Safety Awareness

Lusa kemarin, waktu President & CEO pabrik tempat saya bekerja, Pak Gunther Newcombe, akan memulai presentasinya, beliau melihat banyak tas-tas yang ditaruh di sebelah kursi di bawah meja bulat yang berisi sekitar tiga atau empat orang. Beliau langsung menyuruh kami menaruh tas-tas tersebut di belakang sambil berkata, “Safety begins from this room…”

Kedengarannya remeh. Tetapi tindakan itu adalah tindakan meminimalisir risiko untuk seseorang tersandung dan terjatuh. Kita tidak tahu efek dari jatuh tersungkur bukan? Meminimalisir risiko, itu pesan utamanya.

Tindakan itu juga untuk meningkatkan kesadaran akan keselamatan. Risiko ada dimana-mana. Sayangnya, kita orang Indonesia memiliki kesadaran yang sangat minim dalam menyadari dan mengerti sebuah risiko. Keselamatan pribadi selalu dianggap sebagai hal yang remeh.

Contohnya banyak. Pengendara sepeda motor yang ngebut dan zig-zag di kemacetan lalu lintas. Apa mereka tidak sadar akan bahaya maut yang mengintai? Memakai handphone di saat menyetir, bahkan ketika situasi sedang sepi. Memangku anak di depan (supaya bisa lihat pemandangan). Jika terjadi apa-apa, sang anak akan langsung membentur dashboard, dan ibunya akan lebih aman karena memakai safety belt. Meluncur di jalur bahu jalan tol atas nama dikejar waktu.

Banyak kecelakaan yang terjadi dimulai karena kecerobohan sang pelaku. Di Bogor, seorang anak SD harus diamputasi kakinya karena terjatuh saat mengejar KRL. Andai saja dia menyadari risiko keselamatan, dan memilih untuk pulang terlambat setengah jam untuk menunggu kereta berikutnya, ia tak harus kehilangan kakinya seumur hidup.

Saya, harus menerima kondisi lutut kanan saya tidak bisa lagi terkena hentakan keras karena bekas kecelakaan waktu jatuh dari motor kelas 2 SMA dulu, atas nama “anak muda”. Saya sekarang tidak bisa melakukan olahraga seperti lari, sepakbola, futsal, badminton, karate, pencak silat, dan olahraga-olahraga yang menekan lutut semacam itu.

Anda mungkin bilang itu sudah takdir. Tapi, hey, meminimalisir risiko adalah usaha kita untuk menghindari kecelakaan. Apakah setelah itu masih saja terjadi kecelakaan, itu sudah di luar kekuasaan manusia. Yang harus diusahakan manusia sekuat mungkin adalah mengurangi segala risiko untuk terjadi kecelakaan.

Bekerja di perusahaan yang operasinya tiap hari penuh dengan risiko keselamatan — meskipun saya di headquarternya — membuat saya selalu dididik untuk mengedepankan safety, mulai dari hal yang remeh temeh. Saya pernah ditertawakan waktu saya menolak mengikuti salah satu kegiatan outbond di kampus, karena menurut saya ada risiko di sana, meskipun untuk standar orang lain itu belum ada apa-apanya.

“Three Safety Golden Rules” adalah mantra yang selalu ditanamkan kepada seluruh pekerja. Think, Stop, and Report. Berpikir dulu sebelum bertindak, perhitungkan segala faktor risiko. Hentikan pekerjaan jika menurut Anda pekerjaan tersebut mengandung bahaya. Dan laporkan. Jadi hentikan dulu baru laporkan, bukan sebaliknya.

Marilah kebiasaan mengedepankan safety menjadi kebiasaan yang baik dalam keseharian kita.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

8 comments

  1. huhu bener banget tuh.
    Udah gak keitung saya jatuh dari motor, terakhir beberapa bulan lalu karena “ngintip” HP mas nyetir motor. Tapi alhamdulillah gak pernah sampe fatal.
    Pernah juga di kampus, pas pake rok yg agak kelebaran, nyrimpet di tangga, jatuh, mata kaki terkilir. Sakitnya minta dikasih sate… eh sakitnya minta ampun >.<

  2. cerita di pembuka itu persis ketika minggu lalu salah satu teman akan mempresentasikan proposal thesisnya. semuanya sudah siap, tinggal 1 penguji datang terlambat. begitu datang beliau tergesa-gesa dan akhirnya bruakkkk… kesrimpet kabel!

    1.sang dosen jatuh membentur meja, tangannya terkilir
    2.kabel terlepas dari colokan, harus nunggu booting proyektor lagi 10 menit!

    apa penyebabnya selain dosen yang tergesa-gesa tadi? karena kabelnya tidak dimenej dengan bagus sehingga siapa saja berpotensi kesrimpet :d

  3. Saya sering baca anjuran untuk menaruh sarung tangan di dapur rumah. Jadi kalau mau angkat panci air sebaiknya pakai sarung tangan, mau nggoreng di wajan harus pakai sarung tangan, gitu. Tapi ibu-ibu Indonesia seringkali meremehkan hal itu, katanya itu untuk perempuan-perempuan yang takut jarinya kena panas aja, gitu. Padahal, kalau telapak tangan kena luka bakar, bubar lho, itu akan jadi cacat seumur hidup.

Leave a Reply to Vicky Laurentina Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *