Ketika Pengeluaran Sudah Efisien

Dalam buku saya “Merencanakan Keuangan dengan GNUCash”, hanya ada dua komponen dalam pengelolaan Cash Flow, yaitu pemasukan dan pengeluaran. Saya banyak membahas pengeluaran karena buat saya ada ruang yang luas untuk diotak-atik di bagian pengeluaran ketimbang pemasukan. Mengatur pengeluaran adalah mengatur bagaimana cara kita hidup dan gaya hidup. Sedangkan pemasukan, bagi kita yang rata-rata adalah staf profesional, gaji adalah pemasukan yang besarannya tetap dan paling-paling kenaikannya hanya untuk mengimbangi inflasi setiap tahunnya.

Teman saya bertanya, apa yang harus dilakukan ketika pengeluaran sudah efisien — sudah mentok tidak bisa diperkecil lagi, kalau harus diperkecil hidup jadi sengsara. Tidak ada pilihan lain, harus menaikkan pemasukan. Caranya? Nah!

Bagaimana caranya supaya kita digaji lebih tinggi? Salah satu cara yang sering dipakai teman-teman saya adalah meloncat pindah kerja ke perusahaan lain. Saya tidak suka cara ini (dan kenyataannya dari sejak lulus sampai sekarang saya masih bekerja di perusahaan yang itu-itu saja). Pindah kerja tidak hanya pindah pekerjaan, tetapi segala hal yang akan mewarnai hari-hari kita akan berubah total.

Secara nominal gaji memang akan naik, tetapi siapa jamin kita akan menemukan suasana yang sama enaknya di perusahaan baru? Apakah teman-temannya sehangat sekarang? Atau bukannya malah penuh intrik dimana karyawannya bekerja sampingan menjadi politikus lokal? Atau lifestyle dari lingkungan sekitar, misalnya. Andai saya di Chevron Indonesia yang berkantor di Sentra Senayan (yang berhubungan langsung dengan Plaza Senayan, selemparan batu ke Senayan City), saya tidak yakin saya bisa mempertahankan pengeluaran seperti sekarang dimana kantor jauh dari mal.

Lalu bagaimana dengan fasilitas-fasilitas non gaji lainnya, seperti misalnya ekskul olahraga, seni, dan keagamaan? Terus terang yang membuat saya betah bekerja di tempat sekarang adalah bahwa keagamaannya hidup dan semarak. Alhamdulillah saya berhasil shalat lima waktu tidak bolong-bolong lagi ya di kantor ini (kebetulan meja saya dekat mushola hehe). Itu saja sudah pencapaian yang luar biasa buat saya.

Itu pertimbangannya. Apakah nggak boleh pindah kerja? Tentu saja boleh — saya juga tidak mungkin selamanya akan bekerja di tempat ini terus, saya tidak ingin mendapatkan Service Award setelah 30 tahun bekerja di tempat yang sama. Saya juga akan loncat ketika saya telah tiba di puncak — atau mentok tidak bisa ke puncak.

Jadi bagaimana cara menaikkan penghasilan tanpa loncat pindah perusahaan? Ya minta naik gaji, hehe…

Dengan cara sehat tentunya. Tingkatkan skill dan performance pada pekerjaan. Pegang posisi-posisi strategis. Hanya atasan yang bebal yang tidak bisa melihat kemajuan bawahannya dalam melaksanakan pekerjaan. Atasan yang baik akan memberikan kepercayaan lebih, dan ketika kepercayaan yang lebih itu bisa kita selesaikan dengan brilian, gaji akan terkatrol dengan sendirinya. Iya kan, posisi kan naik, gaji tentunya juga akan naik.

Karena setiap atasan akan selalu melihat potensi anak buahnya. Atasan selalu mencari siapa yang bisa dipercaya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar. Ketika seorang atasan melihat salah satu anak buahnya biasa-biasa saja, ia akan diberikan pekerjaan yang biasa juga. Iya dong, tidak mungkin dia memberikan pekerjaan kepada orang yang ia sendiri tidak yakin bisa mengerjakan. Buntutnya, tidak ada justifikasi yang masuk akal untuk menaikkan gaji orang tersebut. Cara meyakinkannya, ya hanya dengan menunjukkan performance yang luar biasa. Exceed Expectation kalau orang HR di kantor saya bilang.

Tapi cara yang ini adalah cara yang tidak instan – cara yang baru kelihatan hasilnya dalam waktu berbulan-bulan hingga tahunan. Karena ini adalah proses pembangunan reputasi. Perlu kerja keras dan konsistensi yang panjang. Dan sialnya ketika atasan Anda memang bebal, Anda tidak akan mendapatkan apa-apa. Cara yang lebih instan sudah saya bahas di atas: loncat pindah kerja atau menjadi politikus lokal, hehehe…

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 comments

  1. jaman skrg mau jadi politikus lokal sekalipun ndak cukup dengan popularitas lho bro, modalnya gedheeeee…

    denger2 orang mau jadi sambong (staff desa) aja nyogoknya sampe ratusan juta! :))

  2. setuju… kalo gak pindah kerja, ya minta naik gaji (yang itu gak gampang dipenuhi atasan sebelum melihat kinerja karyawan) 🙂

    jadi inget para karyawan di tempat saya magang dulu. Ada yg muda udah jadi manajer dg gaji belasan juta, ada yg sudah tua & mau pensiun masih di posisi staf & masih aja kurang terampil ber-komputer, yang gajinya meningkat krn kenaikan jenjang fungsional secara berkala (berdasarkan lama bekerja).

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *