Leveraging, Apa sih Maksudnya?

Salah satu istilah keren-dan-kedengaran-akademis-banget di bidang keuangan yang saya pelajari di bangku kuliah adalah leveraging. Leverage. Kayaknya kalau sedang ngomong ekonomi dan disisipi kata-kata leverage kedengarannya keren dan intelek begitu. Tapi sebenarnya apa sih leveraging itu? (embuh…)

Leverage artinya pengungkit. Jadi leveraging adalah menggunakan alat untuk mengungkit sesuatu agar naik. Dalam hal investasi, leveraging adalah cara untuk memperbesar potensi imbal hasil aset dengan menambah modal dengan cara pinjaman. Halah, jadi artinya leveraging itu sama dengan ngutang toh? Hmm… kira-kira mirip begitu lah, tapi ada perbedaannya, hehehe…

Mari saya jelaskan dengan contoh, meskipun pada dasarnya leveraging adalah utang, tetapi utang ini digunakan sebagai usaha untuk memperbesar aset investasi tersebut.

Hutang KPR adalah salah satu contoh leveraging yang paling umum. Hanya dengan sekitar 30% dari nilai aset, kita sudah bisa memilikinya. Dan ini aset yang berkembang terus nilainya dari waktu ke waktu. Leveraging macam begini lah yang bikin Amerika kolaps di tahun 2008 kemarin dengan kasus subprime mortgage-nya.

Di pasar modal, pialang kita selalu mengizinkan investor untuk melakukan transaksi melebihi modalnya. Ini disebut margin trading (secara syariah dilarang). Jika kita punya modal 25 juta, maka kita bisa bertransaksi bisa mencapai 100 juta. Tentu saja ada biaya bunga yang dibebankan — seperti hutang-hutang lainnya. Tetapi lihat faktor pengungkit-nya, leverage-nya, bisa sampai 4 kali modal awal.

Akhir-akhir ini, investasi dalam bentuk emas (logam mulia) menjadi sangat populer (sehingga nyaris terjadi bubble effect kemarin). Mungkin anda mengenal istilah berkebun emas? Ini juga salah satu bentuk leveraging, menggadaikan emas untuk dibelikan emas lagi dan begitu seterusnya. Kenapa leverage? Karena di situ ada komponen biaya gadai. Dan faktor pengungkit itu untuk memperbesar nilai aset investasi logam mulia.

Leveraging juga umum dalam sebuah perusahaan untuk menjalankan roda usaha, misalnya dengan hutang dari bank atau investor. Uang tersebut diputar untuk memperbesar nilai aset dan kekayaan perusahaan tersebut. Begitu seterusnya hingga menjadi besar. Faktor pengungkit.

Kalau salah satu leveraging adalah dengan cara hutang, apakah hutang konsumtif juga termasuk leveraging? Tentu saja tidak. Dengan melihat contoh-contoh saya di atas, selalu ada sesuatu yang berusaha diungkit untuk menjadi besar. Untuk mengungkit aset investasi, kekayaan, dan perusahaan. Kalau hutang konsumtif, tidak ada yang bisa diungkit karena nilai aset yang dibeli terus menurun. Bahkan akan ada biaya penyusutan di sana. Oleh karena itu, meskipun kebanyakan cara leveraging adalah dengan hutang, tidak selalu hutang adalah leverage.

Demikian kuliah Finance singkat dari sayah. Semoga tidak bingung, hahaha…

PS: Nah, di sini saya menyisakan beberapa istilah asih kayak bubble effect, subprime mortgage, apakah itu? Kalau ada kesempatan saya jelaskan lagi biar kita lebih melek dan nyambung kalau mengikuti berita ekonomi dan keuangan. 🙂

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *