Update Ilmu dan Teknologi

Waktu masih kuliah dulu, senior tetangga kamar saya sudah bekerja di LippoTelecom sebagai desainer grafis. Sebuah posisi yang menurut saya sudah mapan secara finansial. Tiba-tiba suatu hari, teman saya itu bilang kalau dia resign dan memilih mengajar di Desain Produk ITS. Menjadi dosen tidak tetap. Waktu itu, saya menganggap itu sebuah keputusan yang amat berani karena secara finansial pasti itu downgrade jauh.

Alasan teman saya itu, “Di industri aku ketinggalan Lih, kalau di kampus aku tetap bisa update ilmu dan perkembangan terbaru.”

Baru sekarang saya bisa mengerti maksudnya. Saya yang di industri, apalagi di industri oil and gas yang IT masih menjadi support dan business enabler — belum menjadi core dan business driver, merasa begitu ketinggalan dengan perkembangan teknologi yang berlari.

Kalau saya membaca milis jurusan, rasanya mereka sudah eksplorasi macam-macam. Ya data mining, pengolahan data sangat besar, information retrieval, dengan segala alatnya yang keren-keren. Padahal di industri saya, yang diperlukan masih software pengolahan data biasa. Metodologi pengembangan perangkat lunak juga masih memakai metode waterfall. Analisis sistem juga masih prosedural memakai Flowchart. Teknologi yang paling maju yang sedang diimplementasi mungkin hanya Service Oriented Architecture (SOA), teknologi yang booming lima sampai sepuluh tahun yang lalu.

Tapi ya memang harus begitu. Kampus adalah rumah untuk riset. Hasil riset yang telah matang baru akan diimplementasikan di industri. Karena tentu saja mengimplementasikan sebuah teknologi — bagi industri — adalah sebuah investasi bisnis. Harus ada hitungan jelas Return on Investment-nya. Dan untuk menghitung investasi IT, tidak pernah mudah (bagaimana menghitung valuasi dari sebuah software yang tidak terlihat — apalagi middleware yang lebih tidak kelihatan?).

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

6 comments

  1. hmm, beberapa temen saya yg kerja di bagian IT perusahaan minyak jg akhirnya resign karena mrk ngga berkembang dari sisi ilmu. kalo dr sisi financial sih aman.. tergantung orang sih. kalo saya bisa cari ilmu dimana saja

  2. mungkin ketidakmudahannya sebelas-duabelas sama pengelolaan SDM,
    misalnya bagaimana perusahaan bisa menghitung ROI dari sebuah “investasi training soft skill” karyawannya –> berapa keuntungan perusahaan yg didapat setelah karyawan tsb ikut training? 🙂

  3. Saya sudah hampir 6 tahun kerja di desain grafis. Eh, pas nengok teman2 lama di FB, sebagian besar sudah ambil S2 jurusan ini itu. Betapa tertinggalnya orang-orang industri… 🙂

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *