Pesan Gus Mus Menyambut Ramadhan

Dari salah satu kiai kharismatik favorit saya, KH. A Mustofa Bisri, saya mengutip pesan menyambut bulan Ramadhan dari potongan twit beliau di @gusmusgusmu, yang saya rangkum menjadi bentuk teks. Saya tidak suka model chirpstory yang suka dipakai para dostwit yang hobi kultwit itu. Berikut adalah pesan yang beliau tujukan untuk diri sendiri, mari bersama-sama merenungkan maknanya. Yuk.

***

NASIHAT RAMADAN BUAT A. MUSTOFA BISRI

Mustofa,
Jujurlah kepada dirimu sendiri mengapa kau selalu mengatakan Ramadan bulan ampunan apakah hanya menirukan Nabi, atau dosa-dosamu dan harapanmu yang berlebihanlah yang menggerakkan lidahmu begitu.

Mustofa, Ramadhan adalah bulan antara dirimu dan Tuhanmu. Darimu hanya untukNya dan Ia sendiri tak ada yang tahu apa yang akan dianugerahkanNya kepadamu. Semua yang khusus untukNya khusus untukmu.

Mustofa,
Ramadan adalah bulanNya yg Ia serahkan padamu dan bulanmu, serahkanlah semata-mata kepadaNya. Bersucilah untukNya. Bersalatlah untukNya. Berpuasalah untukNya. Berjuanglah melawan dirimu sendiri untukNya.

Sucikan kelaminmu. Berpuasalah. Sucikan tanganmu. Berpuasalah. Sucikan mulutmu. Berpuasalah. Sucikan hidungmu. Berpuasalah. Sucikan wajahmu. Berpuasalah. Sucikan matamu. Berpuasalah. Sucikan telingamu. Berpuasalah. Sucikan rambutmu. Berpuasalah. Sucikan kepalamu. Berpuasalah. Sucikan kakimu. Berpuasalah. Sucikan tubuhmu. Berpuasalah. Sucikan hatimu. Sucikan pikiranmu. Berpuasalah.

Berpuasalah. Sucikan dirimu.

Mustofa, Bukan perut yang lapar bukan tenggorokan yang kering yang mengingatkan kedaifan dan melembutkan rasa. Perut yang kosong dan tenggorokan yang kering ternyata hanya penunggu atau perebut kesempatan yang tak sabar atau terpaksa. Barangkali lebih sabar sedikit dari mata, tangan, kaki, dan kelamin, lebih tahan sedikit berpuasa. Tapi hanya kau yang tahu hasrat dikekang untuk apa dan siapa.

Puasakan kelaminmu untuk memuasi Ridha. Puasakan tanganmu untuk menerima Kurnia. Puasakan mulutmu untuk merasai Firman. Puasakan hidungmu untuk menghirup Wangi. Puasakan wajahmu untuk menghadap Keelokan. Puasakan matamu untuk menatap Cahya. Puasakan telingamu untuk menangkap Merdu. Puasakan rambutmu untuk menyerap belai. Puasakan kepalamu untuk menekan Sujud. Puasakan kakimu untuk menapak Sirãth. Puasakan tubuhmu untuk meresapi Rahmat. Puasakan hatimu untuk menikmati Hakikat. Puasakan pikiranmu untuk meyakini Kebenaran. Puasakan dirimu untuk menghayati Hidup. Tidak. Puasakan hasratmu hanya untuk Hadhirat-Nya!

Mustofa,
Ramadan bulan suci katamu, kau menirukan ucapan Nabi atau kau telah merasakan sendiri kesuciannya melalui kesucianmu. Tapi bukankah kau masih selalu menunda-nunda menyingkirkan kedengkian, keserakahan, ujub, riya, takabur dan sampah-sampah lainnya yang mampat dari comberan hatimu?

Mustofa,
Inilah bulan baik saat baik untuk kerja bakti membersihkan diri.

Mustofa,
Inilah bulan baik saat baik untuk merobohkan berhala dirimu yang secara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi kau puja selama ini. Atau akan kau lewatkan lagi kesempatan ini seperti Ramadan-Ramadan yang lalu.

Selamat Berpuasa Ramadan!

Published
Categorized as Islam

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

1 comment

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *