Krisis Yunani dan Eropa, dalam Penjelasan Sederhana

Tidak mudah menjelaskan sebab musabab terjadinya krisis moneter di sebuah negara karena banyak sekali faktor yang saling berkaitan. Ini juga sama sulitnya dengan keputusan mem-bail-out Bank Century, misalnya, karena banyak faktor yang saling kait mengait dan saling berantai — benar atau salahnya keputusan tersebut tergantung siapa yang beranalisa dan berkepentingan :). Tetapi pada intinya, sebuah krisis ekonomi selalu kait mengait.

Krisis Yunani, dan Eropa pada umumnya, bisa dijelasin dengan mudah: karena terbelit hutang! Titik. Hutang yang jatuh tempo juga menghancurkan Indonesia di tahun 1997-1998.

Dalam teori anggaran, ada beberapa pendekatan yang bisa dipakai pemerintah suatu negara untuk membuat ekonomi berjalan efektif dan berkembang. Yunani memakai pendekatan defisit anggaran yang sangat agresif untuk pembiayaan keuangannya. Gampangannya begini, saya punya gaji sejuta. Gaji saya hanya cukup untuk membiayai biaya operasional bulanan saya. Secara ekonomi, saya tidak bisa berkembang karena tidak ada dana mengembangkan aset (bisnis, investasi, dll). Karena itu saya menganggarkan dana tambahan untuk modal bisnis dan investasi. Dari mana defisit anggaran itu harus ditutup? Ya saya ngutang. Dalam hal suatu negara, mereka menerbitkan surat utang, atau government bonds (obligasi). Kalau di sini kira-kira sama dengan ORI atau sukuk.

Hutang tidak selamanya buruk. Terbukti dengan strategi anggaran seperti itu, Yunani mampu berkembang lebih cepat dibanding negara-negara tetangganya. Perekonomian Yunani tumbuh melesat dalam kurun waktu 2000-2007. Tapi peningkatan utangnya juga meningkat tak terkendali, tahun 2010, rasio utangnya (terhadap Pendapatan Domestik Bruto – PDB) mencapai 142%. Gila nggak tuh?

Karena semikian besarnya utang, lembaga-lembaga keuangan dunia mempertanyakan kemampuan Yunani. Oh iya, jadi di dunia ini ada lembaga tukang menilai kualitas kemampuan bayar semua negara dan perusahaan di seluruh dunia. Contohnya ada Fitch, Standard and Poor’s, dan Moody. Nah, si Yunani ini obligasinya dicap sebagai junk bond. Dengan kata lain, potensi mampu bayarnya sudah sedemikian rendah. (Ya gila aja rasio utang 142% gimana cara bayarnya?). Bandingkan dengan level Indonesia yang masuk investment grade, atau negara layak sebagai tujuan investasi.

Nah, dan krisis pun dimulai.

Terus kenapa jadi berantai dan bikin Eropa mabuk? Bayangkan Yunani punya utang ke Italia misalnya, lalu gagal bayar. Si Itali, yang kadung mengandalkan duit kembalian untuk bayar utang ke Spanyol, jadi gak bisa bayar hutang saja. Spanyol akhirnya kalang kabut juga, wong dia sedang ditagih sama si kaya Jerman. Jerman tidak bisa menggerakkan roda ekonominya karena uangnya tidak kembali, akhirnya perekonomian melambat. Ekspor barang tidak ada yang mau beli. Perusahaan lama-lama bangkrut karena beban operasional. Akhirnya terjadi PHK. Dan seterusnya…

Lha, sebelum keadaan semakin parah, datanglah dokter yang berusaha mengobati penyakit ini. Namanya IMF. Obatnya bernama dana bail out. Namun dia sendiri tidak bisa dengan mudah menuliskan resep yang manjur. Bail out yang sukses jika efeknya juga berantai. Dari kasus di atas, bail out akan sukses jika Yunani bayar utang ke Itali, Itali kemudian menyetorkan dananya ke Spanyol, lalu Spanyol bayar utang ke Jerman. Usut punya usut, dana IMF ini ternyata dari Jerman juga, mbulet kan? Tapi everybody happy karena semua hutang telah terbayar. Sebaliknya, bail out akan bermasalah jika hanya Itali dan Spanyol yang selamat, sedangkan Yunani tetap saja punya hutang besar.

Kenapa Efeknya Sampai Indonesia?

Sektor yang paling rentan kena dampak adalah sektor keuangan seperti pasar saham dan obligasi. Sebagai salah satu negara emerging market, BEI adalah salah satu bursa favorit investor asing. Ketika negaranya sendiri mengalami krisis, tentu saja mereka memilih menarik investasinya untuk menyelamatkan perekonomian negaranya. Ketika arus investasi mengalir keluar, pasar modal akan bergejolak, dan lagi-lagi, segera berimbas ke sektor lain. Contoh yang paling dekat adalah nilai tukar rupiah yang akan melemah. Dan nilai tukar akan berdampak langsung ke sektor riil. Jadi kata siapa pasar modal hanyalah meja spekulasi? Pasar modal adalah salah satu komponen penting dalam perekonomian suatu negara.

Disclaimer

Tentu saja penjelasan ini terlalu banyak hal yang dilewati dan disederhanakan, sehingga mungkin informasi yang ada di sini tidak terlalu akurat. Saya hanya mencoba membuat analogi sesederhana mungkin bagaimana sebuah krisis di Eropa bisa berdampak kemana-mana. Data-data diambil dari berbagai sumber, terutama dari Wikipedia dan majalah Investor edisi Desember 2011.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

9 thoughts

  1. Naah, ini penjelasan yg saya cari..
    sekarang jd paham deh.. Selama ini penjelasan yg ada slalu ‘njlimet’ malah smakin bingung jadinya…

    Thanks ya Mas Galih, sukses terus blognya..
    oia, saya follow twitnya ya mas.. thanks..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *