iPad atau Galaxy Tab atau eBook Reader?

Apa tablet PC terbaik yang ada di pasaran saat ini? Dari sedikit pengetahuan saya, yang paling populer adalah Apple iPad dan Samsung Galaxy Tab. Bahkan brand iPad sudah mulai men-generic. Tablet PC mulai disebut iPad. Jadi ada iPad, iPad Cina, iPad Android, dll. Dan apa ebook reader terbaik? Menurut saya hanya Kindle dari Amazon.

Oke, mengapa saya punya pertanyaan ini? Alkisah beberapa bulan yang lalu, saya mematahkan Kindle saya waktu mau bangun dari tempat tidur. Ebook Reader yang tipis itu seperti kayu rapuh yang saya patahkan dengan lutut. Tidak sampai patah sih, cuma layar e-ink nya setelah itu cacat dan tidak bisa dipakai lagi. Sedih.

Lalu saya berpikir, perlukah saya membeli lagi sebuah ebook reader, atau ganti ke tablet PC saja?

Pengalaman memakai Kindle, layar e-ink nya tidak terlawan. Benar-benar bisa mensimulasi kertas dengan baik. Dan karena dia tidak mengeluarkan cahaya, jadi Kindle sangat nyaman di mata. Apalagi bobotnya yang ringan, kita jadi seperti membaca buku.

Kelemahannya sayangnya cukup banyak. Namanya ebook reader, ia hanya enak untuk membaca ebook yang berformat mobi atau azw (format umum epub tidak didukung Kindle). Tidak ada ebook reader yang bisa menangani PDF dengan baik. Selain tidak bisa reflow, kemampuan zoom in dan zoom out nya juga terbatas. Padahal, mayoritas ebook saya adalah PDF, dan ketika di-convert ke mobi hasilnya cukup berantakan.

Kelemahan yang lain, e-ink tidak bisa menangani halaman yang berwarna sehingga ia bukan alat yang cocok untuk membaca majalah FHM, hehe… Kesimpulannya, Kindle sudah bukan merupakan kebutuhan keinginan saya.

iOS Ataukah Android?

iPad jika dibandingkan dengan Galaxy Tab, untuk kelas yang sama, memang overpriced. Secara spesifikasi hardware iPad memang lebih mahal. Tetapi bagaimana mengkuantifikasi keindahan grafis, user experience, dan hal-hal yang bersifat kualitatif? Spesifikasi teknis gampang diukur dan dibandingkan, tetapi bagaimana menceritakan pengalaman pemakaian?

Kelemahan iPad yang lain adalah masalah fleksibilitas. iPad tidak memiliki fitur untuk menambah kapasitas disk melalui SD Card. Bahkan iPad tidak memiliki akses yang eksplisit untuk manajemen file. Tidak ada folder yang jelas di iPad. File yang ada hanya akan terlihat di level aplikasi seperti iTunes, iBooks, dan lain-lainnya.

Keterbatasan ini tentu menyulitkan, tetapi dalam beberapa hal akan menguntungkan, terutama dalam masalah hak cipta. Karenanya Gramedia dan Mizan mulai berani menjual ebook dan majalah mereka melalui aplikasi newsstand nya. Karena buku-buku itu hanya bisa dibuka di aplikasi yang spesifik buatan mereka sendiri, risiko untuk di-distribusi tanpa izin lebih terlindungi. Dicopy teksnya aja tidak bisa.

Saya ini sudah bertahun-tahun ada di posisi developer, researcher, programmer… IT Guy yang selayaknya mengerti jeroannya sistem IT dan menuntut fleksibilitas lebih dalam pemakaian gadget. Tetapi saya tidak pernah benar-benar ada di posisi pengguna awam yang menikmati kemajuan teknologi untuk membantu hidup mereka menjadi lebih menyenangkan. Karena itu, saya memilih iPad dengan alasan tersebut. Toh, paling juga habis ini saya akan “memperkosa” iOS ini dan bikin aplikasi yang bisa dijual (intinya cari duit lagi).

iPad 2 Atau New iPad?

Saya melihat iPad generasi pertama di kelas di bulan-bulan awal saya kuliah S2. Pada saat itu, saya menganggap belum saatnya. Sistem operasi iOS yang tidak mendukung multitasking sangat menggelikan untuk ukuran zaman 2010-an. Ketika iPad 2 datang, saya sudah kagum dan mulai bermimpi bisa memilikinya. Tapi display nya masih bikin sakit di mata.

Berbicara tentang retina display di iPad generasi ketiga, secara kasat mata mungkin tidak terlalu banyak bedanya di iPad 2. Anda perlu mencobanya sendiri dan merasakan bedanya. Saya hanya merasa kalau retina display sangat menyenangkan. Mata tidak terlalu cepat lelah (meskipun belum bisa menyamai eink nya Kindle). Saya hanya melihat sebuah tampilan display grafis yang halus dan indah, itu saja.

Akhir tahun 2011 yang lalu, saya masih memilih netbook ketimbang tablet. Tetapi insiden Kindle telah mengubah segalanya. Dan jika Anda melihat tablet punya saya, tidak akan ada game di sini. Saya fungsikan tablet ini sebagai ebook reader++, ya baca buku, twitteran, dan jual beli saham kalo pagi. (who was telling me that it was better for me to have 16 gigs version rather than 32 gigs — she has already known me well I guess, though it should not be happened that way :p )

Published
Categorized as Review

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

9 comments

  1. alasan saya beli tablet android murahan adalah mengejar fungsinya: bisa buka browser yang support javascript/ajax buat mengeksekusi transaksi di manapun.. dengan tas kecil yang ringan jauhlah beda dibanding membawa netbook/laptop dengan backpack berat. adapun ipad, ukurannya terlalu gede. coba kalo ada versi 7″ saya pasti beli segera :d

    1. Lha kebalikannya dengan saya cak bro, saya butuh buat baca buku, setelah dipikir-pikir resolusinya iPad itu pas buat baca buku, utamanya PDF yang kalau layarnya kekecilan juga nggak enak. 😉

  2. layar e-ink rusak juga terjadi pada kindleku (yeah, yang kita samaan kan?) tapi sudah punya kindle penggantinya sih.

    soal tablet, kalo begitu aku lebih minta ‘dibelikan’ Gtab 8.9 aja kalo begitu 🙂

  3. oh, jadi Kindle itu gak mengeluarkan cahaya ya? kalo mau baca pas malem/ lagi di tempat yg gak banyak cahaya, masih keliatan ya tulisannya?
    –> kadang komen saya memang tidak berbobot 😀

  4. Pelajaran:
    1. Jangan naruh kindle di lantai atau di kasur saat tidur. Bahaya!
    2. Taruh alat2 elektronik di meja.
    3. Mbok ya kamarnya dirapiin. :))
    4. New Ipad? Gw males lihat pricetag-nya sih.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *