Saham untuk Pemula (3 – Habis)

Oke, sekarang, paling tidak kita sudah punya daftar 20 saham yang baik. Saya memutuskan untuk menulis tentang rasio dan kriteria saya sendiri di lain waktu karena itu memerlukan penjelasan tentang analisis fundamental yang lebih. Bulan Februari, musimnya orang jatuh cinta, masak nulisnya begini-begini mlulu, saya mulai merasa blog ini semakin tidak punya perasaaan (coba bandingin sama masa 2004-2006 — isinya patah hatiiii mlulu hahahaha).

Saham-saham yang saya sebutkan di seri Saham untuk Pemula (2), sudah merupakan saham yang baik untuk dikoleksi. Di titik ini boleh-boleh saja membeli dengan emosi dan perasaan:

  • Pilih yang paling anda kenal.
    Dalam hal ini, saya sudah memilih Bank BRI dan Charoen Pokphand.
  • Pilih yang paling terjangkau.
    Di sini saya belum memakai istilah mahal dan murah karena mahal dan murahnya saham sama sekali tidak dicerminkan oleh harga per lembarnya. Ini berhubungan dengan valuasi saham (ada cukup banyak metode valuasi yang cukup bikin pusing).
    Contoh, untuk membeli 1 lot CPIN, dengan asumsi harga Rp. 2600 per lembar, maka anda memerlukan uang minimal sebesar Rp. 1,300,000. Untuk BBRI, dengan asumsi harga Rp. 6900 per lembar, maka anda perlu uang minimal sebesar Rp. 3,450,000.

Setelah itu, kita masuk ke pertanyaan semilyarnya? Kapan harus membeli?

Hal yang paling gampang tanpa banyak berpikir adalah membelinya secara rutin, misalnya sebulan sekali. Katakanlah setiap bulan anda bisa menyisihkan penghasilan Rp. 1,3 juta. Di minggu-minggu tersebut, tunggulah IHSG turun berapapun, dan pastikan saham incaran anda juga sedang turun — berapapun. Lalu belilah. Lakukan secara rutin dan konsisten.

Kalau anda sudah punya dana yang cukup besar, katakanlah, mari berandai-andai, Rp. 100 juta. Maka anda perlu timing untuk melakukannya. Ilmu yang mempelajari kapan ini disebut analisis teknikal. Timing yang sederhana adalah, belilah saat terjadi krisis ekonomi atau moneter di saat pasar modal sedang berdarah-darah. Contoh waktu yang tepat buat masuk pasar adalah saat krisis tahun 1998, 2005, dan 2009 kemarin. Atau Oktober 2011 saat krisis Eropa kemarin. Sekarang bukan saat yang cukup tepat karena saham-saham sudah beranjak mahal. Tunggu saja. Masukin ke logam mulia saja dulu. Secara makro, fundamental Indonesia sangat-sangat bagus. Andai saja infrastruktur telah bagus, dan korupsi itu tidak sebesar sekarang, kita tentu sudah menjadi macan Asia, bukan Cina atau India.

Terakhir, belajar analisis fundamental dan teknikal adalah hal yang perlu dikuasai sebelum masuk pasar modal. Tidak ada sesuatu yang instan. Dengan menguasai ilmu itu, kita akan lebih tenang melihat perkembangan turun naik investasi di pasar modal. Berikut adalah buku-buku yang pernah saya baca:

  • Kiat Investasi Valas, Emas, dan Saham. Istijanto Oei (saya baca tahun 2009).
  • Trading for Dummies. Michael Griffis (saya baca tahun 2011).
  • Technical Analysis: The Complete Resource for Financial Market Technicians. Charles D. Kirkpatrick (2011).
  • The Intelligent Investor. Benjamin Graham (2011).
  • Corporate Finance. Jonathan Berk (2011).
  • Investor Sibuk: Solusi Investasi di Bursa Saham Indonesia bagi orang Sibuk. Ferdie Darmawan (2011).
  • Happy Investing: Temukan Rahasia Sukses Berinvestasi di Pasar Saham. Jhon Veter (2011).

Selengkapnya di rak pasar-modal di Goodreads saya.

Terima kasih. Semoga bermanfaat. Selamat berinvestasi. ^_^

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *