Uang itu Tidak Sama dengan Kebahagiaan

Akhir-akhir ini saya sering baca ungkapan bahwa uang itu tidak bisa membeli kebahagiaan, tetapi banyak kebahagiaan yang memerlukan uang. Hehehe… pernyataan yang kira-kira kurang lebih mengingatkan bahwa uang itu tetap penting sebagai salah satu faktor penentu kebahagiaan.

Teman saya pernah bilang, semua dari kita ini diberi modal yang sama: yaitu waktu, sebanyak 24 jam sehari. Tergantung dari setiap orang mau berbuat apa dengan waktu yang sama besar itu. Teman saya itu juga bilang, kalau mau kaya, dalam artian menambah penghasilan itu tidak terlalu  sulit — bisa cari side job, tetapi konsekuensinya waktu kita yang akan hilang. Iya, kami yang sama-sama karyawan kantoran ini tidak memiliki waktu luang yang banyak. Dalam seminggu, praktis hanya dua hari di akhir pekan yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan yang lain selain pekerjaan. Itupun seringkali sudah penuh agenda seperti acara kondangan, cuci mobil, servis motor, bersih-bersih rumah, dll. Jika waktu yang sedikit itu dipakai untuk cari duit tambahan, ya artinya semua waktu akan tersita habis untuk pekerjaan.

Karena itulah mengapa orang Jakarta itu banyak yang kaya — kelas menengah ke atas, tetapi kebanyakan juga stres dan tidak bahagia. Duitnya banyak, tetapi tidak punya waktu untuk menikmati setiap detik perjalanan hidupnya.

Waktu saya training beberapa hari di Jogja, atau waktu saya menghabiskan cuti seminggu ke kampung, saya melihat betapa berbedanya ritme hidup mereka dengan masyarakat Jakarta. Saya melihat tukang jualan nasi pecel yang selalu dipenuhi antrian pembeli setiap paginya. Jam bukanya singkat, hanya dua jam setiap pagi, dan ketika jualannya habis, masih banyak pembeli yang tidak dapat bagian.

Dua atau tiga tahun berlalu, kondisinya masih begitu-begitu saja. Tempat jualannya masih begitu-begitu juga. Kapasitas produksinya masih aja begitu-begitu saja. Ini jelas menyalahi apa yang saya pelajari di sekolah bisnis tentang konsep-konsep selling opportunity, scalability, competitive advantages, dan sebagainya.

Tetapi kalau dipikir-pikir ya, mungkin mereka sudah merasa cukup memenuhi kebutuhan dengan itu semua. Setelah jam 8 pagi, mereka masih bisa melakukan banyak hal. Seperti Pak Tani yang pulang dari sawah jam 10 pagi, lalu “menikmati hidup” di jam-jam berikutnya. Jika dikatakan hidup pas-pas an mungkin iya, tetapi kayaknya dengan begitu saja sudah cukup untuk berbahagia.

Tentu hal itu semua tidak cocok dengan prinsip-prinsip kita kaum urban yang terbiasa berkompetisi setiap harinya. Kita ini sudah teracuni dengan konsep kapitalisme yang terus menimbun dan menimbun harta setiap harinya, untuk mencapai tujuan yang mungkin tidak pernah kita tahu apa itu. Kita tentu memandang mereka yang hidup dengan ritme yang mengalir itu adalah malas dan tidak mau maju berkembang, tetapi mungkin memang itulah sebenarnya letak kebahagiaan itu. Waktu yang masih sangat luas untuk melakukan banyak hal, misalnya beribadah dll.

Pelajaran moralnya, ya, saya masih percaya bahwa uang itu tidak bisa membeli kebahagiaan. Kebahagiaan itu adalah ranah pribadi, ranah privat, yang masing-masing orang mempunyai definisinya sendiri-sendiri. Buat orang kapitalis, tentu saja kebahagiaan adalah ketika asetnya terus bertumbuh. Buat orang desa yang tadi saya ceritakan, kebahagiaan mungkin adalah ketika masih bisa tidur siang, lalu menyabit rumput di pinggir sawah di sore hari, dan diakhiri dengan mengandangkan ayam di petang hari.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 comments

  1. Kata-kata terakhir mas, mantep…
    “kebahagiaan mungkin adalah ketika masih bisa tidur siang, lalu menyabit rumput di pinggir sawah di sore hari, dan diakhiri dengan mengandangkan ayam di petang hari”.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *