berdiri gagah di Lubang Buaya. Terus terang makna pahlawan bagi para jenderal itu agak terdistorsi di benak saya sekarang. Mereka hanyalah pemain catur politik yang kalah langkah. Pahlawan-pahlawan yang sesungguhnya seharusnya adalah mereka yang menjadi martir politik, tumbal sejarah, yang tidak tahu menahu kejadian sesungguhnya.

Published
Categorized as Opini

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

1 comment

  1. untunglah dari dulu sampe sekarang saya belum pernah sama sekali nonton pelem G30S/PKI itu.

    tapi jadi pengen nonton skrg, seperti apa sih kehebatan sinematografi dari pelem itu, yang bahkan disebut sebagai pelem terbaik di indonesia?!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *