Dear Diary

Tadi siang ada pengumuman di mailing list bahwa panitia kegiatan Ramadhan di kantor sedang mengadakan lomba curcol Ramadhan. Langsung saya ingat kalau awal-awal saya membuat blog ini yang isinya curhat mlulu. Kebetulan tadi juga si Dhika di chatting entah kesambet apa tiba-tiba mengutip salah satu postingan saya yang paling galau. Iya sih, postingan yang mendayu-dayu itu telah mengalami pengikisan makna menjadi galau.

Jadi ini hasil karya saya barusan. Spontan begitu saya masih bisa bikin postingan yang galau lho ternyata. Saya mengapresiasi diri sendiri yang begitu cepatnya menemukan kosa kata “berdentam-dentam”, “bertalu-talu”, “sedang dilanda badai cinta sedahsyat badai Katrina”.

Dear diary,

Ada ngga sih cara supaya ngga galau di bulan Ramadhan? Tiap kali menjelang sahur rasanya hati ini kok berdentam-dentam bertalu-talu, selalu ingat masa-masa ketika ada seseorang yang menemani setiap makan sahur. Meskipun hanya sekadar sebuah miscall, tetapi buat orang yang sedang dilanda badai cinta sedahsyat badai Katrina, itu berarti banyak. Itu artinya sebuah perhatian. Sedikit bisa mengurangi suasana dingin di dini hari.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *