Bicaralah Secara Denotatif, Wahai Kaum Wanita

Perjalanan Balikpapan-Jakarta dengan pesawat Garuda GA517 dari bandara Sepinggan selepas shalat Jumat itu menyenangkan. Bukan karena cuacanya yang mendung, tidak pula karena makanannya yang tambah mirip makanan kereta Gajayana. Tidak karena suara bariton kapten pesawat yang tidak bisa basa-basi tapi kewajiban prosedur memaksanya berceloteh tentang ketinggian, suhu, dan cuaca. Juga bukan pula karena mbak-mbak pramugari khas Garuda: make up yang tidak natural untuk menyembunyikan umur sehingga membuatnya mirip boneka bertopeng, senyum yang terlatih yang membuat saya berpikir, “orang ini hanya ramah ketika bekerja, pasti jutek kalau sudah turun dari pesawat”. Jauh dari kesan keramahan khas Indonesia yang disimbolisasi seragamnya yang mirip kebaya dan telapak tangannya yang mengatup ketika mengucapkan terima kasih.

Oh iya, setiap kali kita akan turun pesawat, mbak pramugari itu kan bilang “terima kasih” sambil tersenyum ramah, tapi jarang lho membalas tatapan tulus saya yang berkata, “terima kasih”. Seperti robot saja, mungkin karena kebanyakan penumpang juga super cuek. Penumpang-penumpang yang mahasibuk yang bahkan sudah bertelepon dan ber-BBM dengan entah siapa waktu masih di pesawat.

Eh, saya bukan mau cerita soal pelayanan Garuda, tapi soal in-flight entertainment-nya. Saya memilih nonton film drama Korea, tanpa pakai head-set. Soalnya saya takut kadung nangis-nangisan, film dihentikan paksa karena sudah mau mendarat. Jadi saya menikmati tokoh ceweknya yang berwajah imut, berkulit putih mulus, bertubuh langsing. Sosok yang bakal diidam-idamkan semua pria untuk dimiliki, sekaligus segala hal yang dimiliki cewek itu diidam-idamkan semua wanita. Saya hanya mengikuti ceritanya dari subtitle ganda yang tampil di layar – Mandarin dan Bahasa Inggris.

Ceritanya sih template, seorang gadis perawat rumah sakit yang jatuh cinta dengan dokternya. Seorang dokter muda sukses di puncak karier, bebas finansial, berwajah tampan dengan potongan rambut gaya terbaru, tubuh tinggi langsing. Profil yang menjadi impian setiap wanita. Masalahnya adalah, si gadis itu sedang berjuang menyembuhkan patah hati karena baru saja diputus oleh pria romantis. Pria itu awalnya seorang pria sederhana yang membuatkan puisi, membuatkan lagu dengan gitarnya. Gadis yang masih lugu polos itu pun klepek-klepek. Sampai akhirnya seorang produser film menemukan si cowok yang tiba-tiba menjadi bintang besar. Dan kisah cinta itupun kandas di tengah jalan.

Singkat cerita, sepuluh menit menjelang pesawat posisi landing, si gadis menyadari cintanya akan kabur ke Beijing melanjutkan riset bersama seorang dokter cantik yang ambisius yang juga mencintai sang dokter. Si gadis memburu cintanya di airport, dan jadilah adegan mirip film AADC waktu Cinta mengejar Rangga. Si Rangga, eh, si dokter itu akhirnya muncul sambil memeluk si gadis, dengan background pesawat yang sedang boarding, si dokter cantik, dan satpam bandara yang siap menangkap si gadis.

Setelah emosi terluapkan, si dokter itu berkata, “Kalau kamu meminta aku tinggal di sini, akan kutinggalkan risetku di Beijing. I will stay here with you.”

Tapi apa yang dikatakan si gadis, setelah segala hal yang dilakukannya menembus keamanan bandara, “Pergilah ke Beijing. Jangan lihat aku lagi!” Ia berkata begitu sambil menangis. Ia tak mau egois, meskipun ia cinta mati ke dokter itu, ia ingin pria yang dicintainya itu berkembang dalam kariernya. Ia juga ingin membuktikan kalau dia bisa tegar, tak bisa dibunuh oleh cinta.

Siapapun yang melihat ekspresi si gadis akan mengerti kalau gadis itu tak ingin si pria itu pergi. Tapi seperti yang akan dilakukan semua pria, dokter itu menurut apa yang disuruh di gadis. Si dokter naik pesawat ke Beijing.

Begitulah, saya rasa, hampir semua pria tidak bisa melihat apa maksud tersembunyi dari kata-kata wanita yang seringkali bertolak belakang. Atau minimal saya deh! Saya paling nggak bisa melihat maksud konotasi dari setiap perkataan wanita, apalagi jika saya sedang jatuh cinta. Efek kimia jatuh cinta itu sering membuat saya jauh lebih bodoh dari yang aslinya sudah bodoh. Melakukan tidakan bodoh. Berkata bodoh. Membuat blunder tidak perlu.

Lha, kok jadi curcol, ehehehe.. Ya pokoknya begitu deh. Pesan moralnya: kembali ke judul.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 thoughts

  1. sebenernya tergantung sama siapanya sih lih, harus tau orangnya kayak apa. Nah kalo aku ngomong ke kamu sih ya mestinya akan selalu denotatif 😀

    i know you

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *