They’re Just Everywhere

Ketika infrastruktur telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan orang-orang, saat itulah infrastruktur dilupakan sebagai hal yang sangat penting. Mereka hanya berteriak ketika infrastruktur bermasalah dan tidak mau mengerti bahwa dibalik kinerja sebuah infrastruktur, dibutuhkan kerja keras yang membutuhkan banyak energi.

Saya sering merasakan itu terkait dengan pekerjaan saya di bidang IT yang bertugas mendukung kegiatan pengeboran minyak dan gas. Seringkali orang lupa bahwa IT itu telah menjadi bagian dari proses bisnis mereka yang telah terkomputerisasi sepenuhnya. Orang tidak sadar bahwa IT telah jadi business enabler. Ketika hal berjalan dengan semestinya, IT dilupakan. Tetapi ketika IT bermasalah, orang-orang blaming dan berteriak ke IT yang bekerja tidak becus.

Ternyata, hal yang sama terjadi pada sesuatu yang melekat dalam kehidupan kita sehari-hari yang mungkin tidak kita sadari, yaitu listrik! Ketika listrik menyala, kita ya biasa-biasa saja, memang itu lah yang seharusnya. Tetapi jika listrik mati sejam saja, kita sudah teriak-teriak bilang PLN tidak becus, tidak berguna, dsb. Paling tidak itu kesan saya ke PLN: perusahaan yang tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar, dilaporkan selalu merugi padahal memegang pasar monopoli, duitnya banyak dikorupsi.

Saya tidak pernah menyadari kalau sebenarnya PLN itu perusahaan raksasa. Saya seperti buta bahwa berapa besar energi yang dideliver PLN untuk menghidupi ibukota Jakarta saja — tunggu, satu mal Senayan City yang bergemerlapan itu saja dulu, berapa juta megawatt yang dibutuhkan. Dan PLN dituntut menyediakan listrik untuk seluruh Indonesia. Seluruh I-n-d-o-n-e-s-i-a. Dengan kualitas availability diatas 95% setahun.

Ini saya sadari ketika mendengarkan presentasi seorang konsultan asset management di kantor, yang menceritakan pengalamannya membangun sistem asset management di PLN. Bagaimana penghematan cost dilakukan dengan menerapkan sistem tersebut. Sistem, tidak hanya berbicara mengenai tools dan sistem IT yang dibangun, tetapi juga menyangkut organisasi, orang, benefit, kompensasi, kultur, untuk setiap engineer lapangan, analis di kantor, kepala-kepala seksi, dsb. Juga tentang kontrol terhadap data-data sehingga data tersebut valid dan bisa dianalisis sehingga memudahkan para pengambil keputusan.

Pusing saya membayangkannya.

Mungkin kalau kita mau sedikit membayangkan operasi yang luar biasa dibalik sebuah infrastruktur yang terlihat biasa karena kita sudah menganggapnya biasa, kita bisa lebih bijaksana dalam melihat ketidakberesan sebuah infrastruktur. Tidak langsung menganggap tidak beres bekerjanya dan selusin kalimat negatif lainnya. They’re maybe forgotten, but they’re just everywhere.

Published
Categorized as Opini

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

1 comment

  1. aku pernah magang di salah 1 anak perusahaan PLN, dan ketika gak bisa ngakses facebook dari kantor, dalam hatiku: “ih, ngapain sih ORANG IT ngeblokir situs jejaring sosial!”, ahaha

    btw, kok seringkali aku akses blog ini pake eror dulu ya mas, kalo gak “eror 505” atau apalah itu, ya “error establishing a database connection” apaa gitu. Baik klik dari blogroll ku maupun langsung ketik alamat blog ini.

Leave a Reply to pety puri Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *