Perayaan Ulang Tahun

Saya bukan orang yang biasa merayakan ulang tahun — tidak ada pendidikan seperti itu di silabus kurikulum yang diajarkan bapak sama ibu saya. Tidak ada yang istimewa seperti hari-hari yang lain saja, siapapun yang lagi ulang tahun hari itu. Beberapa tahun terakhir saja kalau datang bulan Maret, kami saling mengucapkan selamat dan berdoa untuk kesehatan. Kebetulan kami sekeluarga semua lahir di bulan Maret, tiga Piscess satu Aries.

Almarhum kakek saya malah mengajarkan untuk tirakat untuk memperingati hari lahir. Bahkan bukan hanya setahun sekali, tetapi setiap jatuh hari pasaran Jawa yang sama dengan waktu lahir (weton). Misalnya jika Anda lahir hari minggu pahing, maka setiap jatuh hari tersebut, Anda harus bertirakat. Menurut kakek saya, berdasarkan Primbon Betaljemur Adammakna, hari kelahiran adalah hari naas nya setiap orang. Seringkali orang meninggal pada hari naas-nya itu (kitab primbon memang seperti Statistik, menyusun teori berdasarkan pengamatan kejadian).

Nabi Muhammad SAW juga berpuasa untuk memperingati hari lahir dan saat beliau diangkat menjadi rasul, yang sekarang diabadikan menjadi puasa sunnah Senin dan Kamis. Saya lupa hadits-nya, tapi kalau ga salah ada begitu.

Jadi semestinya, hari kelahiran itu diperingati dalam suasana prihatin kan ya? Dengan berpuasa, kita akan mengingat kembali sang pencipta, mensyukuri segala karunia yang telah diberikan hingga sekarang. Kita tidak akan pernah tahu masih sisa berapa jatah umur yang diberikan. Bisa jadi masih banyak, bisa jadi sudah menjelang habis. Who knows? Jika ternyata jatahnya tinggal sedikit, yang berarti kesempatan untuk bertobat semakin menipis, kenapa pula harus dirayakan secara besar-besaran?

Terima kasih untuk semua teman-teman yang masih mau repot-repot mengingat hari ulang tahun saya (soalnya saya sendiri sering lupa untuk beri perhatian itu, hehehe…). Makasih ya Fenty, Cynthia, Intan, Ardi, dan teman-teman semua. ^_^

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

6 thoughts

  1. happy birthday cak galsat..

    wah pesen eyang sampeyan itu mirip eyang buyut putri saya, beliau puasa setiap weton-nya (jadinya setiap 35 hari sekali) dan setelah puasa itu ada tasyakuran kecil, istilahnya brokohan, ya bikin tumpeng, ayam panggang, sayur krawu dan dimakan dengan tetangga kanan kiri..

    alhamdulillah umurnya tembus 120 tahun (yang 1 sudah meninggal 10 tahun lalu, yang 1 masih ada, eyang buyut dari bapak).

    disamping itu beliau ndak mau makan yang diolah dengan minyak goreng. kalo nggoreng pake kreweng, di atasnya ditaruh daun pisang, nah gorengannya dituang di atas daun pisang itu..

  2. selamat ultah galih,
    jadi kan ya urutannya mas galih, mbak fenty baru aku. hmm… ternyata aku lebih muda ya 🙂

    kadonya lumayan kan ya 🙂

Leave a Reply to pety puri Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *