Tentang Vandroid, Tablet dari Advan

Teman-teman mengenal brand Advan? Saya mengenalnya sebagai produk lokal berbasis Cina yang bermain di semua produk hardware, mulai notebook, netbook, flashdisk, sampai tablet! You name it lah pokoknya. Nah, rupanya, strategi branding Advan adalah menggunakan Advan sebagai umbrella brand, yaitu setiap produk-nya diberi sub-brand di belakang nama Advan yang lebih dahulu dikenal. Seperti produk tablet-nya ini, dia bernama Vandroid.

(Contoh umbrella brand lain adalah mobil Honda dengan City, Jazz, Freed; Toyota dengan Kijang Innova, Corolla Altis, Camry; produk snack Gery dengan Chocolatos, Solut, Coklut, dll).

Tidak lama setelah menyatakan ketidaksukaan saya terhadap tablet PC karena memang saya belum butuh, teman saya, seorang brand manager Advan, tiba-tiba meminjami saya produk kebanggaannya itu untuk saya review. Waduh, apa nggak salah nih kasih review ke orang yang bukan penyuka tablet? Dia malah ngotot sambil promosi kalau produknya barusan mendapatkan award tablet PC terkomplit dari PC Plus. Di akhir kalimatnya dia menambahkan, gratis aja pulak, sambil sodorin emoticon senyum jahil. Ya sudah, jangan salahkan saya kalau saya mereview-nya secara “objektif”.

Baiklah. Jadi ini binatangnya.

Android yang dipakai masih versi jadul, Android Froyo — jadul buat saya yang sudah pernah melihat Honeycomb beraksi di Galaxy Tab 8.9. Tetapi memang secara fitur hardware, benar apa kata PC Plus: komplit; kartu GSM, fungsi telepon, kamera dua sisi untuk video conference, GPS, hingga WiFi. Baterai tahan lumayan, dengan kondisi aktif terkoneksi ke jaringan GSM, dia bisa tahan seharian penuh. Ketika saya tanya ke teman saya itu, produk ini dimaksudkan head to head dengan siapa? Dia jawab dengan penuh percaya diri: Samsung Galaxy Tab! What?

Dengan bandrol harga dua jutaan, saya cukup surprise kalau ini dimaksudkan untuk melawan GTab (meskipun yang versi Froyo juga maksudnya mungkin). Kalau dimaksudkan melawan produk-produk sejenis macam ZTE begitu, saya mungkin masih cukup mahfum. Tapi ya, itu kan pekerjaannya dia, hehehe…

Secara hardware, saya bilang what do you expect with 2 mio tablet PC? Prosesor standar 800 MHz sudah cukup maksimal untuk menjalankan Froyo. Touch screen resistif-nya cukup menyebalkan karena suka salah-salah mencet huruf di tepi screen-nya — apalagi untuk jempol segede punya saya. Saya tidak cukup sabar dengan GPS-nya yang lambat memutuskan saya ada di ujung bumi sebelah mana. Fungsi yang menyenangkan mungkin WiFi dan koneksi GSM-nya sendiri (ya eyalah kalau ga bisa jadikan ganjal pintu aja).

Android Froyo. Saya belum menemukan killing apps yang memaksa saya beli sebuah tablet Android (seperti ketika saya beli BlackBerry karena peer factor adanya BBM). Kebanyakan di Android Market masih menyediakan aplikasi untuk smartphone yang belum diadaptasi untuk tablet. Bahkan Uber Social atau TweetCaster pun tidak menarik. Mungkin seperti problem Linux pada umumnya, Android yang dikirim gratis oleh Google ini menghadapi masalah standardisasi dan keseriusan dalam penggarapan aplikasi. Maksud saya, aplikasi gratis rata-rata dibuat tidak serius alias asal jadi. Berbeda dengan aplikasi-aplikasi Apple yang harus membayar, tetapi user mendapatkan kepuasan penuh dalam pemakaiannya.

Seminggu saya memakai Vandroid, aplikasi yang saya pakai adalah GMail dan Google Docs yang berjalan dengan baik. Saya belum menemukan aplikasi pengamat pasar saham IHSG yang bagus. Saya memakai TweetCaster untuk ngetwit. Saya memakai Yahoo! Messenger, yang ternyata lebih menyenangkan daripada Y!M di BlackBerry. Saya coba install Angry Birds, tapi ternyata saya sudah bosan dengan game ini (pada dasarnya saya tidak suka nge-game). Satu-satunya aplikasi yang cukup berguna adalah DJView Viewer. Ini aplikasi pembaca e-book berformat djvu, format yang digunakan di Api di Bukit Menoreh yang sampai sekarang belum selesai saya tamatkan. Cukup menyenangkan untuk membacanya daripada di Kindle, karena tinggal download dan langsung baca.

Wrap Up

Kesimpulannya, untuk sebuah tablet dua juta, Vandroid cukup affordable dengan segala keterbatasannya. Cukup untuk memenuhi kebutuhan. Tapi saya sendiri jika punya duit nganggur — artinya budget unlimited — eh, semua orang juga pengen punya budget unlimited. Ralat. Katakanlah jika saya punya duit dan butuh sebuah tablet, saya akan masih memilih Samsung Galaxy Tab demi mengejar kenyamanan pakainya. Atau malah, saya akan memilih iPad dengan alasan aplikasi-aplikasinya lebih mature dan kenyamanan pakai yang terbaik di kelas tablet PC.

Official homepage Vandroid ada di sini, kalau-kalau ingin lihat detailnya.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

12 thoughts

  1. ngeng nging ngeng.. jangan berharap banyak dengan tablet 2 jutaan bro.

    saya aja waktu beli ZTE Light Tab berfikirnya cuman gini:
    -bisa buka browser yang lebih lega dari HP tapi lebih kecil dari iPad supaya mudah dibawa, untuk mengeksekusi transaksi di mana aja
    -bisa cek email saya yang semuanya berjalan di gmail secara lega, bukan hanya text
    -bisa wifi tethering (supaya langganan internet mobile hanya 1 aja buat di bebeberapa gadget)

    buat angry birds versi yang rio aja udah berat, memory tidak bisa dibesarkan, kalo dibesarkan bisanya hanya buat nyimpen data, gak bisa buat nyimpen aplikasi, kecuali jika di-root (dan saya gak suka modif, jadi gak root2an)

  2. Whuahaha.. mas..mas.. aku koq ngakak ya baca rviewmu ini :))

    Cukup objektif. Walau sptnya trasa ada yg ‘ditahan’ jd gak keluar semua :p *ngebayangin prasaan temen mas Galih yg maksa utk ngasi review*

    Untuk sekedar gegayaan sih lumayan kali ya.. :p

    1. Haaa? Maksudnya aku ngreview-nya terlalu memperlihatkan kelemahannya begitu de’? Bener, kalo buat gaya cocok soalnya dibungkus sampul kulit yang bagus, jadi ga bakal kelihatan merek-nya apa. Sudah dicoba pas nongkrong di Coffee Bean, hehehe…

      *Buat Emily, maap ya mil kalo terlalu jujur :mrgreen:

    1. Hehehe, agak susah nulis review produk biar ga dikira paid review (soalnya paid review hampir selalu iklan dan sukar dipercaya pembaca). Harganya sekitar 2 s.d 2,5 juta, baterai-nya tahan seharian penuh, sekitar 12-17 jam lah kira-kira.

  3. gini ya mas galih, menurutku sih ga masalah paid review atau bukan. tapi bagaimana seorang blogger itu bisa menginformasikan sesuatu itu dengan menarik sehingga temen2 yang membaca bisa mendapat info tentang sesuatu tersebut sehingga bisa menjadi pertimbangan untuk membeli atau mencoba menggunakan.

    termasuk postingan mas galih yang ini, terlepas dari karena dapet gratis, ya galih sudah menulis sesuai dengan apa yang dirasakan selama menggunakannya.

    lih lih, aku mau dong diminta review tablet ini *ditoyor* 🙂

    1. Mba Nike, tapi berapa banyak paid review yang objektif? Aku pun tidak yakin bisa review dengan objektif kalau misalnya ini adalah paid review. Blogger memang seharusnya tetap independen sebagai alternatif informasi yang lebih original dan lebih apa adanya.

      Serius? Aku bilangin ke temenku itu ya? Dia pasti seneng dapat review dari seleb blog. Lumayan lho dipinjeminnya dua minggu heuheuheu… :mrgreen:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *