Tentang Dana Cadangan

Dana cadangan, atau dana darurat, adalah sesuatu yang sering kita dengar dalam pengelolaan keuangan pribadi. Seperti namanya, dana ini digunakan sebagai jaga-jaga di saat keadaan darurat, di saat tiba-tiba butuh uang mendadak. Dengan begitu, orang tidak perlu mencairkan investasinya yang belum saatnya dipanen, atau jual fixed assetnya (dengan keterangan “Jual Cepat, Butuh Duit”), atau bahkan harus hutang ke orang lain.

Setiap orang memerlukan dana darurat karena saat darurat itu tidak ketahuan kapan akan datang. Orang bisa saja tiba-tiba jatuh sakit (jabang bayik doh doh o sing adoh), mendapatkan musibah, atau tiba-tiba kena PHK, dll. Tentu saja semua itu tidak diinginkan, tetapi kalaupun terjadi sudah diantisipasi. Dana darurat adalah sebagai proteksi agar perencanaan keuangan dan cash flow tidak terganggu.

Nah, seberapa besar dana darurat? Tidak ada rumus yang baku, tetapi biasanya diperbandingkan dengan jumlah pengeluaran kali sekian. Berapa faktor pengalinya? Bebas juga. Tetapi mari berandai-andai. Jika kita di-PHK secara mendadak, sampai berapa bulan kita akan mendapatkan pekerjaan baru lagi? Nah, selama jeda waktu nganggur itulah kita harus bisa hidup dengan dana darurat. Jika dalam waktu sebulan sudah bisa dapat, ya berarti dana daruratnya sekali pengeluaran bulanan. Besaran dana darurat saya adalah sekitar enam kali pengeluaran.

Disimpan dalam Bentuk Apa Dana Darurat?

Pokoknya liquid, bisa dicairkan segera dan kapan saja. Saya menyimpannya dalam tabungan terpisah, dalam rekening yang terpisah dengan rekening yang untuk lalu lintas cash flow. Deposito masih boleh lah.

Bagaimana dengan logam mulia? Karena LM termasuk instrumen investasi, maka saya tidak terlalu merekomendasikan untuk dijadikan dana darurat. Karena nilainya juga fluktuatif. Emas kan susah turun? Kata siapa? Lihat kinerja harga logam mulia selama sebulan terakhir. Sedang turun banyak! Kan sayang kalau dijual rugi. Lah, tabungan biasa kan bisa digerus inflasi? Karena itu juga lah besarannya jangan terlalu besar.

Nah, setelah dana cadangan beres, barulah boleh berinvestasi. Karena investasi itu pahit kawan, jangan bayangin return-nya saja. Saham dikatakan sebagai instrumen produk keuangan yang paling berisiko sekaligus paling besar return-nya, bisa mencapai 40%. Tapi biasanya orang lupa risiko-nya. Sekarang ini, salah satu saham saya return-nya -11%. Kinerja IHSG juga cuma 2% setahun ini. Jauh di bawah nilai deposito. Oleh karena itu keberadaan dana cadangan atau dana darurat dalam jumlah yang cukup sangat diperlukan.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *