Sisi Negatif Investasi Logam Mulia

Logam Mulia (LM) atau disebut juga emas, dalam bentuk macam-macamnya: batangan, dinar, dsb, adalah instrumen investasi yang sangat populer — paling tidak sudah diterima banyak kalangan (kelas menengah) sebagai instrumen investasi yang lebih dipercaya dan lebih menguntungkan daripada deposito.

Di sini saya ingin mengingatkan, bahwa LM bukanlah tidak punya kelemahan. Biasanya toko emas bilang kalau harga emas susah turun. Saya bilang bukan susah turun, tetapi gejolaknya relatif lebih rendah daripada saham atau forex. Dan perlu diketahui, bahwa komoditas seperti LM memiliki dua macam harga, yaitu harga beli dan harga jual kembali. Artinya, ketika kita membeli LM, pada saat itu juga nilainya jatuh hingga titik harga jualnya. Saya beli LM di awal tahun dengan harga rata-rata sekitar Rp. 510.000. Sampai saat ini, tidak pernah Antam merilis harga jual di atas Rp. 510.000. Artinya unrealized gain  saya masih negatif.

Di sini dapat dilihat bahwa selain lambat geraknya, perlu waktu yang cukup lama untuk mendapatkan keuntungan dari margin harga. Logam mulia sudah cukup berisiko, dan anda akan menambah faktor risikonya menjadi dua kali lipat ketika memakai metode berkebun emas yang bukunya jadi best seller dan diseminarkan dimana-mana itu. Berkebun emas hanya oke ketika harga emas stabil naik, bukan stabil naik turun. Anda rugi berlipat ketika harga emas meluncur turun.

Terus banyak orang juga yang beranggapan kalau LM (apalagi dinar) adalah investasi paling syar’i. Menurut saya ini pemahaman yang terlalu sempit. Apapun yang paling syar’i bisa menjadi haram jika niat dan perlakuannya tidak syar’i. Contohnya berkebun emas itu tadi. Saya mengkhawatirkan segi syar’i-nya karena berkebun emas ada faktor leverage-nya.

Kalau mau jujur-jujuran, investasi di sektor keuangan tidak ada yang benar-benar syar’i secara murni. Prinsipnya kan “menimbun” lalu berharap keuntungan lewat capital gain. Cara kapitalis memperkaya diri.

Investasi yang benar-benar syar’i ya investasi di sektor real! Bisnis. Karena di sana ada uang yang beredar, menggerakkan roda ekonomi umat. Tidak ditimbun. Emas syar’i karena nilainya tidak banyak berubah dalam waktu yang sangat lama. Makanya dipakai sebagai alat tukar di jaman nabi. Tetapi apa iya ketika emas dijadikan alat untuk investasi untuk mendapatkan capital gain masih syar’i? Menabung dan investasi itu cara kapitalis (capital gain — kapital!). Dalam sejarah-sejarah, seingat saya sahabat-sahabat nabi tidak pernah mengajarkan menabung. Yang diajarkan adalah zakat, infaq, sodaqoh, dan sisanya diputar lagi dalam bisnis. Keuntungan bisnis diambil untuk zakat, infaq, dan sodaqoh, lalu diputar lagi. Begitu seterusnya. Dan lihat hasilnya di era Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pemerataan kesejahteraan sampai-sampai baitul mal kebingungan mencari orang yang bisa diberi zakat.

Well, saya menulis begini karena ada banyak orang yang fanatik hanya investasi di emas karena syar’i, membawa-bawa dalil-dalil bermeter-meter. Saya setuju, tapi jangan fanatik buta. Perlu diperiksa dulu niat dan cara menginvestasikan instrumen yang syar’i ini.

Disclaimer: Penulis adalah orang awam, bukan kiai atau ustadz, bukan pula ahli perencanaan keuangan.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 comments

  1. sangat setuju. invest terbaik adalah bisnis real! makanya ayo mulai bisnis real apa aja, mulai jualan penthol hingga jualan barang lunak 🙂

    kalo toh mau beli LM, niatkan aja misalnya “daripada duitnya ilang ndak berbekas, lebih baik ‘dibelikan’ dinar sebulan sekeping”

    kalo terlalu berharap dan itung2an layaknya investasi, bisa stress kalo nilainya anjlok.

    kalo niat yg pertama tadi, kalo toh nilainya anjlok, masih mending daripada duitnya habis sama sekali alias “ora nyanthol”

  2. Tulisan yang menarik dan fair. Saya setuju sekali dengan pernyataan bahwa harga emas langsung jatuh saat dibeli. Kenyataannya memang perbedaan harga beli dan jual emas berada di kisaran 10% dan artinya jika memang ingin mengambil untung dari emas maka seseorang harus menunggu harga JUAL emas naik ke level di harga kita BELI atau harus mengharapkan kenaikan harga pasar emas lebih dari 10%. Dengan asumsi harga emas naik 15% pun (seperti yang banyak dipakai sebagai benchmark pertumbuhan oleh beberapa ahli emas), real return dari emas hanya berada di angka 5%. Artinya, mendingan masukin deposito, hehehe…

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *