Membeli Saham, Transaksi Fiktif?

Banyak orang yang masih menganggap pasar modal itu adalah transaksi keuangan fiktif yang menjurus pada money game. Barang yang diperjualbelikan tidak ada dan hanya bermain spekulasi pada gejolak indeks dan harga saham. Semua teman saya akan mudah mengerti investasi logam mulia, dengan alasan barang fisiknya ada, nyata, bisa digenggam. Dan semua memicingkan mata ketika saya ajak untuk investasi di saham, dengan alasan barang fisiknya tidak ada. Apa iya?

Saham adalah bukti kepemilikan sebuah perusahaan. Salah satu cara perusahaan mendapatkan modal adalah menjual kepemilikan dalam bentuk lembar-lembar saham. Uang yang secara nyata masuk ke perusahaan adalah saat penawaran harga saham perdana (IPO – Initial Public Offering). Kemudian, bukti kepemilikan ini bisa diperjualbelikan di pasar sekunder dengan harga mengikuti mekanisme pasar. Bisa jadi lebih tinggi atau lebih rendah dari harga penawaran perdana. Nah, gejolak di pasar sekunder inilah yang dijadikan ajang spekulasi oleh spekulan.

Apa bukti bahwa saham adalah bukti kepemilikan? Deviden. Perusahaan, melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), menentukan nilai yang disisihkan dari laba ke pemilik modal sebagai bagi hasil keuntungan. Jumlah nilai itu dibagi per lembar saham yang diterbitkan oleh perusahaan. Perusahaan yang baik biasanya memerlukan waktu 10-20 tahun untuk mengembalikan jumlah modal yang diberikan investor dalam bentuk deviden (dengan asumsi saham tidak pernah dijual, dibeli dari pasar sekunder — jadi tidak ada faktor capital gain). Kepemilikan saham mayoritas bahkan bisa menentukan arah akan dibawa kemana perusahaan itu.

Tapi kan tidak ada bukti kepemilikan secara fisik seperti surat saham?

Mekanisme pasar saham sudah lama meninggalkan surat saham berbasis kertas dan telah sepenuhnya dipindahkan ke media elektronik (database komputer). Kepemilikan surat saham akan terlihat di aplikasi trading dari broker kita yang biasanya diberi judul: “Portofolio”. Lah, kalau begitu saham kita dipegang sama si broker dong? Nah, di sini ada badan bernama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang menyimpan surat-surat saham itu secara elektronik. Setiap investor pasar modal, besar ataupun kecil, bisa memiliki akses ke KSEI dengan menggunakan kartu KSEI. Saya juga punya.

Waktu saya memilih saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saya membelinya tidak hanya sekadar analisis teknikal dan fundamental saja, tetapi juga karena faktor emosional. Saya menabung pertama kali di produk Tabanas BRI. Ibu saya fanatik dengan BRI. Dan jaringan BRI yang sedemikian luas dan mengakar di desa-desa membuat saya suka bank ini. Jadi saya membelinya. Jadi, meskipun kepemilikan saya mungkin ibarat debu pasir di pantai, saya adalah salah satu pemilik Bank Rakyat Indonesia. Sehingga jelas, saya tidak setuju jika jual beli saham itu adalah transaksi fiktif yang tidak ada objek jual belinya.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

6 thoughts

  1. setuju… hehehehehe…

    saya kemarin juga mendapat banyak penjelasan dari pihak KSEI tentang saham, sebenarnya ya mirip dengan bank, tapi di sini benar-benar menanam modal, nggak hanya sekadar nabung aja kayak di bank biasa 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *