Review: Perjalanan dan Ajaran Gus Miek

Judul Buku: Perjalanan dan Ajaran Gus Miek
Penulis: Muhammad Nurul Ibad
Jumlah halaman: 336 halaman
Penerbit: Pustaka Pesantren

Seperti yang saya ungkapkan di awal, bahwa tidak banyak yang tahu siapa KH. Chamim Djazuli. Tapi buat yang tinggal di Jawa Timur, khususnya di karesidenan Kediri dan sekitarnya, nama Gus Miek dikenal sebagai kiai yang kharismatik (meskipun saya tidak terlalu yakin anak-anak muda kelahiran 90-an ke atas masih mengenal nama beliau).

Nah, buku yang saya temukan di book fair Istora Senayan ini membahas biografi Gus Miek yang ditulis oleh seorang penulis yang merupakan santri pesantren: Muhammad Nurul Ibad. Saya cukup terkejut kalau penulis menutup kata pengantarnya dengan menyebut lokasi Sambijajar, sebuah desa di Tulungagung — tempat saya lahir dan dibesarkan sebelum merantau di Surabaya dan Jakarta sekarang ini.

Sufi yang Kontroversial

Metode dakwah Gus Miek memang berbeda dari kebanyakan, mengingat area dakwahnya adalah pusat perjudian, pelacuran, hotel dan bar, diskotek, dsb. Karena itu kelakuannya bisa dipandang menyimpang jauh dari syariat yang dibenarkan seperti terlihat tidak pernah sholat, berjudi, minum-minum, dll. Tetapi itulah metode dakwah beliau yang efektif. Membubarkan bandar judi dari dalam dengan membangkrutkannya. Tentu saja metode ini mengundang kontroversi dari kiai-kiai lain yang memegang teguh syariat sebagai harga mati.

“Biar nama saya cemar di mata manusia, tapi tenar di mata Allah. Apalah arti sebuah nama. Paling mentok, nama Gus Miek hancur di mata umat. Semua orang yang di tempat ini (tempat maksiat) juga menginginkan surga, bukan hanya jamaah saja yang menginginkan surga. Semua orang yang berada di sini juga menginginkan masuk surga. Tetapi, siapa yang berani masuk, kiai mana yang berani masuk ke sini?” kata Gus Miek penuh emosi.

— Halaman 287

Pendiri Jantiko Mantab

Jantiko adalah majelis baca Al-Qur’an secara bergantian dari setelah Subuh hingga ditutup setelah Isya’. Jantiko ini didirikan tahun 1986 oleh Gus Miek karena keprihatinannya bahwa Al-Qur’an,¬†sebagai ajaran paling suci dalam Islam, kini telah mulai hilang gaungnya di masyarakat sejak pesatnya perkembangan acara televisi. Menggalakkan membaca Al-Qur’an usai shalat Maghrib hingga menjelang Isya’ adalah salah satu misi Gus Miek.

Betapa benarnya hal itu. Berapa banyak dari generasi muda muslim sekarang yang mengisi waktu antara Maghrib dan Isya’ dengan ibadah? Saya kebanyakan masih berjuang menyibak kemacetan Jakarta, atau malah masih duduk mencangkung di depan komputer menyelesaikan pekerjaan yang masih tersisa. Jangankan mengaji Al-Qur’an, membacanya pun sudah tidak sempat. Keprihatinan Gus Miek itu terjadi di saat televisi baru TVRI saja, bagaimana jadinya kalau beliau mengetahui kondisi umat muslim jaman sekarang….

Dari mana asal kata Jantiko itu juga menarik ternyata. Jantiko adalah kepanjangan Jamaah Antikoler. Antikoler artinya tidak pernah mogok, diambil ketika santrinya punya mobil tua yang bahan bakarnya minyak tanah. Gus Miek bertanya apakah nggak mogok mobil itu, santrinya menjawab, “Mobil ini antikoler gus, nggak pernah mogok”.

Pengorbanan dan Penyerahan Total untuk Umat

Hal yang mengharukan adalah kenyataan bahwa Gus Miek hampir tidak pernah waktu untuk keluarga. Hidupnya selalu berpindah-pindah dari Tulungagung Kediri Trenggalek Blitar Surabaya Boyolali Yogyakarta Semarang bolak balik untuk berdakwah dari tempat maksiat satu ke tempat maksiat yang lain. Menginap di terminal-terminal. Pernah beliau tujuh bulan tidak menengok keluarganya. Waktu dan hidupnya digunakan untuk berjuang untuk membimbing umat.

Bahkan di saat-saat terakhir hidupnya pun, di saat kanker ganas menyerang tubuhnya, ia tak juga bisa menikmati kesendirian barang sejenak. Gus Miek yang melarang keras untuk dijenguk keluarganya akhirnya dijenguk karena santri pengikutnya tidak tahan menanggung kesedihan untuk menyampaikan berita itu.

*

Demikianlah buku ini diketengahkan oleh penulis untuk mengisahkan perjalanan dan ajaran Gus Miek sebagai seorang kiai yang menyerahkan hidupnya secara total untuk berdakwah. Seluruh dunia pun dengan izin-Nya bisa digenggam, tetapi beliau memilih hidup menderita ketimbang hidup nyaman sebagai putra kiai besar.

Metode penulisan buku ini dilakukan dengan melakukan studi pustaka dan menggali informasi dari orang-orang terdekat Gus Miek. Cerita-cerita yang diketengahkan berdasarkan dari apa yang dituturkan langsung oleh orang-orang dekat Gus Miek, yang penulis sebut sebagai metode yang mirip dengan penulisan hadist nabi.

Pada akhirnya, buku ini menurut saya adalah buku yang sangat bagus yang membuka tabir misteri kiai tradisional yang kharismatik (bahkan dengan membaca bukunya saja saya merasa lebih dekat dengan Gus Miek), penyerahan total kepada umat untuk perjuangan mengibarkan panji-panji agama Allah. Buku ini tidak akan pernah jadi best seller, namun saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca jika Anda menemukannya.

Al-Fatihah kagem¬†Gus Miek…

Published
Categorized as Review

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *