Perang Pengaruh dan Ideologi

Lewat Twitter saya mengenal Jamaah Islam Liberal (JIL) sekaligus para penentangnya: Anti JIL. Hal ini membuat saya cukup penasaran untuk mengetahui bagaimana sih konsep JIL itu sebenarnya. Saya tahu tokoh utama JIL adalah Ulil Abshar, dan yang membuat saya tertarik adalah bahwa dia itu menantu kiai NU yang kharismatik, KH. Mustofa Bisri.

Konsep utama dari JIL adalah pluralisme, bahwa semua agama pada hakikatnya baik dan benar. Benar seperti apa? Pertanyaan ini yang ingin saya cari jawabannya. Dan saya mencarinya harus dari JIL sendiri karena kalau dari sumber lain pasti sudah terkontaminasi oleh subjektivitas penulis, apalagi jika penulis berdiri berseberangan dengan JIL.

Pernyataan resmi yang lengkap dari pendapat “semua agama adalah benar” ada di artikel panjang yang berjudul “Mengapa Semua Agama itu Benar?” di webnya JIL. Sebuah pernyataan yang sebenarnya tidak bisa dibaca secara sepintas dan harus dengan perenungan yang dalam. Ini setara dengan pernyataan sufisme “manunggaling kawula lan gusti”. Biar bagaimanapun juga, artikel itu seharusnya hal itu bisa dihargai sebagai sebuah ide.

Permasalahannya memang konsep pluralisme tersebut rawan distorsi, baik di sisi pendukung JIL maupun yang anti JIL. Dan hal itu menjadi bahan perang baik secara urat syaraf maupun perang fisik yang memprihatinkan.

Konsep manunggaling kawula lan gusti, adalah kondisi saat sang sufi telah menemukan Tuhannya dan seolah-olah bersatu dengan-Nya secara hakikat. Sehingga dengan demikian secara hakikat, ketika sufi itu berkata, “Matilah kamu!” maka yang berkata begitu bukan dia lagi. Ini adalah ajaran tasawuf yang bisa dikatakan sangat “berbahaya” jika seseorang tidak memahami konsep itu dengan benar.

Ketika awal Islam masuk pulau Jawa dengan dibawa oleh Wali Songo, ada satu konsep tasawuf yang ikut masuk yang dibawa oleh Syekh Siti Jenar. Beliau mengajarkan konsep sufisme yang seolah-olah berlawanan dengan ajaran syariat Islam yang dibawa oleh Wali Songo. Oleh Wali Songo ajaran tasawuf dianggap belum saatnya diajarkan ke masyarakat Jawa yang masih sangat muda mengenal Islam, sehingga konsep tasawuf itu malah menjerumuskan kepada syirik. Akhirnya Syekh Siti Jenar dibunuh dengan alasan “politis”.

Mungkin bagi kaum fundamentalis, konsep JIL juga dianggap berbahaya bagi umat Islam yang masih dinilai belum siap menelaah konsep yang bermakna dalam dan halus. Bisa-bisa orang menjadi mencampuradukkan agama. Atau malah murtad dari Islam karena menganggap ritual di Islam terlalu berat — toh semua agama sama saja, kelak sama-sama naik surga.

Karena itulah banyak yang mengkafirkan JIL dan dituduh sebagai antek-antek barat yang haus akan dollar yang ingin merusak Islam dari dalam. Sebuah tuduhan berat yang saya sendiri tertarik untuk mengetahui apakah itu benar — karena jika itu tidak benar, tentu itu sudah menjadi fitnah yang serius.

Bagaimana dengan saya sendiri?

Saya tidak setuju konsep pluralisme. Pemikiran itu saya anggap terlalu rumit supaya tetap sesuai dengan konsep-konsep Islam yang saya percayai. Ilmu agama saya belum sampai pada pengertian makna-makna yang halus itu. Saya membaca surat Al-Kafirun secara harfiah. Toleransi beragama tidak perlu dilakukan dengan menganggap agama lain itu benar. Islam lah yang benar, haqqul yakin tanpa keraguan sedikit pun!

Toh, sahabat saya yang non muslim juga banyak. Saling menghormati saling menghargai satu sama lain. Saya biasa makan siang di rumah teman saya yang non-muslim. Sering juga teman saya yang non muslim tidur di rumah saya. Masalah akidah tidak perlu diributkan. Bagiku agamaku dan bagimu agamamu. Aku tidak akan pernah menyembah apa yang kau sembah. Dan menurut saya dengan cara begitulah Islam menjadi rahmatan lil alamin dengan sendirinya, tanpa perlu dipaksakan.

Published
Categorized as Intermezzzo

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 comments

  1. setuju dengan paragraf terakhir 🙂
    lakum diinukum wa liyadiin (bagimu agamamu, bagiku agamaku).

    jadi inget, saat aku bayi, tetangga depan rumahku yg non muslim, adalah orang yang dipercaya ibuku untuk menjagaku ketika ibu kerja. Aku diberi makan disana, disuapin, digendong, diajak bermain, diajari bicara juga (mungkin).
    setiap lebaran, mereka selalu main ke rumah. Anak2nya yang sudah “nyebar”, kumpul di rumah kami.
    Sebaliknya, kami juga melakukan kunjungan ke rumah beliau keesokan harinya. Meja-mejanya penuh nastar dan kastengel juga 😀

  2. JIL:Jaringan Islam Liberal, arti liberal adalah bebas. Jadi jika komentar Ulil AA yg menyatakan bahwa semua agama adalah sama,pastilah Ulil AA sebagai penganut Islam Liberal (Islam Bebas) pastilah syah syah saja. Sebagaimana menurut anggapan gol atheis bahwa agama adalah candu,yg merusak kesehatan jiwa. Ulil AA sebagai JIL,berarti merupakan seorang muslim yg hanya berpegang pd syari’ah(theologi)saja,tanpa dibarengi dgn Akidah Islamiah. Ulil AA berarti muslim liar.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *