Zakat

Catatan Minggu Ketiga Ramadhan 1433 H

Zakat adalah rukun Islam yang keempat setelah syahadat, shalat, dan puasa. Dan zakat sendiri terdiri dari dua macam, yaitu zakat fitrah dan zakat mal. Meskipun sama-sama sebagai kewajiban, namun mayoritas orang tidak terlalu memahami fiqih zakat daripada fiqih shalat.

Zakat fitrah relatif lebih mudah pelaksanaannya karena cukup ringan, hanya 3,5 liter, atau sekitar Rp. 30,000. Tidak sampai biaya makan dalam sehari. Maka pelaksanaannya pun lancar tidak banyak perdebatan. Berbeda dengan zakat mal. Memang besaran yang wajib dikeluarkan secara persentase hanya 2,5%, tetapi 2,5% dari berapa? Saat ini, potensi zakat di Indonesia mencapai 300 triliun, tetapi realitas-nya hanya sekitar 1,9 triliun saja.

Zakat berbeda konsep dengan pajak. Zakat memungkinkan sebuah aliran dana dari kelas ekonomi kuat ke kelas ekonomi lemah. Hal ini bisa memperkecil gap antara dua kelas ini. Bertolak belakang dengan konsep kapitalisme yang membuat yang kaya akan semakin kaya sedangkan yang miskin akan semakin miskin.

Seperti orang kebanyakan, saya tidak terlalu paham fiqih zakat mal. Jadi mohon jangan jadikan artikel ini sebagai referensi. Tetapi hal yang perlu diketahui di sini adalah macam harta apa saja yang wajib dikeluarkan zakatnya. Dalil aslinya menyebutkan bahwa yang termasuk dalam “objek zakat” adalah hewan ternak, pertanian, emas dan perak, harta perniagaan, hasil tambang dan barang temuan. Kemudian, hal penting berikutnya adalah berapa nisab-nya dari masing-masing harta itu. Nisab adalah batas minimum suatu harta dikenakan zakat. Contohnya adalah nisab emas yang 85 gram. Jika Anda punya investasi LM dibawah 85 gram, maka itu tidak wajib dikeluarkan zakatnya.

Menjadi lebih sulit karena pada zaman sekarang banyak sekali macam-macam harta. Jika dilihat, saya tidak memiliki harta yang wajib dizakati. Mungkin hanya beberapa gram logam mulia yang belum masuk nisabnya. Harta saya sisanya dalam bentuk tabungan, saham, dan reksadana. Tetapi jika itu dianalogikan sebagai emas, maka jelas sudah masuk nisab dan wajib dikeluarkan zakatnya.

Saya khawatir jika masalah zakat ini dipersulit, saya akan seperti Qarun yang selalu menghindar ketika diseru Nabi Musa untuk mengeluarkan zakat. Qarun tidak pernah menolak mengeluarkan zakat tetapi ia berdalih butuh waktu untuk menghitung jumlah hartanya yang jika semua kunci brankasnya dikumpulkan, maka tidak akan mampu dipikul oleh seorang yang kuat. Kerumitan accounting hartanya menyebabkan perlu waktu yang panjang sampai tahun depannya lagi pun belum selesai. Alasan itulah yang dipakai Qarun untuk menghindar dari pengeluaran zakat.

Karena itu, gampangannya, saya menganalogikan semua instrumen investasi dalam bentuk zakat emas. Saya tidak sependapat dengan zakat profesi, sehingga saya tetap berpegang pada dalil zakat mal, dan menzakatkan harta dari penghasilan profesi saya menurut hukum zakat mal emas.

Saya mengambil cut-off date pelaksanaan zakat pada setiap bulan Ramadhan. Sejak harta saya masuk nisab zakat, saya meminta ibu saya sebagai amil zakat untuk disalurkan ke yang berhak di kampung saya di Tulungagung. Saya ingat bahwa dalam melaksanakan zakat, infaq, dan sodaqoh, sebaiknya mulai dari orang terdekat kita terlebih dahulu. Untuk alasan inilah saya memutuskan untuk mengelola pengeluaran zakat secara mandiri tidak menggunakan badan amil zakat.

Dan dari ibu saya, saya diajarkan bagaimana mengeluarkan zakat dengan baik dan benar. Mindset-nya adalah melayani dan memuliakan orang yang diberi zakat. Karena dalam hal ini sebenarnya kita lah yang butuh mereka, bukan sebaliknya. Ini kewajiban lho, bukan sembarangan. Tanpa mereka, kewajiban tidak akan pernah tertunaikan. Jadi ibu saya mendatangi mereka satu per satu, dari rumah ke rumah. Jauh lebih capek ketimbang mengundangnya ke rumah tentu saja. Tetapi ibu saya mengajarkan satu konsep penting: memuliakan orang yang diberi zakat.

Dalil yang berbunyi “Tidaklah berkurang harta dengan shadaqah” itu benar sekali. Saya yakin betul, harta yang telah dikeluarkan dalam bentuk zakat dan infaq itu telah dikembalikan Allah dengan berlipat ganda. Secara hitungan accounting kapitalis mungkin tidak (meskipun seringkali juga iya, seperti yang didakwahkan ustadz Yusuf Mansur). Saya selalu berpamrih untuk selalu didoakan oleh tetangga-tetangga saya itu. Dan setiap tahun saya rasakan doa-doa mereka selalu dikabulkan oleh Allah. Tahun ini, saya mengharapkan doa saya yang satu itu dikabulkan Allah: dikirimi seorang bidadari surga yang menjelma dalam sosok seorang isteri. :mrgreen:

Amin hehe…

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 comments

  1. aamiin.. semoga bidadari itu lekas datang bro.

    soal zakat, banyak referensi memang mengqiyas zakat yang tidak terdefinisi dari macam2 penghasilan jaman sekarang dengan nisob emas..

  2. amiiinn… i pray 4 ur happiness, mas 😀

    terlepas dr konsep “memuliakan yg diberi zakat” nih, apakah kita perlu memperhitungkan bahwa misal di kampung ada 10 hartawan & semuanya mengeluarkan zakat maal dlm waktu bersamaan & dg cara pembagian mandiri seperti itu tadi,
    maka kemungkinan para penerima zakat menerima lebih dari 1 orang hartawan.
    sedangkan kalau melalui BAZIS, mungkin penyebarannya merata.. ??
    *just asking*

    thx mas ustadz 🙂

    1. Sebenarnya aku sendiri tidak terlalu masalah jika pembagiannya tidak merata. Artinya itu bagus sekali, kesadaran berzakat sudah membudaya di kampung tersebut. Dan untuk alasan “guyub rukun” di kampung itu. Masalahnya sekarang kadang-kadang jika zakat disalurkan melalui Badan ZIS, psikologis beramalnya jadi tidak terasa. Transfer, udah beres gitu. Kalau disalurkan mandiri begini, kita bisa melihat efeknya dan bisa sampai nangis-nangisan, sehingga mendorong untuk bisa berzakat dan beramal lebih besar lagi tahun depan.

  3. Soal zakat profesi, saya lebih condong ke penghitungan nisab selama satu tahun. Itupun setelah dikurangi biaya hidup selama 12 bulan. Meski demikian, sejumlah ahli ada yang mengisyaratkan untuk menghitung persentase sebesar 2,5% gaji per bulan. Wallahu a’lam.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *