Bangsa Konsumtif Religius

Catatan Minggu Pertama Ramadhan 1433 H

Saya akan membahas soal budaya dan tradisi kita yang cukup unik dalam menyambut bulan Ramadhan dan hari raya Lebaran. Indonesia adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim yang memiliki tradisi kedaerahan yang sangat beragam sehingga tidak heran jika cara menyikapi kedatangan bulan Ramadhan ini juga cukup unik dibandingkan dengan negara lain.

Jika judul saya ini terasa seperti sebuah sindiran, sebenarnya tidak begitu. Saya sangat bersyukur bisa menjalankan puasa di kampung halaman sendiri, Indonesia. Di sini mudah menemukan masjid. TlecekanΒ kalau kata orang Surabaya. Saya sering diselamatkan dengan kondisi ini ketika terjebak macet di sore hari waktu Maghrib. Sejam di Jakarta di jam pulang kantor mungkin hanya setara dengan 1 kilometer perjalanan. Nah, banyaknya masjid ini sering menyelamatkan saya agar tidak kelewat waktu.

Euforia puasa juga membuat puasa Ramadhan terasa jauh lebih ringan. Lingkungan terkondisikan dengan suasana yang sangat religius. Di hari pertama, tiba-tiba puluhan penjual makanan kaki lima di belakang kantor serempak menghilang. Ya meskipun jadi kasihan juga buat yang tidak sedang menjalankan puasa. Dilaksanakan bersama-sama dengan setiap orang terkondisikan suasana Ramadhan, puasa wajib 30 hari menjadi tidak terlalu berat.

Bahkan lebih berat puasa sunnah Senin-Kamis. Saya, dengan tingkat keimanan yang masih tipis begini, bisa dengan mudah membatalkan puasa sunnah hanya karena ada teman di Finance yang sedang berulang tahun dan membagi-bagikan pisang pasir favorit saya! Teman-teman saya meledek habis bahwa begitu murahnya harga keimanan saya, hanya seharga sepotong pisang pasir, hehehe…

Euforia dan Tradisi

Di satu sisi, euforia dan tradisi yang terjadi serempak di setiap sudut kampung di Indonesia adalah satu hal yang patut disyukuri karena setiap orang mengistimewakan bulan yang memang sangat istimewa ini buat umat Islam. Bahkan yang non-muslim juga senang, karena bisa ikut merayakan euforia tradisi dengan menikmati makanan-makanan khusus yang hanya muncul di bulan Ramadhan, dan juga bisa ikut berbisnis jualan kue lebaran.

Di lain sisi, saya mengkhawatirkan bahwa banyak orang telah salah fokus dan salah memahami substansi. Esensi puasa sendiri telah bergeser menjadi perayaan tradisi. Ekstremnya, tradisi telah menjadi berhala baru. Kita tidak berpuasa untuk Allah, tetapi berpuasa karena lingkungan terkondisi dan sedikit memaksa untuk berpuasa — karena jika tidak berpuasa kita akan dikucilkan dan dianggap tidak religius, jauh dari agama, abangan, kafir dan sesat!

Hal yang paling mudah diperhatikan adalah jumlah jamaah shalat Tarawih. Malam pertama Ramadhan, setelah ulama selesai berdebat menentukan hilal, tidak ada masjid yang tidak lega. Semua penuh sesak, semua bertakbir, bertahmid, bershalawat dalam satu barisan yang lurus dan rapat. Masjid Al-Hikmah yang tarawihnya paling berat pun, jamaahnya sampai tumpah ruah ke serambi.

Minggu-minggu berikutnya, jumlah jamaah semakin menyusut. Kita seperti tidak peduli bahwa semakin ke belakang, semakin banyak obral bonus pahala yang ada. Sepuluh malam terakhir dimana puncak dari setiap berkah anugerah dari Allah, kita malah kompak berjamaah di mall-mall. Mengejar bonus diskon besar-besaran yang dengan cerdik selalu ditempatkan pengusaha di hari-hari terakhir Ramadhan. Belanja kebutuhan untuk tampil prima di hari-hari lebaran. Lima hari terakhir, mungkin ibadah sudah tidak dipikirkan lagi oleh kita semua. Kita sudah sibuk berebut jalan untuk mudik di kampung halaman.

Jebakan Halus Setan

Bukankah ini agak ironis? Bukankah tidak salah bahwa kita telah kehilangan substansi puasa Ramadhan itu sendiri? Setan memang telah dibelenggu selama Ramadhan, tetapi mereka telah menyiapkan jebakan super halus yang telah diotomatisasi agar bisa bekerja sendiri. Mereka telah menyiapkan sistem bernama euforia dan tradisi.

Bahkan jebakan halus itu tidak hanya sebatas itu. Saya tersentak ketika saya mereview program Ramadhan saya, tiba-tiba bisikan hati saya bilang, “Kamu tarawih susah payah setiap malam itu, untuk Allah ta’ala, atau untuk memenuhi rekor dan target minimal absen 5 kali itu?”. Ini sangat halus karena dalam niat beribadah yang lebih baik daripada Ramadhan tahun kemarin, masih saja bisa berbelok tidak langsung untuk Dia. Bukankah seharusnya segalanya adalah Dia?

Segala program Ramadhan yang telah saya buat itu seharusnya hanya menjadi sebuah tools pengukur Matematis, tetapi seharusnya motivasinya sendiri bukan karena untuk memenuhi program, tetapi tetap karena Allah ta’ala.

Sudah seminggu kita berpuasa, dan saya yakin semuanya masih dalam full speedΒ nya karena kita memang dibantu oleh euforia dan tradisi. Tetapi, hari-hari ke depan ini, euforia dan tradisi sudah tidak terlalu berpihak untuk penyemangat ibadah, malah justru sedikit melawan. Di sini tingkat kemalasan akan meningkat cepat, di saat yang sama akan semakin banyak “gangguan”, seperti undangan buka bersama, keharusan belanja kebutuhan lebaran, pekerjaan yang menuntut harus dikerjakan lembur, dsb.

Ramadhan itu hanya datang setahun sekali, tahun depan belum tentu kita mengalaminya lagi. Sebelas bulan kita telah mengutamakan kepentingan duniawi, kenapa tidak sekali ini saja kita coba mengutamakan kepentingan akhirat dulu. Dunia hanyalah senda gurau dan permainan belaka, kenapa kita mati-matian membelanya? Sekali-sekali, mari mengutamakan yang lebih hakiki dan abadi…

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

15 comments

  1. Saya pasti jarang baca blogmu karena saya tidak mengenali gaya tulisan Galih yang ini. Apakah ini gaya tulisan Galih yang blogger atau memang Galih sedang belajar jadi ustadz? Ini penuh khotbah khas tausiyah yang sering dilontarkan selama tujuh menit pada jam empat pagi di tivi-tivi.

  2. wah, udah renungan tingkat dewa nih…
    mas galih, saya berpuasa ramadhan karena saya sudah berpuasa sejak kecil. anehnya, inilah satu2nya ritual islam yang tidak bisa saya tinggalkan.
    Apakah saya berpuasa karena Allah Swt? mungkin iya, mungkin tidak. Saya gak terlalu ambil pusing. Yang jelas saya sangat menikmatinya.

    1. Hehehe, nggak mas, apalah saya ini. Iman dan Islam saya mungkin masih tipis ukurannya. :mrgreen:

      Menurut saya itu karena Allah mas. Saya juga diajari berpuasa dari kecil, dan merasa sayang kalau ini ditinggalkan. Kalau karena tradisi, tentunya tidak seberat itu buat meninggalkan ketika ada suatu halangan. Moga-moga kita semua niatnya lurus karena Allah ta’ala ya. Amiin. πŸ™‚

  3. salam kenal ya kak.
    Menurutku, bukankah agama beserta ibadah-ibadahnya itu merupakan bagian dari tradisi ya? Tradisi yang memang hukumnya wajib dijalankan, baik itu yang tidak tampak, ataupun yang tampak. Selagi tradisi itu bernilai positif, tidakkah hal itu berdampak baik. Terlebih lagi, tradisi itu dijalani dengan tulus dan ikhlas.

    1. Terima kasih inputnya. πŸ™‚
      Ibadah memang tradisi, tetapi di sini terjadi paradoks, bukan tradisi ibadahnya yang menjadi fokus, tetapi tradisi perayaannya, buka spesial, mall rame, mudik lebaran, dll.

  4. Puasa bagi saya yg katanya abangan ini adalah menahan diri dalam segala hal. Itulah puasa. Jg melatih diri untuk melakukan apa yg tdk saya senangi.
    Puasa ada dlm seluruh nafas kihidupan kita.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *