Buku Tentang Gus Miek

Tidak banyak orang yang tahu siapa KH. Hamim Jazuli atau yang lebih akrab dipanggil Gus Miek. Tetapi di Jawa Timur, nama Gus Miek sangat melegenda sebagai salah seorang wali, kiai, dan tokoh penting NU yang — seperti kiai-kiai NU lainnya — kharismatik. Budaya sema’an dalam Jantiko Mantab masih tetap lestari sampai saat ini. Oh iya, sema’an adalah membaca dan menyimak Al-Qur’an yang dimulai setelah subuh sampai dikhatamkan menjelang maghrib. Tiga puluh juz dalam 12 jam, kebayang nggak kecepatan bacanya? hehe… Setiap kiai di langgar di kampung saya sudah pernah menggelar Jantiko Mantab ini (maklum, 97% ustadz di kampung saya adalah lulusan ponpes NU).

Demikian pula dengan jama’ah Dzikrul Ghofilin. Setiap malam tertentu setiap bulan, pakdhe saya selalu ikut rombongan ziarah di makam Gus Miek, untuk berzikir semalam suntuk di makamnya di Kediri Jawa Timur.

Oleh karena itu, waktu saya menemani #perempuanmanisberkerudungnamunsayangnyasudahibuibuanaksatu seharian di Jakarta — ketika di Book Fair saya menemukan buku ini, tanpa pikir panjang saya ambil dua judul buku sekaligus soal Gus Miek. Buku itu tidak akan pernah populer sehingga akan ditemukan di Gramedia. Dan nyatanya memang begitu, saya langsung dikomentari sama #ibuibuanaksatuberlesungpipititu bahwa bacaan saya “politik” sekali. Mungkin karena ada foto Gus Dur di sana. Sebenarnya tidak, buku itu adalah semacam biografi Gus Miek dan gaya leadershipnya. Dan saya penasaran apa yang membuat nama beliau begitu melegenda di Jawa Timur.

Saya baru sempat membaca beberapa halaman pembukaannya, nanti kalau ada waktu, saya akan menuliskan review dan resensinya di sini.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

4 comments

Leave a Reply to grahaguna Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *