Psikotest Itu…

Psikotest itu, penghalang pertama langkahmu menjadi karwayan di perusahaan idamanmu. Tidak cuma gerbang menuju perusahaan baru, buat promosi pun seringkali kamu dihadang dengan gerbang bernama psikotes ini. Anehnya, banyak yang menganggap remeh tes ini, termasuk yang lagi nulis postingan ini…

Soal psikotest sebenarnya tidak sulit. Kemampuan numerik cuma matematika tambah kali bagi kurang, kemampuan verbal asal banyak baca aja pasti bisa. Persoalannya adalah waktu yang diberikan itu tidak masuk akal. Tiga puluh soal hanya dalam waktu sepuluh menit? Mimpi kali ye…

Mungkin banyak orang yang menganggap psikotest itu gampang, pasti lulus. Tapi nyatanya saya tidak. Bertahun-tahun saya digagalkan di gerbang pertama ini. Sejumlah perusahaan minyak besar seperti Chevron Indonesia (eks Unocal, Caltex), ExxonMobil, Total E & P, hingga Pertamina (dari holdingnya sampai EP), cukup tertarik melihat catatan akademis saya. Tapi saya selalu gagal di psikotest. Kalau ada yang menyelenggarakan tes dua hari (hari pertama kemampuan numerik verbal, hari kedua tes kepribadian), saya tidak pernah menyelesaikan tes itu dua hari penuh.

Saya tidak mau mengakui kenyataan. Seorang yang begitu cemerlang menyelesaikan topik-topik rumit bidang Computer Science dikalahkan di soal-soal tambah kali bagi kurang. Saya mulai membenci lembaga-lembaga psikotest seperti UI dan Experd. Saya berkata ada banyak kelemahan di metode pengukuran mereka, bahwa saya seharusnya tidak sebodoh yang mereka pikirkan sehingga tidak layak untuk maju ke babak berikutnya.

Teman saya menyangkal begini, “Bayangkan ada 20 ribu calon pelamar yang sepandai kamu datang bersamaan. Kamu sebagai pencari karyawan harus memiliki metode yang praktis, murah, dan cepat untuk mengetahui potensi mereka semua. Tentu tidak mungkin semua diwawancarai satu-satu. Psikotest adalah metode yang paling gampang. Katakanlah saja akurasi psikotest itu hanya 60%, maka mendapatkan dua belas ribu calon yang tepat, tentu saja itu sudah sangat luar biasa. Karena mungkin yang dibutuhkan tidak lebih dari 50 orang.”

Ya, benar juga sih…

Sampai akhirnya hal yang paling memukul saya terjadi. Tidak banyak pukulan dalam hidup saya yang bisa membuat saya jatuh tersungkur. Saya mendapatkan kepercayaan oleh atasan saya untuk direkomendasikan menjadi karyawan BP Migas. Saya sudah wawancara dengan Kadin (setara General Manager) dan Kadiv (setara Vice President) dan beliau oke semua. Tapi saya digagalkan oleh lembaga psikotest keparat! Saya dinyatakan tidak memenuhi syarat.

Tapi yang paling memukul saya bukan kegagalannya (kata gagal dalam psikotest waktu itu sudah biasa buat saya), tetapi bahwa saya telah mengecewakan atasan saya yang telah mempercayai saya, yang telah susah payah berjualan nama saya. Saya telah memalukan beliau. Kadiv yang mewawancarai saya hanya bisa menggelengkan kepala, “Padahal cum laude ya, tapi kok bisa gagal di psikotest…” Apapun yang dilakukan atasan saya itu untuk membela saya sia-sia, beliau tidak bisa melawan sistem yang telah baku. Apalagi sebuah sistem di birokrasi pemerintahan.

Saya jatuh ke titik kepercayaan diri terendah dalam karier pekerjaan saya. Dua tahun sejak itu, saya tidak pernah lagi melamar pekerjaan.

Saya mulai menyadari kesalahan saya. Mungkin saya terlalu freak. Banyak orang IT yang dijauhi psikotest. Saya harus mengurangi tingkat geek saya. Itulah yang mendasari keputusan saya untuk sekolah lagi. Memilih jurusan sejauh-jauhnya dari IT. Jurusan Ekonomi dan Manajemen. Sesuatu yang jauh lebih general dan tidak terlalu sains. Saya tidak peduli apakah S2 membawa dampak positif buat saya, tapi ini salah satu usaha saya untuk bangkit. Tujuan saya adalah untuk mengembalikan kepercayaan diri bahwa saya bisa.

Dua tahun setelah itu, setelah secara de facto memegang gelar Master of Management, saya menghadapi psikotest pertama saya. Saya datang dengan kepercayaan diri yang baru pulih. Saya tahu, jika saya gagal lagi, mungkin saya tidak akan bisa bangkit lagi. Jadi saya mempersiapkan itu sebaik saya mempersiapkan sidang thesis saya.

Saya mengikuti pelatihan psikotest di GPS Jakarta, di sebuah ruangan sempit di sudut Education Centre di POINS Square, Lebak Bulus. Saya melewatkan hari Minggu yang sangat padat dari jam delapan pagi sampai jam empat sore. Di sana lah, mind set saya terbuka. Pelatihan itu bukan pelatihan untuk mencurangi psikotest, tetapi bagaimana menerima dan mengerti kenapa psikotest itu dirancang dan diadakan. Instrukturnya bilang, pelatihan itu untuk mereka yang berpotensi tapi tidak siap menghadapi psikotest, sehingga dinyatakan gagal. Mereka yang tidak berpotensi, meskipun ikut pelatihan itu tetap tidak akan lolos psikotest.

Hari Jumat, saya menjalankan tes itu setelah lebih dari dua tahun trauma tidak mau tes lagi. Saya pasang status BBM, “Bismillah.” Ada satu yang merespon, mengucapkan selamat berjuang. Seseorang yang saya kagumi. Sayang sudah punya pacar. Heheheh…

Beberapa minggu kemudian, ketika saya ditelepon oleh HR untuk di-interview, saya sujud syukur. Terima kasih ya Allah.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

18 comments

  1. heuheu… intinya memang psikotes untuk melihat potensi, sehingga yang lolos adalah orang yang cocok/ mendekati cocok dengan jabatan yang dituju (person-job fit).
    Gak lolos psikotes bukan berarti bodoh/ gak layak 🙂

  2. psikotest memang dijunjung tinggi sehingga menjadi benchmark dalam penentuan kandidat. pendek kata: malapetaka. sebab karakter manusia gak bisa ditentukan murni oleh beberapa jam psikotest saja.

    ah, kalimat terakhirnya kayak klimaks yg telah lama tertunda. mengharukan 🙂

  3. Menurut saya beda antara psikotes untuk mengukur IQ dengan psikotes untuk melamar pekerjaan. Karena ketika melamar pekerjaan itu bukan untuk mengukur kecerdasan, tapi untuk melihat kecocokan dibidang kerja yang akan ditempati. 🙂

  4. quote: “Seorang yang begitu cemerlang menyelesaikan topik-topik rumit bidang Computer Science dikalahkan di soal-soal tambah kali bagi kurang.” narsis hahahahahaaa

    aslinya sih emang kepribadianmu yang gak jelas 😛

    di satu sisi ahli bidang computer science, di sisi lain bacaannya sastra, agama, art, film, musik. jadi pas jawab soal2 psikotest jadi campur aduk. setelah belajar ekonomi manajemen kapitalis baru bisa lolos kan, karena science, sastra, art, musik bisa dipahami dalam satu bahasa ekonomi.

    pesan: jangan sampailah kehilangan kepribadian yang gak jelas tadi. 😀

    BTW, selamat yah. nambah lagi nih level-nya menjadi very very high level quality jomblo. 😛

  5. Sumpah ga percaya kalo kamu dulu slalu gagal psikotest. But I’m glad u have ur confident back 🙂
    Bener juga beberapa komen di atas, psikotes tuh ngukur pengetahuan dasar dan ‘baca’ kepribadian. Kan ada tuh beberapa pilihan kepribadian yang ekstrem. Kemungkinan kamu terlalu idealis jadinya gitu *sori bukan nge-judge ye*. Intinya kerja kan ga cuman kecerdasan yang dibutuhkan tapi kepribadian, pergaulan, endebre. Etapi kalo dah ‘banci tes’ kek aku dulu akhirnya hapal jawaban dari beberapa lembaga psikotest 😀

  6. Mbak, 2 tahun setelah mbak menulis ini, saya yang kebagian “rezeki” seperti mbak.
    Tes di semua perusahaan plat merah, dan gagal pas di psikotest. GAGAL!
    Mbak di Comp. Science, saya di Information System. Semua persiapan seperti matematika, pengetahuan umum, sinonim antonim, spasial dan lain lain sudah saya lakukan. Dan kemarin (Minggu, 2 Maret 2014) saya ikut psikotes di salah satu Bank BUMN, saya ga lulus.
    Sakit hati? Sudah pasti. Hahaha. Itu kepala kanan denyut ga karuan sampe sampe harus tidur lebih awal biar paginya bisa normal lagi. Saya sebenarnya sudah di tahap menyerah. Efek negatifnya, saya benci psikotes. Plus EXPERD.
    Hahahaha.

  7. hehehe…..
    Maklum perusahaan itu nyarinya Right Man at The Right Place
    Ibaratnya kalo di ilmu pasti itu,yang dicari angka 7, maka dibawah 7 dan di atas 7 di eliminasi
    Lho kok???kan lebih dari 7 bagus???
    Ya iya lah,,,kalo spec 7 trus yg masuk 9 , maka dlm 6 bulan tuh anak pasti dah bosennn kerja…..

  8. Maaf mas mau tanya,
    Mas galih kerja di Vico kan?

    Ngomong2 soal psikotes,
    aku kemarin di panggil vico untuk interview HR dan User, setelah itu tahapan selanjutnya adalah psikotest…. bisa minta gambarannya g mas psikotes di vico tuh koyok piye?

    Soalnya perjalanan karirq juga selalu di hambat oleh yang namanya psikotes mas….

    Mohon petunjuknya….
    😀

  9. Selamat malam mas. Tadi saya mendengar mas Galih pernah pelatihan di GPS Jakarta ya? Saya mau tanya mas Galih masih punya contoh soal2 psikotesnya ga mas? Kalau ada apakah saya boleh memintanya? Terima kasih.

  10. Mas Galih boleh diskusi ttg psikotest ini? Saya punya problem yg sama nih,,bermasalah di psikotest. Saya sudah 4thn bekerja di salah satu multinational O&G service company. Tp ketika mendaftar di oil company selalu failed di psikotest nya. Boleh saya minta email mas utk drop bbrp pertanyaan?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *