Dream Theater Live in Jakarta

A Dramatic Turn of Events Tour, tur dunia band progresif rock dari Amerika bernama Dream Theater, mampir ke Indonesia, live di Mata Elang International Stadium (MEIS), Ancol, semalam. Saya pikir hampir setiap anak muda yang suka musik rock mestinya mengenal band ini. Apalagi anak band, pegang gitar listrik, dan jika dia memilih Ibanez sebagai gitarnya, dia tentu mendewakan John Petrucci.

Saya kenal Dream Theater waktu SMA, waktu sekolah saya mengadakan festival band. Menyaksikan band teman sekelas memainkan Under a Glass Moon. Sebagai tokoh yang tidak populer di kelas (basket ga bisa, main musik pun baru belajar gitar), sepertinya keren sekali melihat teman-teman beraksi di atas panggung — dan tentu saja digandrungi cewek-cewek.

Ternyata pas kuliah, saya menemukan banyak lagu-lagu Dream Theater dari album-album Images and Words, Scene from Memory, Octavarium, hingga album terbarunya sekarang, Dramatic Turns of Events.

Build Me Up, Break Me Down, dari album Dramatic Turn of Events

Saya ini suka berbagai macam musik, mulai pop mellow, rock metal, ballads, musik klasik, jazz, sampai campur sari dan langgam gamelan. Salah satu yang ingin saya lihat langsung sebenarnya adalah Bon Jovi dan Guns n Roses. Suvenir abad ke-20. GNR sudah lama bubar, dan Bon Jovi personelnya sudah pada tua. Maka Dream Theater adalah kesempatan langka. Saya bela-belain tidak nonton Java Jazz Festival 2012 dan menombokkan budgetnya dengan selembar tiket kelas Festival untuk konser Dream Theater: 2012 World Tour  – Live in Jakarta.

Keluarnya Mike Portnoy sebagai icon Dream Theater memang membuat sebagian ciri Dream Theater menghilang. Tapi penggantinya, Mike Mangini, punya ciri khas sendiri. Gebukannya lebih mantap, dan ia bisa lebih menyatu dengan band — tidak seperti Portnoy yang sering mendominasi. Jadi formasi Dream Theater yang tampil semalam adalah James LaBrie (vokal), John Petrucci (gitar), John Myung (bass), Jordan Rudess (keyboard), dan Mike Mangini (drum).

Jordan Rudess, selain dengan keyboard KurzweilKorg-nya yang khas, juga membawa Haken Continuum Fingerboard-nya. Itu sih cerita lama. Yang baru adalah adanya iPad di sebelah keyboardnya yang di tangannya bisa mengeluarkan suara-suara yang indah. Selama ini saya berpikir aplikasi alat musik di iPad hanya sebagai main-main saja.

John Petrucci, dengan gitar Ibanez-nya, tampil sempurna. Dream Theater memang band “sekolahan” — disiplin dan tidak banyak ulah. Jadi jangan harap ada aksi banting gitar di sini, atau memetik gitar dengan lidah. Tapi melihatnya secara langsung dari dekat — dari jarak 15 meteran — membuat saya yakin kalau Petrucci ini masih manusia. Kalau lihat permainannya, yang ada hanya takjub saja. Kalau kata James LaBrie waktu memperkenalkan John Petrucci, “the most talented, gifted guitar player”.

Uniknya, si LaBrie ini berkomentar mak jleb soal Jakarta: traffic. Dia bilang, God! betapa susahnya dari satu tempat ke tempat lain dengan lalu lintas yang gila-gilaan. Bahkan di pintu masuk venue ini! Iya sih, EO-nya sepertinya kelas kacangan membiarkan penonton berdesak-desakan masuk ke venue. Padahal tiket paling murahnya 700-900 ribu pre sale untuk kelas Festival. Kabarnya, tiket go show kelas Festival sampai 1,2 juta.

Saya akan bilang, konser Dream Theater ini akan saya kenang lama sekali. Saya tidak terlalu suka nonton konser, apalagi kalau lihat harga tiketnya. Tetapi adalah pengalaman tersendiri nonton di kelas festival, berdiri, berjingkrak-jingkrak, mengacungkan jari, menggoyangkan tangan, teriak-teriak walau suara sendiri tidak terdengar kalah sama hentakan drum dan raungan gitar. Kuping budeg, jantung rasanya berdentam-dentam! See you again in Indonesia, Dream Theater!

 

 The Spirit Carries On, dari album Scene from Memory

Dream Theater, full team. Dari kiri ke kanan: John Petrucci, Mike Mangini, James Labrie, Jordan Rudess, dan John Myung

Footprint :p. Setelah konser usai. Sesak napas karena banyak anak-anak muda bodoh merokok di ruangan tertutup dan minim oksigen ini

Dream Theater Dramatic Turn of Events Tour
Live in Jakarta, 21 April 2012
Mata Elang International Stadium, Ancol
Foto-foto: Saya
Kamera: Panasonic Lumix DMC F-3

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

9 thoughts

  1. bukan’a john pettruci gitar’a music man Om….. maaf yee, bukan sok tau ttapi saya punya signature’a hehehehe

    1. koreksi lagi, setau gw jordan rudess sudah tidak menggunakan keyboard Kurzweil melainkan Keyboards KORG KRONOS…maaf kalo salah..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *