Antara Hemat, Pelit, Boros, dan Financial Planning

Financial planning selalu identik dengan hemat cenderung pelit. Banyak orang yang sangat cermat dengan catatan keuangannya, dan juga sangat pelit dengan dirinya sendiri. Untuk beli sebuah handphone baru saja butuh riset yang begitu lama, dan ujung-ujungnya beli second yang harganya sebenarnya hanya sepersekian dari gaji bulanannya.

Menurut saya, memiliki catatan keuangan yang baik tidak boleh seseorang menjadi pelit — bahkan untuk dirinya sendiri. Hidup dengan standar gaya hidup tertentu menurut saya adalah sah-sah saja, asal kita tahu dimana kemampuan kita. Mengejar gengsi, membeli barang-barang branded, menurut saya adalah sebuah penghargaan terhadap kerja keras yang telah dilakukan. Salah satu cara menikmati hidup. Hidup kan bukan hanya setelah pensiun kan? Percuma juga kaya raya di usia tua kalau fisik sudah tidak mendukung lagi untuk melakukan kegiatan seperti masa muda.

Saya sendiri sering dicap hedonΒ oleh teman-teman saya — sebagai balasan untuk saya yang memang sering mencela gaya hidup begitu. Hehehe, harus diakui, saya memang hidup dengan standar gaya hidup yang saya tentukan sendiri. Tetapi itu saya lakukan karena saya tahu dan saya mau hidup di gaya hidup yang mana. Gaya hidup yang menurut saya cukup, tidak berlebih-lebihan, sekaligus tidak terlalu menyengsarakan (menikmati hasil kerja keras). Ow, tentu saja, “cukup” di sini sangat relatif ^_^.

Memiliki perencanaan keuangan yang baik akan membuat kita lebih bijak dalam mengelola pengeluaran. Di sinilah mengapa tujuan keuangan itu sangat penting. Ketika semua tujuan keuangan telah tercicil, kebutuhan telah diamankan (sandang, pangan, papan, zakat, infak, transportasi, hiburan), jika masih ada space, di situlah saatnya hura-hura! Bayangkan jika perencanaan keuangan itu membabi buta tanpa tujuan, semua sisa penghasilan akan masuk pos investasi dan ujung-ujungnya jadi pelit terhadap diri sendiri.

Semakin kita terlatih dengan perencanaan keuangan, tahu betul kondisi kesehatan keuangan kita, akan semakin mudah kita memilah-milah mana kebutuhan, keinginan, dan hasrat. Ketika saya menyelesaikan tabungan untuk membeli laptop baru, saya pun masih ragu-ragu untuk mengeksekusinya karena faktor “hasrat”-nya masih besar disaat laptop saya yang lama masih bisa dipakai. Sehingga sebenarnya kebutuhan belum ada. Membeli laptop ASUS atau Lenovo adalah keinginan. Dan membeli Apple MacBook Pro jelas adalah hasrat.

Jadi, tidak seharusnya perencanaan keuangan yang rapi membuat orang pelit terhadap diri sendiri. Justru akan membuat kita bisa memilih standar gaya hidup yang dikehendaki, sekaligus mengejar apa yang dinamakan gengsi itu — karena pepatah don’t judge the book by its coverΒ itu benar adanya, kebanyakan orang akan melihat bungkus, bukan isi.

Hidup sederhana, menurut saya, bukan hidup dengan pas-pasan cenderung kekurangan, tetapi hidup yang sesuai dengan kemampuan, tidak berlebih-lebihan, sekaligus tidak berkurang-kurangan. Hehe…

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

11 thoughts

  1. dalam ilmu financial planning sepertinya tidak ada faham “makin banyak memberi makin banyak menerima” ya bro, yang dalam ajaran agama disebut sodaqoh..

    1. Maklum cak, ini adalah perencanaan keuangan ala kapitalisme, intinya numpuk harta, kalau sudah tertumpuk dibesarkan semaksimal mungkin. Tapi dalam sistem ini masih bisa dilakukan filosofi itu, yaitu memperbesar pos zakat dan infak (paragraf 4).

  2. setujuh mas…! πŸ˜€
    Beli branded itu bukan berarti boros, tp kita membeli quality. Daripada beli barang murah tapi gak tahan lama dan mesti repair, itu malah jatuhnya boros. Hedon itu menurutku, mengeluarkan duit tanpa tau a

    Jadi,,

    Kapan nih ipodnya di ekseskusi mas?? πŸ˜€ *twitter*

  3. *eh, kburu ke enter, pdhl belum slese (hihi)

    jadi, hedon mnurutku (kalo salah mohon dikoreksi) adalah mengeluarkan duit tanpa tahu/tujuan duit itu buat apa..

      1. aku juga pengen Ipod Touch tapi kata Galih aku disuruh beli DSLR dulu :))

        aku kira-kira dinilai boros ga ya sama Galih?
        *traktir rujak cingur sekali-sekali gpp dong ya* πŸ˜€

    1. Yup, betul sekali. Tentunya bikin rencana keuangan ya harus realistis. Misalnya pengen beli mobil baru, Honda City seharga 255 juta. Target lima tahun lagi. Artinya setiap bulan harus investasi sekitar 2 juta. Nah, kalo 2 juta ini terlalu berat dan bikin sengsara tidak bisa hura-hura, berarti target tidak realistis. Mungkin perlu diturunkan jadi Avanza second seharga 100-an juta. Begitu gampangannya. πŸ™‚

  4. dan ujung-ujungnya beli second yang harganya sebenarnya hanya sepersekian dari gaji bulanannya

    –> mahal ya itu tolong T__T kan masi banyak kebutuhan2 lain selain hengpon.. makan sushi misalnya.. ahahaha..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *