Anyer, yang Dilupakan, yang Ditinggalkan

Deru sang ombak bersilih ke pantai
Disambut ayunan Nyiur melambai
Rembulan megah di atas mahligai
Tersenyum melihat kita berdua

Angin membawa lagu cinta
Sejuta bintang bermain mata
Seakan lena dua insan
Di dalam skenarionya

Antara Anyer dan Jakarta kita jatuh cinta
Antara Anyer dan Jakarta
Kisah cinta tiga malam kan kuingat selamanya
Antara Anyer dan Jakarta…

Lagu Sheila Madjid ini meledak di masanya, mengantarkan Sheila sebagai penyanyi top dari negeri jiran Malaysia di tangga musik lagu Indonesia.

Ketika saya merenungi lirik ini, saya membayangkan seperti apa suasana Anyer ketika itu. Tidak mungkin tercipta lagu yang mengabadikan Anyer sebagai saksi sebuah percintaan jika Anyer tidak istimewa pada saat itu. Saya membayangkan sebuah pantai barat pulau Jawa yang begitu eksotis dan romantis, yang menjadi tempat peraduan orang Jakarta ketika melepas penat.

Coba susuri jalan raya Anyer selepas kota Cilegon dan pusat industrinya. Resort dan villa yang besar dan luas, terletak di bibir pantai menghadap ke laut, berjajar-jajar di sepanjang pantai, menawarkan tempat pelarian liburan yang menarik.

Saya yakin, belasan tahun yang lalu, salah satu tempat itu adalah tempat dua orang muda yang sedang dimabuk cinta, duduk berdua menikmati malam cerah yang sangat indah. Bulan purnama, bintang, dan deburan ombak — seperti yang diceritakan di lagu itu.

Sekarang, saya hanya bisa menyaksikan bekas-bekasnya saja. Bekas kejayaan masa lalu yang masih nampak. Resort yang besar itu hanya segelintir saja yang masih terawat. Sisanya gersang dan ditinggalkan. Megah, gersang, sepi, tak terurus. Pohon Nyiur sudah tidak tampak cantik karena di bawahnya ditumbuhi rumput kering setinggi orang dewasa.

Industri dan infrastruktur yang tak terurus menjadi biang keroknya. Jalanan rusak parah karena dilewati truk-truk tronton. Macet parah dan rusaknya jalan adalah kombinasi yang sangat baik buat orang menjadi malas lewat situ dan mencari alternatif liburan yang lain.

Ironisnya, sesekali ada baliho super besar, di atas jalan rusak parah itu, dengan foto gubernur memakai seragam kedinasan lengkap yang sedang tersenyum manis menyambut pengguna jalan. Saya tidak tahan untuk mengumpatinya. Wahai, kemana anggaran perbaikan infrastruktur? Jika memang benar itu dikorupsi, saya hanya berdoa moga-moga pemimpin yang mendzolimi rakyatnya itu segera ingat bahwa siksa akhirat telah menantinya.

Tulisan saya tentang Anyer sebelumnya, ketika saya mengunjungi Anyer terakhir kalinya di 2009 (dan memakai lagu yang sama, Antara Anyer dan Jakarta, Sheila Madjid):

Foto: Mercusuar Anyer 2012, Panasonic Lumix DMC F-3.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 thoughts

  1. Benar,jalan-jalan ke arah Anyar itu emng bikin kapok. November yg lalu saya jg liburan ke Tj.Lesung, pantai dkt Anyar jg, dan seperti yg saya tulis di blog saya, liburan kesna itu cukup sekali krn kita jd kapok di jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *