Nyetir Mobil di Jakarta

Saya tidak punya mobil, jadi tidak pernah nyetir mobil di jalan-jalan Jakarta. Tetapi kemarin saya diminta Om saya buat wira-wiri pakai mobilnya. Trayeknya adalah Halim Perdana Kusuma – Cililitan – Kalibata – Pasar Minggu – Gedung Antam TB Simatupang. Pulang baliknya sekalian saya pengen tahu rasanya jalan tol, jadi saya pilih trayek sbb: Gedung Antam – Tol JORR/TB Simatupang – Simpul TMII – Tol Jagorawi – Exit tol Cililitan – Halim Perdana Kusuma.

Nah, yang menarik (setidaknya buat saya), adalah catatan waktunya. Ini hari Sabtu, bukan hari biasa.

Putaran pertama, pukul 05:15 pagi. Trayek 1 makan waktu 15 menit. Trayek 2 juga sekitar 15 menit. Setengah jam sudah muncul lagi di rumah Om. Putaran kedua pukul 07:30 pagi. Trayek 1, makan waktu 30 menit. Jalan raya Pasar Minggu sudah mulai padat. Putaran berikutnya pukul 12:30 siang. Trayek 2, masih lewat tol, karena saya tidak mau lewat Kramat Jati atau Condet. Makan waktu 35 menit. Haha. Sudah macet di exit tol Cililitan. Ternyata lewat tol tidak menjamin perjalanan lancar. Rombongan satunya yang lewat Condet, makan waktu satu jam.

Putaran terakhir adalah jalur Halim Perdana Kusuma – Stasiun Gambir, pukul 15:30 sore. Saya sudah ketar-ketir karena ini adalah malam minggu. Ternyata benar, macet lagi macet lagi, untung masih bisa kekejar kereta Gajayananya.

Setiap kali tiba di titik kemacetan, ketidaksukaan saya dengan mobil di Jakarta semakin bertambah. Kenapa orang mau berkomuter tiap hari pakai kendaraan lambat begini? Ide mobil sebagai simbol kesuksesan dan prestise adalah seperti teori lelaki jantan itu adalah yang merokok. Lagian, berapa persen orang beli mobil dengan cara cash? Saya kok menduga bahwa mobil-mobil bagus dan baru itu mayoritas dibeli dengan cara kredit. Kredit lima tahun lagi.

Tapi itupun bisa dimengerti karena transportasi massal masih belum juga menjadi pilihan yang masuk akal. Sepeda motor bikin make-up luntur kalau dipakai siang-siang yang panas. Masak mau bertemu client yang potensial mesti lecek dan bau asap knalpot? Nampaknya saya lagi-lagi harus mengutip ungkapan klasik kalau sudah buntu begini, “Siapa suruh datang Jakarta?”

*PS: Saya akan trackback ke postingan ini kelak ketika saya harus terkena karma dan harus beli mobil sendiri.

*Update Senin, 28 Mei 2012: Hari Minggu kemarin, saya nglemesi ambruk di tempat tidur tidak bisa kemana-mana. Wah wah, luar biasa sekali stamina mereka yang tiap hari bermacet-macet ria begitu. Saya yang cuma begitu aja capek luar biasa, hehehe…

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

10 comments

  1. Dan dengan alasan itulah saya memilih tetap bekerja di desa dan tidak tergiur untuk ke kota mas. satu hari di jakarta membuat saya lelah. PR pemerintah memang untuk menciptakan mode transportasi yang aman,nyaman dan murah. semoga dengan pilkada DKI ini bisa mendapatkan solusinya. tidak hanya janji-janji saja 🙂

  2. oleh karena itu saya lebih suka di surabaya bro.. di jakarta itu kalo bawa mobil wajib hukumnya punya sopir pribadi, sambil di jalan itu sambil kerja.. kalo ndak gitu tuwek di jalan :d

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *