Antara Apple Store dan Android Market

Ada perubahan kebiasaan yang menarik yang saya amati sejak saya memakai produk-produk Apple (yeah, you call it Apple Fanboy), yaitu kesediaan untuk membeli produk/software/service yang saya rasa saya membutuhkannya.

Seperti yang kita (kita? elu aja kali) tahu, di Apple AppStore tersedia banyak sekali software yang bagus, tetapi sebagian besar bukan software yang free. Untuk aplikasi iOS, rata-rata harganya sekitar USD 1 – USD 5. Hanya sekitar Rp. 10.000 – Rp. 50.000. Dan kita tidak dicharge lagi kalau ada update. Ini berbeda dengan Android Market yang mayoritas software nya bisa didownload secara gratis. Ya, meskipun sebenarnya sama saja. Tidak ada sesuatu di dunia ini yang benar-benar gratis, there’s no such free lunch, kebanyakan aplikasi itu akan ada iklannya.

Menurut saya sebagai pengguna, aplikasi-aplikasi di AppStore terkesan dikerjakan dengan rapi dan serius. Dan tentu saja bersih tanpa diganggu oleh kerlap-kerlip banner iklan.

Bagaimana dengan Android? Saya pernah beberapa kali memakai Android. Pertama kali dengan Samsung Galaxy Mini (Android Froyo) hasil suvenir training mobile development di Jogja, terus sempat dipinjami tablet Advan Vandroid (Android Froyo), dan beberapa kali mencoba Galaxy Tab-nya teman.

Di Android Market, adalah aneh jika suatu aplikasi memasang bandrol harga. Dan lebih aneh lagi jika kita mau membelinya karena ada lima puluhan aplikasi alternatif yang tersedia secara gratis. Dan karena gratis, bagi aplikasi yang benar-benar gratis tanpa iklan, terkadang terkesan aplikasi itu asal jadi saja. “Murah kok njaluk slamet?”ย kata sopir bemo di Surabaya (Murah kok minta selamat?).

Di Android Market, saya masih melihat belum banyak aplikasi yang ditujukan khusus untuk tablet. Saya nggak tahu apakah setelah munculnya Gingerbread dan Honeycomb sudah banyak aplikasi khusus untuk tablet. Yang banyak saya temukan adalah aplikasi tersebut adalah untuk Android phone, tetap bisa jalan di Android tablet, tetapi dengan pengalaman (experience) phone — jadi seperti Android phone berlayar besar.

AppStore memisahkan aplikasi-aplikasi untuk iPhone/iPod dan iPad. Ketika mulai menulis program pun, developer sudah ditanya mau bikin di platform apa dan diberikan lembar kerja XCode yang berbeda. Jadi sebuah buku yang dibuka di iBooks-nya iPhone/iPod memiliki pengalaman yang berbeda di iPad. Dan jangan tanya kalau sudah membahas user experienceย di Apple.

Nah, kembali ke kebiasaan menerima aplikasi-aplikasi berbayar, ternyata kebiasaan ini mendidik saya untuk semakin menghargai karya cipta. Dulu waktu masih memakai Windows, tidak ada aplikasi yang saya pasang yang tidak membajak. Download, cari crack-nya di Torrent. Begitu SOP-nya. Kalau di Mac sekarang, lihat dulu harganya. Saya masih tidak keberatan membeli aplikasi di bawah lima puluh dolar, apalagi kalau harganya cuma satu atau dua dolar saja.

Tentu saja perasaan ini tidak akan didapat bagi yang iOS-nya di-jailbreak. Membeli atau membajak itu memang sebuah pilihan. Saya adalah developer yang juga berkarya membuat aplikasi. Dan jika aplikasi itu saya jual di AppStore, tentu saja saya tidak ingin karya saya dibajak. Karena itu, saya mulai belajar menghargai hasil karya cipta dengan mulai tidak memakai bajakan. Mulai dari yang kecil-kecil dulu.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

9 comments

  1. yak, mungkin orang2 harus jadi programmer/ developer (ato apalah namanya) dulu, sebelum semena2 membajak karya orang lain.
    dan windows laptop saya aja ini juga bajakan kayaknya –> karena sy belum pernah tau rasanya jd programmer.

    #silogisme acak2an ๐Ÿ™‚

  2. ya kalo dana sudah cukup dan makmur, pastilah harusnya anti bajakan. status ekonomi emang berpengaruh pada produk bajakan.

    niat memberantas pembajakan ? ah klasik hehe

    saya sih, masih pro bajakan :mrgreen:

      1. tapi ngomong-ngomong dunia kreatif indonesia juga maju karena ada bajakan lho, coba kalo semua software yang mereka (pelaku dunia kreatif) gunakan saat mulai belajar harus dibeli dengan harga yg wihiii seperti adobe family ๐Ÿ˜€

  3. saya pengguna hp jadul jadi ngga main ke apple store atau android market deh, hehehehe tapi kata teman-teman saya memang benar jika aplikasi-aplikasi di AppStore terkesan dikerjakan dengan rapi dan serius.

Leave a Reply to Galih Satria Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *