Review: Novel Sekuntum Laila

Judul Buku: Sekuntum Laila
Genre: Novel Cinta
Penulis: Risma Budiyani
Tebal: 443 halaman
Penerbit: Diva Press

Sepupu saya Nike yang kasih buku ini. Biasa, si kutu buku ini sedang kebanjiran daftar baca, hehehe… Terima kasih ya Nick, repot-repot mengirimkannya jauh dari Palembang. Nah, entah kenapa juga ini kali kedua saya mereview bukunya Risma Budiyani — dalam tulisan review saya yang sedikit –, walaupun menurut saya buku ini tidak terlalu bagus. Tulisan ini saya split untuk mencegah spoiler yang mungkin terjadi di tulisan saya ini.

Ini adalah tentang kisah klasik percintaan. Laila, seorang perempuan yang bekerja di kantor pemberitaan, cantik, alim, yang menikahi seorang pria bernama Ali, yang keduanya sama-sama mengklaim menikahi dan mencintai pasangannya karena cinta mereka kepada Allah. Saya melihat kemiripan karakter tokoh Laila dengan tokoh Jasmine, di novel Risma Budiyani yang lain. Saya berharap penulis bisa menghidupkan seorang tokoh yang cukup jauh dari kehidupan pribadi penulis yang pada saat itu bekerja di Metro TV.

Tidak ada unsur kejutan di novel ini. Saya sudah dikecewakan bahwa akhir cerita novel sudah ditampilkan di awal-awal. Gaya penceritaan yang diambil terkesan seperti alur mundur, merekam kejadian sekarang, melompat ke masa lalu, lalu pelan-pelan maju ke masa sekarang. Seharusnya alur ini menawarkan konflik cerita yang menarik, tetapi saya pikir penulis kurang hati-hati sehingga melupakan unsur kejutan-kejutan ini — entah itu bahagia atau sedih, tapi kejutan tetap penting agar cerita menjadi berkesan dan membekas di pembaca.

Novelnya memang tebal, 443 halaman, tetapi ini saya habiskan dalam waktu sekitar 3 jam saja, waktu di pesawat perjalanan pulang Balikpapan – Jakarta. Saya tidak terlalu tertarik membaca detail-detail dialog, saya hanya membaca cepat saja dari halaman ke halaman untuk mengetahui alur ceritanya. Bahkan seringkali judul bab sudah membuka semua apa isi bab itu. Saya lebih suka novel-novel yang hanya menandai bab-nya dengan nomor saja, tanpa judul.

Tentang kisah Laila dan Ali sendiri yang tragis, saya pikir, akar permasalahannya adalah karena tidak ada yang mau meletakkan ego dan mencari jalan tengah. Bahkan saya menuduh, Ali adalah seorang kapitalis sejati yang mengejar harta. Saya tidak melihat seorang Ali yang digambarkan penulis sebagai seorang yang alim, menjadi sosok yang zuhud yang lebih mementingkan keutuhan keluarga. Ia mengejar harta tanpa mempedulikan perasaan isteri-nya yang begitu mencintainya.

Long Distance Relationship (LDR), sangat jarang yang berhasil…

Andai saja Ali mau menurunkan egonya sebentar, melihat bahwa isterinya lebih membutuhkannya daripada istana cinta di atas awan yang sedang dibangunnya dari kerja keras banting tulangnya sebagai insinyur perminyakan di Dubai (Hmm.. Emirates kah? Atau Schumblerger?)….

Andai saja Laila mau menurunkan egonya sebentar, dan memilih untuk ikut suami bekerja ke Dubai, meletakkan posisi nyamannya sebagai pekerja di kantor berita (di dunia nyata, Risma Budiyani meninggalkan Metro TV untuk mengejar passionnya, kenapa Laila nggak ya? hehe…).

Dan sosok Ramzi — pria baik hati yang patah hati yang jatuh cinta kepada wanita bersuami, Laila. Come on man, masih ada saja pria yang seperti itu. Pria jempolan mapan yang tertambat hatinya pada wanita yang tidak tepat. Ramzi seharusnya realistis, dan instrospeksi, apa kekurangan yang ada di dalam dirinya yang membuat ia selalu jatuh kepada wanita yang salah yang lalu pergi meninggalkannya. Mungkin lagi-lagi ego, keangkuhan, kesombongan yang tidak tertahankan… (lah kalo ini mah kritik doi ke saya hehehe)

Sebagai penikmat novel, saya tidak suka dengan novel ini. Tetapi justru karena itu membuat saya menulis review buku. Berarti buku ini berhasil membuat saya terkesan kan ya? Makanya di Goodreads, saya memberi rating buku ini 2 dari 5, it was ok. Dan kenapa pula novel ini pakai foto penulisnya sendiri? Apakah itu Laila?

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

8 thoughts

  1. mungkin salah satu hal sebuah novel dikatakan berhasil adalah ketika bisa membuat pembacanya merasa “marah, sedih, geregetan” dengan tokoh2 di dalamnya.
    apalagi sampe bikin review nya di blog :p

  2. sama, aku jg penikmat novel dan sekarang lg belajar buat novel. n menurut aku sih novel yang bagus itu adalah novel yg bisa ngebuat alur yg tepat, klimaks dan antiklimaksnya nyambung, dan yg terakhir si penulis harus ngebuat sesuatu yg mengesankan biar para pembaca tdk bosan membacanya, dan wajib ngebuat para pembaca larut dalam suasana cerita.

  3. kalo bacanya skimming doang, berarti novel ini memang kurang menarik (bagi mas galih).

    tapi saya malah jadi penasaran, seberapa membosankan-nya kah novel ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *