Bekas

Catatan Minggu Keempat/Penghujung Bulan Ramadhan 1433H

Tak terasa, betapa Ramadhan telah meninggalkan kita semua. Saya pribadi bersyukur bisa melalui Ramadhan ini dengan baik, dan mengisinya dengan hal-hal yang baik. Saya bersyukur bisa menjalankan ibadah ini lebih baik dari tahun kemarin. Tentu saja harapan tertinggi saya adalah diterimanya segala amal ibadah selama bulan Ramadhan oleh Allah SWT.

Apakah saya merasa menang? Hari kemenangan telah tiba. Allahu Akbar walillahilhamd…

Saya lebih merasa berdebar-debar. Hal yang paling saya khawatirkan setiap selepas bulan Ramadhan adalah segala hal yang saya lakukan di bulan Ramadhan tidak membekas selepas Ramadhan. Ogah-ogahan lagi, bermaksiat lagi… Astaghfirullah.

Betapa tidak, ibaratnya seperti murid yang ditempa di kawah candradimuka, inilah saatnya bertemu dengan ujian yang nyata. Ramadhan hanyalah pelatihan. Semuanya terkondisi untuk Ramadhan. Semua motivasi telah disiapkan. Bagi yang mencari pahala, berlipat-lipat ganda pahala disediakan, diobral habis-habisan. Setelah Ramadhan selesai, lalu apa? Sudah begitu saja? Pesta telah usai, mari kembali ke kehidupan semula?

Ketimbang memandang sebagai sebuah akhir dengan perayaan yang meriah (dan sering berlebihan) menyambut hari raya Idul Fitri, saya lebih memandang akhir Ramadhan sebagai sebuah awal. Awalan bahwa kita menjadi seorang manusia yang lebih baik, lebih bertakwa, lebih tebal imannya dari sebelum-sebelumnya. Dengan setan yang kembali dilepas belenggunya. Tertawa gembira menyambut lalu kembali berusaha menggerus lapis demi lapis keimanan.

Apa parameternya? Mari tentukan sendiri dan mari berjanji pada diri sendiri. Shalat lima waktu tanpa bolong, lebih di awal waktu, dan ditambah dengan sunnah Rawatib. Sisihkan waktu untuk bertilawah, tadarus, dan tadabbur Al-Qur’an dengan target khatam menjelang Ramadhan tahun depan. Lanjutkan Qiyamul Lail dengan shalat Tahajud setiap malam. Pertahankan jumlah infaq dan sedekah. Sanggupkah kita? Saya tahu kadar iman itu berubah-ubah. Semoga Ramadhan tahun ini bisa membekas dan terus membekas hingga nanti saat kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan. Untuk lebih baik lagi.

Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Lailahailallah huallahu akbar
Allahu Akbar walillahilhamd

It’s not the end. It’s just start.
Wish You Ied el-Fitr Mubarak

-Galih Satriaji-

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

1 comment

  1. Memang kadar iman seseorang suka berubah-ubah. Tetapi semoga selepas Ramadhan, kadar iman kita senantiasa merangkak naik. Agar bekas-bekas pendidikan selama bulan puasa benar-benar kita rasakan.

    Met Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *